Tengkorak belum kehilangan tajinya. Unit grindcore veteran Tanah Air ini kini dibangkitkan dari tidur panjang, setelah berhibernasi nyaris satu dekade.
Lewat lagu termutakhirnya, “Zionist Downfall”, band cadas asal Jakarta ini merefleksikan kemungkaran atas invasi zionis di Palestina yang kian membabi buta.
Masifnya pemberitaan media-media turut memicu band bentukan 1993 silam ini untuk angkat suara.
“Kami memang tidak bisa menyerang mereka (zionis Israel) secara militer,” seru vokalis Mohammad Hariadi ‘Ombat’ Nasution selaku penulis lirik. “Tapi setidaknya kami bisa menyuarakan aspirasi kami lewat karya.”
Seolah fenomena tersebut menjadi kegelisahan yang terakumulatif. “Bahkan, spoken word di lagu itu sebenarnya lebih dulu ada ketimbang lirik dan lagunya sendiri,” imbuhnya.
Tema-tema senada sebenarnya sudah lama disuarakan Tengkorak. Khususnya sejak merilis album “Agenda Suram” (11 April 2007). Hanya, isu yang diangkat saat itu masih terkesan sensitif dan provokatif, sehingga sempat membuat band ini terdiskreditkan.
Ironisnya, salah satu lagu mereka, “Jihad Soldiers” justru tertampung dalam kompilasi “Global Metal” bersama band-band panas kaliber internasional, seperti Sepultura, Lamb of God, X-Japan, Mastodon, In Flames hingga Gojira.
Album tersebut dirilis dan didistribusikan via jaringan label Universal Music Kanada pada Januari 2008 silam.
Selain memajang ilustrasi parodi dari album “World Downfall” (1989) milik unit deathgrind asal California, AS, Terrorizer sebagai sampul rekaman, ada hal menarik sekaligus menggelitik dalam karya terbaru Tengkorak ini.
Di dalam komposisi “Zionist Downfall” tersebut terdengar geraman gadis belia, yang tidak lain adalah Sofia, putri bungsu Ombat sendiri.
“Jadi, waktu take vokal di kamar, Sofia tiba-tiba masuk,” ucap Ombat mengenang. “Yah, namanya anak kecil, trus dia teriak ‘zionist downfall’ di salah satu part lagu.”
Merasa ekspresi itu pas di lagu, Ombat akhirnya membiarkan vokal Sofia itu ikut terekam.

Konsentrasi Darurat
Mengikutsertakan anggota keluarga ke dalam band yang sudah berjalan selama 33 tahun ini, seolah menegaskan bahwa para personel Tengkorak tidak lagi muda. Namun, mereka tetap istiqomah menggerinda melalui karya-karyanya.
Bahkan di tengah derasnya band pendatang baru atau generasi baru di skena musik keras yang membanjiri berbagai gerai digital, Tengkorak merasa tetap perlu berdiri tegak dan bersuara kencang.
“Kami (Tengkorak) nggak cemas atau takut kalau nggak terlihat di ‘permukaan’. Buat kami setiap band punya motivasi dan identitasnya masing-masing. I’ts all about want,” seru band ini kepada MUSIKERAS, meyakinkan.
“Tengkorak bikin materi (lagu) ini bukan untuk popularitas, tapi lebih sebagai media katarsis yang menggambarkan salah satu potret realitas global dunia internasional.”
“Ini merupakan wahana penyaluran emosi sebagai bentuk solidaritas atau keprihatinan kami terhadap kondisi saudara-saudara kita di Palestina.”
Dalam menjalani babak baru perjalanan karier Tengkorak kali ini, Ombat bersama gitaris Haryo ‘Yoyok’ Radianto dan Donni Rimata, dramer Ronie Yuska serta bassis Danang Budhiarto menginginkan proses yang lebih santai, tanpa kekangan target yang signifikan.
O ya, walaupun terkesan sebagai ‘formasi baru’, tapi sebenarnya keseluruhan personel adalah penghuni lama band ini. Bahkan Donni dan Danang tercatat terlibat di penggarapan album “Konsentrasi Massa” (Agustus 1999) dan “Darurat Sipil” (September 2002).
Sebetulnya, “Zionist Donwfall” sendiri sudah direkam pada 2024 lalu dan rilis di kanal YouTube Tengkorak. Juga lagu-lagu lain yang sudah direkam tahun lalu, seperti “We Are The Flood”, “Membabi Buta” dan “Pasukan Diapers”.
Saat ini, Tengkorak tengah menyiapkan lagu-lagu lain, yang diniatkan bakal berujung pada perilisan sebuah album penuh.
Sementara khusus lagu “Zionist Downfall”, bakal diproduksi dan dirilis oleh label Zim Zum Entertainment dalam format fisik berupa CD dan kaset pada selebrasi Record Store Day 2026.
Pada akhir 2015 lalu, label tersebut juga pernah memproduksi ulang album mini (EP) monumental, “It’s A Proud To Vomit Him” (1995) dalam rangka perayaan dua dekade usia perilisannya.
Sebuah artefak penting dalam sejarah musik ‘bawah tanah’ di Indonesia, karena merupakan rilisan grindcore pertama di Tanah Air. (mdy/MK01)