LAST BLOOD Mengutuk Aib di “Majestic Disgrace”

Terjangan pandemi yang berlarut-larut tidak mematahkan kuda-kuda unit cadas bentukan 2014 silam asal sisi Timur Jakarta ini. Energi kreativitas yang telah digelorakan sejak 2019 tidak surut dan bahkan terus memanas hingga hari ini. Dan sebagai buah dari kerja keras tersebut, mereka akhirnya memuntahkan sebuah single baru yang berbahaya bertajuk “Majestic Disgrace”. Lagu ini sekaligus didapuk sebagai judul album kedua Last Blood, yang proses penggarapannya sejauh ini sudah sekitar 90% menuju rampung.

“Majestic Disgrace” sendiri terinspirasi dari kisah nyata. Liriknya diolah berangkat dari kegelisahan para personel Last Blood terhadap perilaku orang-orang yang bermulut besar dan pembual yang banyak berimbas ke orang lain di sekitarnya. Perilaku itu dapat disebut ‘aib’ atau keburukan sifat manusia yang sudah menjadi bahan konsumsi di lingkungan sekitar. Aib tersebut seperti perilaku yang sering menjual janji dan menipu kepada banyak orang. Perilaku yang mungkin bagi sebagian orang dipandang sebagai hal yang remeh atau sepele namun untuk sebagian orang adalah masalah besar, bahkan dapat menyebabkan konflik berkepanjangan. Nah, keberadaan single “Majestic Disgrace” ini disebut Last Blood untuk menuntun para pendengarnya agar tidak berbicara tentang aib seseorang.

.

.

Atalan ‘Alan’ Wiratama (gitar), Yoga ‘Agoy’ Adystira Yusuf (dram), Fahrizal ‘Jalih’ Ahril Suryana (vokal), Tarsugi ‘Ugi’ (gitar) dan Malta ‘Doni’ Mayfredonia (bass) menggarap “Majestic Disgrace” jauh sebelum masa pandemi. Dan eksekusi rekamannya hanya membutuhkan waktu sehari, yang dilakukan di studio Venom, Jakarta.

“(Lagu ini) Direkam, dianalisa lewat versi latihan dan materi disempurnakan secara bersama-sama,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.

Dari segi musikal, “Majestic Disgrace” menerapkan konsep musik yang cenderung mengarah ke konsep metal modern. Mulai dari karakter sound serta pemilihan kord. “Untuk referensi, secara personal kami mempunyai referensi masing-masing dan tidak menutup atau pakem pada satu genre, jadi bisa dibilang mengalir dari masing-masing personal pada saat (menjalani) proses kreatifitasnya.”

Tapi jika dibandingkan dengan materi “Arus Liar”, album debut yang mereka rilis pada 2018 lalu, “Majestic Disgrace” dan lagu-lagu lainnya di album kedua nanti dianggap Last Blood sudah menerapkan karakter sound serta penggunaan kord yang lebih dewasa. “Karena proses dan pembelajaran dari album sebelumnya,” cetus mereka meyakinkan.

Sambil mempromosikan “Majestic Disgrace” dan melanjutkan perampungan rekaman materi album kedua, Last Blood juga telah mencanangkan beberapa program promo dalam format virtual. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *