ENGAGE IN VENGEANCE (EIV)Tandaskan ‘Benang Merah’ di Metalcore

Di album mini (EP) debut perkenalan yang diluncurkan hari ini, “Rising Beyond The Eclipse”, EIV meraungkan lima amunisi lagu yang teracik cadas.
EIV

Mengombinasikan pengaruh musikal yang berbeda-beda dari setiap personel di dalam sebuah band memberi tantangan tersendiri. Tapi tidak sedikit yang bisa menemukan jalan tengah, dan justru menemukan benang merah musiknya secara keseluruhan. Ini yang dialami Engage In Vengeance (EIV), penggeber metalcore pendatang baru asal Jakarta.

Di album mini (EP) debut perkenalan yang diluncurkan hari ini, “Rising Beyond The Eclipse”, EIV meraungkan lima amunisi lagu yang teracik apik, hasil dari kolaborasi lentur para personelnya. Keseluruhan lagu menggunakan lirik berbahasa Inggris.

“Kami sangat terbuka satu sama lain, nggak ada kesulitan sama sekali. Intinya seru. Yang lama tuh (hanya) di penulisan lirik dan membuat ini semua menjadi satu rangkaian cerita,” ujar gitaris Evan Ramadhani kepada MUSIKERAS, menerangkan proses kreatif di tubuh EIV.

Dalam peracikan musiknya sendiri, perbedaan genre favorit para personelnya tidak menjadi kendala ketika menyusun musiknya. Karena pada dasarnya, ujar dramer Gilang Ardhan menambahkan, dari jaman dulu sampai sekarang ia dan Evan, Matheo In Rio (vokal) dan Liya Amelia (bass) selalu mengikuti perkembangan dari musik metal itu sendiri. Mulai dari Pantera, lalu Lamb Of God, Bed Omens, Architects, Falling in Reverse hingga Bleed from Within. Jadi ketika berkumpul meramu lagu, mereka cukup mencari benang merah dari keseluruhan referensi.

“Kami coba cari… keunikan band-band itu apa sih? Yang akhirnya kami tuangkan juga di (lagu-lagu) EIV. Entah itu dari segi sound, riff-riff atau fill-fill-nya.”

Matheo menambahkan, metalcore yang dimainkan EIV intinya tidak terlepas dari esensi metalcore itu sendiri, yang mana mengandung unsur hardcore punk dan metal. Karakter musik yang awalnya terakit dari sepak-terjang band-band seperti Crisis, Hatebreed, Vision of Disorder, lalu berkembang menjadi metalcore awal pada pertengahan 2000an, seperti yang dimainkan oleh Avenged Sevenfold, Killswitch Engage, Atreyu, As I Lay Down, Trivium, Bullet for My Valentine dan masih banyak lagi.

“Karena memang basicly gue sama teman-teman (di EIV) banyak yang terpengaruh metal 2000an dan pertengahan 2000an. Secara konsep kurang lebih penggabungan  hardcore punk dan heavy metal. Ciri khas part melodius di setiap lagu akan kami pertahankan, dan akan selalu ada, supaya bisa sing along (saat manggung).”

Evan, Matheo, Gilang dan Liya sendiri menggarap “Rising Beyond The Eclipse” selama kurang lebih tiga bulan. Seluruh eksekusi rekaman instrumen dilakukan di rumah Evan, sementara khusus vokal direkam di studio Lima Bintang.

Perilisan EP “Rising Beyond The Eclipse” terbilang cukup matang dengan segala macam persiapan yang dilakukan, termasuk dari sisi produksi lagu. “Semuanya kami kerjakan bersama-sama dalam proses waktu berjalannya Engage In Vengeance ini,” ujar Evan mengungkapkan.

Proses rekaman “Rising Beyond The Eclipse” juga menggandeng beberapa musisi yang turut memberi andil dalam memoles produksinya. Antara lain ada Ijal Bulb untuk tahapan mixing dan mastering, serta melakukan konsultasi produksi dengan beberapa musisi senior seperti Ade Himernio dari band Noxa, Iwan Hoediarto dari St. Loco, dan masih banyak lagi lainnya.

“Kami ingin menampilkan yang terbaik untuk album perdana ini. Semua aset yang dibutuhkan harus sempurna ketika perilisan. Termasuk video klip dari lima lagu yang ada di album sudah kami siapkan. Untuk penggarapannya, EIV dibantu oleh Okky Prasetyo (sutradara) dan tim Production House Kataoila,” ujar Gilang bersemangat.

Satu hal lain yang juga menarik perhatian dari kehadiran band bentukan 2019 lalu ini adalah keterlibatan seorang musisi wanita di lini bass. Walau bukan datang dari ranah metal, tapi kiprah Liya di dunia panggung rock sudah cukup terasah dari berbagai pentas cafe, televisi hingga panggung-panggung besar.

“Gue rasa itu menjadi keunikan tersendiri,” cetus Gilang. “Di jaman ini bassis metal (cewek) bisa dihitung. Jadi mungkin ini poin plus buat kami.”

Liya lalu merespon; “Terlepas dari diri aku sebagai seorang perempuan, musik sudah menjadi bagian dari hidup aku. Dan kebetulan, aku juga suka musik keras. Jadi ketika diajak untuk gabung di Engage In Vengeance mengisi posisi bass, tentu dengan senang hati aku terima. Dan mewakili semua, harapan kami dengan album ini tentunya bisa diterima dan memberikan sesuatu yang segar di industri musik. Khususnya di genre metalcore Indonesia dan dunia.”

EP “Rising Beyond The Eclipse” yang memuat lagu berjudul “Guilty”, “Unsainted”, “Uncertainty”, “The Fight” dan “Redemption”. kini sudah bisa didengarkan di berbagai platform digital streaming seperti Spotify dan Apple Music. Sementara video musik setiap lagunya bisa ditonton di kanal YouTube mereka. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.