12 LAGU METAL TERBAIK INDONESIA 2020 Versi MUSIKERAS

Oleh @mudya_mustamin

.

Kesuraman yang menyelimuti sebagian besar kehidupan manusia sepanjang 2020 akibat terpaan pandemi, tidak menyurutkan lahirnya karya-karya rekaman metal bertaji. Tidak mudah memilah-milahnya menjadi (hanya) selusin lagu yang menurut kami terbaik di 2020 ini. Tapi setidaknya, karya-karya inilah yang kami anggap paling sukses menggerinda, mengombinasikan kreativitas yang nyaris tak bertepi, orisinalitas, keunikan serta tentu saja: kecadasannya!

Semoga sebagian besar lagu favorit kalian juga ada di deretan pilihan kami ini.

.

Empire Enforced (Death Vomit)

Seperempat abad usia karirnya membuktikan, trio mengerikan asal Yogyakarta ini adalah pejuang tahan banting di ranah ‘bawah tanah’. Sampai hari ini masih terus menggeram, lewat formula old-school death metal yang tangguh. Sedikit berubah di komposisi “Empire Enforced” ini, dengan terapan tempo yang lebih pelan, namun riff-riff ‘satanik’ yang menghipnotis menuju bagian akhir lagu adalah magnet tak terhindarkan di lagu ini.

Apokaliptika (Down For Life)

“Apokaliptika” merupakan wajah baru dari “Dead Shall Rise”, lagu yang sebelumnya sudah beberapa kali dimainkan Down For Life secara live di berbagai kesempatan manggung. Kini dilontarkan dengan konsep yang sedikit lebih heavy, lebih keras dan lebih kejam. Mencoba memaksimalkan batas barikade referensi musikal mereka, dimana pengaruh death metal dan black metal digolakkan bersama attitude hardcore.

This World Is Cursing Me (Fraud)

Ini salah satu penetrasi paling beringas yang terjadi di album “Sanctuary”. Penyampaiannya melampaui sekat-sekat hardcore, diangkat ke intensitas yang lebih ‘nendang’, dengan geberan riff-riff metalik yang lebih thrashy dan berdistorsi tebal, pekat dan terburai lebar. Sangat eksplosif!

Paranoid (Hellfreezed)

Sebuah tindak kekerasan metalcore yang menderu sejak awal lagu hingga akhir, yang nyaris tidak menyisakan ruang untuk menghela nafas. Seperti judulnya, lagu ini seolah memicu kepanikan. Brutal, teknikal, dan sarat bantingan groove yang dijamin bakal menjambak pendengar atau penonton di arena moshpit untuk headbang massal. 

Inquisition (Warkvlt)

Ganas, sadis, mencekam. Pengaruh kuat mantra band-band penganut black metal dunia seperti Bathory dan Marduk, yang lantas mengalami proses penggilingan bersama berbagai ramuan mistis yang melatar-belakangi para personel Warkvlt, menjadikan “Inquisition” terdengar sarat energi ‘satanik’. Ya, Warkvlt semakin gelap dan mengerikan di single ini! 

Balamaut (Hellcrust)

Tidak salah jika – dengan berani dan meyakinkan – lagu ini ditasbihkan sebagai persembahan khusus buat para ‘Balamaut’, sebutan untuk para pemuja unit death metal ini. Karena eksekusinya benar-benar memberondong maksimal. Seolah cuci gudang! Eksplorasi instrumentasi yang teknikal, pengolahan tata suara serta buncahan lirik di lagu ini tersiar rapi dan all-out, namun tanpa mengorbankan ‘roh’ kebrutalan dan kekejiannya. 

Diam (Rahasia Intelijen)

Keagresifan thrash metal dari era ‘90an dan kegesitan hardcore saling membentur di lagu ini, sekaligus menjadi nadi musik band asal Jakarta ini. Keseluruhan instrumentasi dibangun dengan dominasi distorsi serta struktur ritme padat dengan groove yang terjaga, plus dukungan geberan vokal misterius yang menggelora. Lagu yang dengan mudah menciptakan ‘pesta’ di moshpit.

Republik Rakyat Jelata (Sufism) 

Mengibarkan death metal yang sungguh-sungguh brutal dari kawasan Bandung Selatan sejak 2014 lalu. Lagu yang juga menjadi tajuk album penuh pertamanya ini dibuka dengan alunan tiupan suling yang menerbangkan bayangan kita ke suasana damai pedesaan selama hampir 50 detik. Lalu seketika, teror sesungguhnya berupa gelombang distorsi padat bergemuruh tiada henti menghantam keji tanpa ampun selama lebih dari dua menit.

Menang Atau Mati (Kudeta)

Lupakan latar belakang sensasi hidup vokalisnya. Di ranah musik cadas, Vicky Prasetyo adalah monster baru untuk urusan tarik suara. Pekikan seraknya di lagu ini berada di intensitas yang berbahaya, yang untungnya, juga mendapatkan perlawanan seimbang di lini instrumentasi. Bisa dibilang, ‘taman bermain’ band ini berada di wilayah metalcore, dengan eksekusi yang rapi dan teknikal.

Plague Bearer (Busuk) 

Sebenarnya, lagu ini merupakan salah satu dari 13 amunisi grindcore bertempo cepat yang termuat di album debut Busuk, “Worshipper”. Nah, sekujur karya rekaman tersebut memang digeber dengan intensitas tinggi, menggerinda selama hampir setengah jam. Dan “Plague Bearer” adalah kepingan dari keganasan bertubi-tubi tersebut. 

The Last Apparel (Killa The Phia)

Sejak menorehkan prestasi meyakinkan di ajang kompetisi “Supermusic Rockin’ Battle” pada 2017 lalu, kelompok pelantun metalcore asal Tanah Rencong, Aceh ini langsung terpatri di tengah bidikan teropong skena musik cadas Tanah Air. Salah satu energi muda yang mulai diperhitungkan sepak-terjangnya. Ya, Anda akan mencium sedikit bau darah Lamb of God di komposisi ini, tapi Killa The Phia mengeksekusinya dengan pendekatan musikalitas dan instrumentasi yang meyakinkan, plus buncahan lirik dengan tema yang sangat dekat dengan problema kehidupan beragama di Tanah Air.

Delusif (Tikam)

Target yang dikejar di lagu ini adalah karya rekaman yang to the point, tidak terjebak di kerumitan, namun tetap mudah dinikmati. Kenyataannya lebih dari itu. Lebih jauh, “Delusif” bahkan menggiring pendengarnya ikut merasakan menyusuri kegelapan gang-gang panas menuju neraka. Sebuah tikaman komposisi cadas yang horor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *