“War As Parasite” Memantik DEPTH

Penggeber metal ini tercetus ketika semesta sedang tidak baik-baik saja. Tepatnya ketika wabah virus yang begitu masif menyerang Tanah Air secara membabi buta. Termasuk di Bandung. Pada awal 2020, diawali keinginan sekadar untuk mengisi ruang dan waktu luang, vokalis Fadhly Pandawa dan gitaris Rizki Adhi pun membentuk Depth. Keduanya lantas bergerak cepat dengan merilis karya lagu tunggal perdananya bertajuk “Bad Habits” pada April 2022, dan merekrut bassis Dwi Maulana serta dramer Rizki Marzen untuk memperkuat formasinya.

Kini, memasuki 2023, Depths membakar semangatnya untuk kembali menerjang arena. Adalah momentum keterlibatan di rangkaian tur band lintas generasi Bandung, Alone At Last yang menjadi pertemuan para personel Depth kembali. Demi memuaskan hasrat dan rasa dahaga, sambil memanaskan mesin distorsi serta hormon adrenalin yang sudah cukup lama tidak dijamah, Depths pun kembali diaktifkan. 

Hasilnya, adalah sebuah lagu baru berjudul “War As Parasite”, yang merupakan salah satu jawaban bagi Depth untuk terus melaju lebih kencang dan terus bertahan hidup di skena musik indie, khususnya di Bandung. Lagu yang dibalut nuansa instrumentasi modern metal tersebut menceritakan tentang bentuk perang ideologi dan pemahaman antar makhluk, misi terselubung yang mereka bawa sekadar untuk melepas rasa lapar dan dahaga akan kekuasaaan.

“Lagu ‘War As Parasite’ ini terbilang cukup lama kami kubur. Hampir dua tahun,” ujar Depth kepada MUSIKERAS, mengungkap asal usul kelahiran lagu barunya. 

“Karena keterbatasan untuk bertemu saat (pandemi) Covid, kemudian momen menarik yang diawali dengan ajakan berbagi panggung tur bersama Alone At Last, (membuat) adrenalin kami kembali terpicu untuk segera menuntaskan lagu yang sudah lama kami kubur.”

Dalam proses peracikan “War As Parasite” sendiri, Depth enggan membatasi jangkauan musik yang mereka tuangkan. Menurut mereka, genre sekadar indentitas semata bagi musik Depth. “(Tapi) Terlepas dari itu, dengan kesukaan musik yang berbeda di masing masing member, kami tuangkan seluruhnya ke dalam proses produksi musik kami, sehingga bisa tercipta musik dengan instrumen yang sangat jauh berbeda dibanding single pertama kami.”

“War As Parasite”, menurut Depth, dibangun dari berbagai referensi dan pengaruh, antara lain dari band-band keras dunia macam While She Sleeps, Dayseeker, Architects hingga The Ghost Inside. Perpaduan itu lantas menciptakan komposisi dan aransemen yang tak hanya berbeda dari segi penalaan gitar, namun juga lebih padat dengan imbuhan orkestra. 

“Kemudian disisipkan pula dengan electro beat, sehingga menjadi pembeda dengan musik kami sebelumnya,” seru Depth kembali mempertegas.

Setelah “War As Parasite”, hikmah dari pertemuan di tur tadi membuat komunikasi di antara para personel Depth menjadi lebih intens. Mereka pun kini sepakat untuk meneruskan momentum tersebut dengan melanjutkan salah satu misi mereka yang sempat tertunda, yaitu menggarap album mini (EP), yang ditargetkan bisa diluncurkan tahun ini juga. Lalu ada pula rencana untuk menjalani tur Jawa-Bali, yang diharapkan bisa terlaksana sesegera mungkin, usai perampungan proses produksi EP keseluruhan.

Sejak Juni lalu, “War As Parasite” sudah diperdengarkan di ranah digital, dan kini bisa diakses di berbagai platform seperti Spotify, Apple Music, iTunes, Amazon Music, Deezer, YouTube, TikTok dan lainnya. (aug/MK02)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.