Perubahan susunan formasi pada suatu band kerap kali justru mendatangkan ide atau konsep musikal yang lebih segar. Seperti yang dialami Rage of Caliban (ROC), unit cadas asal Yogyakarta, Jawa Tengah ini. Di lagu “Loneliness”, single terbarunya yang diperkuat formasi Bintang (vokal), Dill (gitar), Daniel (bass) dan Koko (dram), mereka justru berhasil menemukan formula baru yang berbeda dibanding “Hercules” dan “Bullshit Mouthshit”, dua single yang pernah mereka rilis sebelumnya. Dan rencananya, kedua single tersebut bakal didaur ulang untuk mengikuti formula musik ROC yang baru.
“Akan ada tantangan saat remake lagu lama, karena genre ROC yang sebelumnya berbeda dengan yang sekarang. Supaya tahu lagu lama kami, bisa dicek di Youtube, Soundcloud, dan Reverbnation,” seru pihak ROC kepada MUSIKERAS, mencoba memberi perbandingan.
ROC yang terbentuk pada Juli 2015 lalu, awalnya dihuni oleh vokalis Bintang – yang ingin membuat proyek band serius yang tidak ‘sekali perform bubar’ – yang lantas mengajak Yodhi (dram), Daniel (bass), Ales (kibord), Lewe (gitar) dan Deddy (gitar). Saat itu, mereka mengedepankan formula musik whatevercore, istilah yang digunakan untuk mengakomodasi berbagai genre favorit para personelnya. Namun setelah menghasilkan lagu “Hercules” dan “Bullshit Mouthshit”, mulai terjadi bongkar pasang personel. Ales, Lewe, Deddy dan Yodhi mengundurkan diri dan masuk personel baru, Dill dan Koko dari band After the March.
Nah, dengan perubahan formasi tersebut, ROC pun mengarahkan konsep musiknya ke arah yang lebih ‘easy listening’ dengan adanya unsur clean vocal. Seperti yang terdengar di lagu “Loneliness”.
“Pertama kali membuat ‘Loneliness’ ini, kami sempat bingung mau dibuat gimana. Akhirnya setelah beberapa hari berkumpul dan mematangkan materi, kami coba membuat demo sementara di kos teman baik kami, Angga dari From Evening To Morning. Materi kami baru setengah, kami pun mencoba mendengarkan materi tersebut ke beberapa teman. Lalu ada teman baik kami yaitu Kornelius Steven a.k.a Acong dari Eternal Desolator (Purwokerto), dan dia mengatakan sesuatu, yang saya dan teman-teman ROC pun menyadarinya. Acong pun bersedia dengan senang hati membuatkan materi untuk ROC karena dia orangnya terlalu seloww… hmmmm… thank you Acong, hahaha. Dari musik yang sudah dibuat oleh Acong, gitaris kami Dill dan dramer kami Koko pun mencoba mengaransemen sedikit musiknya, dan jadilah ‘Loneliness’ yang sekarang,” ungkap pihak band mengenang.
“Loneliness” sendiri direkam di Army Kid Record, milik Mas Bangkit – begitu para personel ROC memanggilnya. Menurut mereka, banyak cerita menarik saat mengeksekusi rekamananya. Dimulai dari Bintang yang rela tidak minum es dan tidak makan makanan berminyak selama seminggu sebelum rekaman. Mereka juga semapt didera masalah double pedal, serta beberapa masalah lainnya. Sementara untuk proses mixing dan mastering mereka percayakan pada Aji dari Eternal Desolator, teman duet Acong. Karena proses pengolahan lagu dilakukan dari jarak jauh, yakni Yogyakarta-Purwokerto, maka proses request efek dan lain-lainnya dilakukan hanya melalui aplikasi Whatsapp di ponsel.
“Formula musik kami buat sesuai kenyamanan kami sendiri, dan diarahkan oleh Acong yang telah membuat musiknya. Lirik dari ‘Loneliness’ berdasarkan pengalaman pribadi, jadi ada kesan tersendiri saat membawakan lagu ini. Untuk dram dan gitar dibuat sesuai dengan part favorit personel. Daniel sebagai bassis juga menikmati musik yang seperti ini, dan ada juga bagian dimana dia bernyanyi dengan suara scream.”
Jika harus menarik benang merah referensi, para personel ROC menyebut Polaris (band dari Australia) serta Blessthefall (AS) sebagai acuan utamanya.
Setelah “Loneliness”, mulai Januari 2019 mendatang, ROC bakal memulai menggarap aransemen baru untuk lagu “Hercules” dan “Bullshit Mouthshit” serta dua lagu baru tambahan untuk kebutuhan album mini (EP) yang rencananya dirampungkan pada pertengahan 2019. (mdy/MK01)
.
😍😍😍