Dengan “Kelasi” yang Psikedelik, AWAK KAPAL Kembali Berlayar

Setelah single “Apa Maksudnya?” yang diperdengarkan pada Januari 2019 lalu, Awak Kapal kembali mengembangkan layar. Sebuah single baru bertajuk “Kelasi” telah mereka bentangkan di berbagai platform jasa dengar musik digital (streaming) sejak 20 Februari 2020.

Tanggal perilisan tersebut dipilih karena angka ’20’ melambangkan malaikat yang menjadi pertanda sebuah awal mula. Selain itu, tanggal tersebut merupakan ‘angka cantik’, dengan formula yang tak terlupakan yaitu 20/02/20, yang mudah diingat sehingga bisa dijadikan momen bersejarah bagi lagu yang penuh makna bagi Awak Kapal.

“Kelasi” sendiri menawarkan alunan nada dari Awak Kapal yang lebih kompleks dalam segi instrumentasi serta tuturan lirik sarat makna. Atau dengan kata lain, unit band bernuansa blues, rock, psikedelik yang terbentuk sejak 2017 di Jakarta tersebut telah melahirkan sebuah karya yang diklaim mampu merangsang pendengarnya untuk berfantasi. Lantas penggunaan instrumen di lagu ini disebut lebih diperkaya dengan perlakuan mixing dan mastering yang lebih baik dibandingkan single sebelumnya.

“‘Kelasi’ terdiri atas banyak elemen musikal seperti dangdut dan psychedelic yang menjadikan notasi musiknya begitu kompleks. Inspirasi kami datang dari masing-masing personel yang menggemari jenis musik yang berbeda-beda,” tutur awak band kepada MUSIKERAS, lebih jauh.

Berawal dari aplikasi instrumen di ponsel menjadi titik awal proses kreatif penggarapan “Kelasi”. Lalu para personel Awak Kapal – yakni Fauzan Firdaus (vokal), Fajar Rifky (gitar), Guruh Wicaksono (bass) dan Rian Hidayat (dram) – membawa ide tersebut ke fase yang lebih serius.

“Kemudian (kami) lanjutkan, dibawa ke dapur rekaman kami yang sederhana (dan digarap) dalam jangka waktu empat minggu. (Selain itu) Kami (juga) sudah menyiapkan enam lagu dengan musik yang berwarna untuk dimasukkan ke dalam album mini (EP), namun masih dalam proses mematangkan materi dan komposisi.”

Awak Kapal adalah sebuah grup musik yang terbentuk karena didasari oleh visi yang sama di antara para personelnya, serta latar belakang selera musik yang majemuk. Awak Kapal terbentuk dengan kadar yang penuh akan perpaduan warna. “Dengan karya yang telah dibuat, kami membiarkan pendengar untuk menginterpretasikan sendiri sesuai apa yang pendengar inginkan. Kami adalah apa yang kalian ingin wujudkan.” (aug/MK02)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.