Selamat Datang di Dunia Gelap CROWS AS DIVINE

Crows As Divine sedang sangat bersemangat. Hanya terhitung sekitar delapan bukan sejak melepas album debut “Exaggeration”, unit metal ekstrim/deathcore asal Jakarta ini langsung tancap gas lagi untuk menggarap materi album keduanya. Hasilnya, tahun depan yang tinggal beberapa langkah lagi, bakal menjadi momen perilisannya. Album terbaru tersebut bertajuk “Sermons Of Infinite Horror”, dan rencananya memuat 12 amunisi berbahaya yang digeber dengan konsep yang lebih gelap dibanding “Exaggeration”.

Sebagai pemanasan, Crows As Divine telah merilis sebuah video musik untuk single pertamanya, “Genuflexion”, dimana mereka menyuguhkan kontur musik baru, terutama dari pola ketukan dram yang lebih agresif, plus konsep lirik yang lebih tajam. Kurang lebih seperti “Evil Will Prevail”, single Crows As Divine di 2016, “Genuflexion” juga mengambil tema kegelapan. Hendro Prasetyo Wibisono – atau yang kerap disapa Pras – sebagai vokalis dan penulis lirik menggambarkan keadaan terbalik, dimana kejahatan akan selalu menang dan kebaikan akan selalu kalah. “Genuflexion” mengerucut dimana kegelapan akan menyelamatkan kita semua dari segala beban masalah yang ada di dunia, karena warna yang selalu ada ketika cahaya menghilang adalah hitam.

Pras juga menulis “Sermons Of Infinite Horror” hasil dari gabungan kata ‘sermons’ yang berarti ‘khotbah atau ceramah’, ‘infinite’ yang berarti ‘kekal atau abadi’ dan ‘horror’ yang bermakna ‘ketakutan atau kengerian’. Dan sesuai judul itu, tema lirik di konsep album “Sermons Of Infinite Horror” memang berisikan teriakan-teriakan tentang misantropis, depresi, amarah, seks, narkoba, agnostik dan politik.

“(Tapi ini) Bukan karena tuntutan genre deathcore loh ya, yang identik dengan neraka, kematian dan setan. (Tema itu) akan menjadi warna baru untuk kami. Untuk mengimbangi konsep lirik Pras yang lebih dark, Agil (Asyathiri, gitaris) mengaransemen lagu-lagu baru sesuai konsep lirik. Agar pesan lirik bisa diterima pendengar,” sergah pihak band kepada MUSIKERAS, membela diri.

Oh ya, proses penggarapan “Genuflexion” sendiri menghabiskan waktu selama dua bulan, demi mendapatkan hasil yang lebih detail dan serius. Juga sekaligus menjadi momentum adaptasi dengan formasi baru, yang kini menyatukan Pras, Agil, Fauzzamalaudin Tamanbali (bass) dan Herru Setiawan (dram). Dan adanya pergantian formasi tentunya juga membawa pengaruh besar dalam pengonsepan musiknya.

“Tetapi, Crows As Divine tidak akan menghilangkan karakter dari lagu-lagu lamanya di dalam pengonsepan aransemen baru. Musik yang ada di dalam ‘Sermons Of Infinite Horror’ nantinya akan dapat lebih mudah diterima pendengar, karena aransemen yang tidak terlalu rumit. Hanya saja dari pola ketukan drum yang sedikit lebih progresif, pattern gitar yang dapat mudah diingat, dan hook vokal yang mudah dicerna. Inspirasi musik personel Crows As Divine kali ini berbeda-beda, kami campur menjadi satu, (di antaranya dari) Despised Icon, Thy Art Is Murder dan Meshuggah.”

Setelah terbentuk pertama kali pada awal 2015, tidak sampai setahun Crows As Divine pun berhasil menelurkan sebuah album mini (EP) bertajuk “Sovereignty Of The Lions”, lalu disusul album “Exaggeration” pada Maret 2018. Album “Exaggeration” sendiri memuat delapan lagu, di antaranya “Taring”, “Martyrs Blood” serta “Embrace the Darkness” yang menghadirkan vokal Daniel dari Deadsquad. (mdy/MK01)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.