Lewat “Aggravate”, LXDM Derukan Nafas Metalcore/Deathcore Bernuansa Etnik

Diterpa pergantian gitaris plus terjangan pandemi Covid-19 sempat membuat band asal Malang, Jawa Timur ini sempat goyah. Penggarapan single terbaru yang harusnya bisa dieksekusi dalam sebulan, akhirnya terbengkalai. Untungnya, pada Juni 2021 lalu, La Xavier De Mystelltain (LXDM) menemukan gitaris baru bernama Ninis Agung Wahyu Prayoga yang memperkuat formasi. Dan dalam waktu hampir enam bulan, karya rekaman terbaru mereka yang bertajuk “Aggravate” akhirnya bisa dirampungkan.

“Karena diperlukan adaptasi personel baru yang pastinya memberikan influence baru pada musik LXDM. Lagu ini kami buat dan direkam di studio milik label kami yang bernama Seizo Entertainment,” ujar pihak band kepada MUSIKERAS, beralasan.

“Aggravate” sendiri berbicara tentang jiwa manusia di ungkapan liriknya, membawa makna tentang sisi lain jiwa manusia yang memiliki keserakahan akan hal duniawi hingga lupa tentang keberadaan makhluk lainnya hingga mereka sanggup membumihanguskan mahluk lain, bahkan manusia lain untuk memenuhi jiwa keserakahan diri sendiri. Dan karena begitu sempurnanya Tuhan menciptakan manusia beserta jiwanya hingga manusia itu sendiri tidak sanggup membunuh hawa nafsunya, hanya bisa mengendalikannya saja. 

Dalam konteks musikal, kali ini LXDM yang dimotori Wendy Goerid Ernanta a.k.a. Wendi Bombril (bass), Romanus Eldi (vokal), Tony Teguh Shoreanto a.k.a. Toni Tom (kibord), Satriyo Wibowo Widya Pranoto a.k.a. Ryo Lee (dram) dan Ninis membumbui lagunya dengan distorsi tinggi, dengan entakan metalcore yang disandingkan dengan elemen etnik Indonesia. Juga dimasukkan dialog dari dalang yang berbicara dengan Tuhan untuk mematikan hawa nafsu yang akan menghancurkan untuk memberikan kesan dan makna yang lebih dalam pada lagu ini.

.

.

“Dari segi musikal pada lagu ‘Aggravate’ ini mengusung genre metalcore yang dibalut dengan nuansa musik ethnic Indonesia dan piano semi gothic. Untuk refrensi kami terinspirasi dari band metalcore atau deathcore seperti Saving Vice, Chelsea Grin, Before I Turn dan If I Were You.” 

Sebelumnya, pada Oktober 2020 lalu, LXDM telah merilis single debut berjudul “Considered Insane”. Jika dibandingkan dengan “Aggravate”, ada perbedaan mencolok di terapan konsep musikalitasnya. Misalnya dari sektor gitar, “Considered Insane” masih menggunakan gitar bersenar tujuh, sementara di “Aggravate”, mereka mulai mengeksplorasi gitar bersenar delapan. 

“Dan untuk ‘Considered Insane’, kami tidak mengusung tema etnik Indonesia dan musikalitas lebih ke arah metalcore dan post hardcore. Sedangkan ‘Aggravate’ lebih mengarah ke deathcore dan metalcore,” urai LXDM kembali memperjelas.

Metalcore dan deathcore sendiri bisa dibilang area baru yang dirambah LXDM saat mulai menapaki dunia rekaman. Sebelumnya, band bentukan 2006 silam ini mengawali karirnya dengan membawakan lagu-lagu berkontur Japannese rock hingga K-Pop. 

Setelah perilisan single “Aggravate” yang sudah bisa ditemui di platform Spotify dan iTunes, LXDM dan labelnya, Seizo Entertainment sudah menyiapkan lagu baru untuk single terbaru mereka. Namun waktu perilisannya belum bisa dipastikan karena masih di tahap penggodokan aransemen. (aug/MK02)

One reply on “ Lewat “Aggravate”, LXDM Derukan Nafas Metalcore/Deathcore Bernuansa Etnik ”
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *