Usai melepas lagu rilisan tunggal berjudul “Freedom” pada 2020 lalu, Shabil akhirnya berhasil merangkum perjalanan panjang dari proses kreatifnya lewat sebuah album penuh. Diberi judul “Strategy Of Destruction”, album tersebut disesaki sembilan amunisi lagu karya orisinal, plus satu komposisi instrumental.

Shabil yang dihuni formasi gitaris Sonny Prajitno (Sonny Pray) dan Hilman Rifaldy (Emen), vokalis Riadu Zihad, dramer Ferdiansyah (Ferdy) serta bassis Adi Sutiawan (Koteng) menyebut “Strategy Of Destruction” sebagai hasil dari perjalanan panjang.

“Proses pembuatan cukup lama karena mengalami masa dimana untuk biaya rekaman harus perlahan mendapatkannya, karena masing-masing personel memilik tanggung jawab (lain) serta bekerja di Kabupaten Tangerang yang hanya buruh pabrik serabutan, untuk memenuhi biaya proses rekaman sejak tahun 2011. Kurang lebih 13 tahun,” papar pihak band kepada MUSIKERAS, terus-terang.

Disamping itu, durasi lama di produksi album juga erat kaitannya dengan naik-turun karier band ini sendiri. Shabil sudah terbentuk sejak 1998 silam di Tangerang, dimana para personel lamanya dipertemukan oleh momen kerusuhan era itu.

Namun sayangnya, dalam perjalanannya, unit thrash/groove metal ini sempat didera pergantian formasi. Para musisi yang memperkuat Shabil saat ini, baru dikukuhkan pada 2016 lalu. Dan secara tidak langsung mengubah konsep musiknya, dimana gaya lama thrash metal diberi sentuhan elemen modern agar lebih relevan dengan evolusi Shabil.

“Karena dari riff gitar yang kami kuasai menggunakan down tuning dan ketukan yang kami dalami (adalah) musik thrash metal, yang dapat kami penuhi, dan ketukan groove yang dipopulerkan tahun 90-an yang memiliki kesan modern untuk memenuhi karakter thrash yang oldschool,” cetus Shabil lagi, menegaskan konsep musiknya.

shabil

Kini, selain referensi musik dari band asal Brasil, Sepultura – khususnya dari album “Chaos AD” dan “Roots” serta pahlawan lokal macam Suckerhead dan Rotor, Shabil juga menyuntikkan unsur-unsur groove yang distortif dari band-band dunia macam Fear Factory, Machine Head, Soulfly dan Exhorder.

Dalam mengeksekusi rekaman album “Strategy Of Destruction”, Shabil menyebut lagu yang berjudul “Pengkhianat” sebagai komposisi yang sangat menantang secara teknis. “Karena ada beberapa part gitar yang harus melakukan teknik downstroke, dram yang membutuhkan power speed, dan vokal yang harus bertahan di tempo cepat dan bertenaga!”

Selain tiga lagu yang sudah diperdengarkan ke publik metalhead, seperti “Strategi Kehancuran”, “Dosa Kemunafikan” dan “Freedom”, album debut Shabil yang diedarkan via Edelewess Records tersebut, juga menyuguhkan lagu “Dendam”, “Siklus Kematian”, “Dalam Ancaman”, “Ego Bego”, “Penghianat” dan “SOD”.

Keseluruhan album “Strategy Of Destruction” kini sudah bisa digeber di berbagai digital streaming platform sejak 26 Mei 2024 lalu. (aug/MK02)