Kraken menghadirkan narasi utuh tentang kebangkitan, kemarahan hingga perlawanan terhadap berbagai bentuk penindasan di tengah realitas zaman yang semakin kompleks, di album penuh keduanya yang berjudul “Kaliyuga”.
Sebelumnya, unit metal asal Bogor, Jawa Barat bentukan 6 Juni 2016 ini telah memanaskan kuping pemujanya lewat peluncuran dua lagu rilisan tunggal bertajuk “Kalam Menikam” dan “Paradigma”. Masing-masing diperdengarkan pada 14 Februari dan 7 Maret 2026 lalu.
Album “Kaliyuga” sendiri dibuka dengan lagu “Awakening”, yang memperkenalkan karakter musik Kraken yang tegas, agresif dan sarat distorsi.
Dari titik ini, pendengar dibawa memasuki fase kesadaran yang kemudian berkembang menuju konflik batin dan realitas sosial yang semakin brutal melalui lagu “Fatamorgana”.
Judul “Kaliyuga” merefleksikan kondisi zaman yang ditandai oleh kemunduran etika dan moral. Sementara “Kalam Menikam” menggambarkan semangat bertahan dan bangkit di tengah keterpurukan serta tekanan yang terus menghantam.
Kritik terhadap kekuasaan dan manipulasi disampaikan melalui “Manipocalypse” dan “Retorika Tirani”, yang menyoroti rusaknya moral penguasa, penggunaan kata-kata sebagai alat intimidasi serta praktik manipulatif yang menindas.
Intensitas album semakin meningkat lewat “Parade Genosida”, yang menggambarkan kekerasan sistematis, propaganda serta dominasi kekuasaan.
Di sisi reflektif, “Labirin” menghadirkan tema pencarian makna dan usaha keluar dari lingkaran kesesatan, sementara “Paradigma” mengangkat isu kerakusan manusia dalam mengejar simpati dan kekuasaan.
Album ini ditutup dengan “Belati Neraka”, sebuah klimaks gelap yang menegaskan luapan amarah, luka serta konsekuensi dari dunia yang kehilangan nurani.
Melalui “Kaliyuga”, Kraken menegaskansebuah pernyataan sikap terhadap zaman, manusia dan pentingnya kesadaran di tengah kekacauan.

Chemistry Brutal
Dibanding album sebelumnya, “Circle of Life” yang dikumandangkan pada 12 September 2019 lalu, secara musikal Kraken berani menjamin kali ini lebih matang, agresif dan teknikal.
Namun di luar itu, ulas band ini kepada MUSIKERAS, para personelnya tetap mempertahankan identitas metal yang keras, tetapi dengan eksplorasi riff, komposisi serta vokal yang lebih berani.
“Daya tarik utamanya ada pada perpaduan energi yang brutal, atmosfer yang gelap serta lirik yang mengangkat keresahan sosial dan realita kehidupan saat ini.”
Dalam proses penggarapannya, band yang digerakkan formasi vokalis Robby Permana Rasyid (Borie), gitaris Arie Sayogi dan Firdi Nodiansyah, bassis Hilman Septian serta dramer Fahmi Afrizal ini menyebut berbagai subgenre metal sebagai sumber inspirasi.
Mulai dari thrash metal, groove metal, death metal, deathcore hingga metalcore.
“Namun kami tidak menjadikan satu band tertentu sebagai acuan utama. Referensi tersebut kami olah dan padukan dengan karakter masing-masing personel sehingga menghasilkan identitas Kraken yang lebih matang, agresif dan tetap memiliki ciri khas sendiri.”
Komposisi lagu “Kalam Menikam” disebut Kraken sebagai lagu yang paling memuaskan hasil akhir penggarapannya, di antara 10 amunisi yang mendidihkan “Kaliyuga”.
Namun “Belati Neraka” mereka sebut sebagai lagu yang paling menantang secara teknis saat mengeksekusi rekamannya. Lagu tersebut membutuhkan presisi serta ikatan rasa (chemistry) yang kuat.
“Prosesnya cukup panjang, paling lama dibanding lagu lain, tetapi hasil akhirnya berhasil merepresentasikan karakter Kraken yang agresif, solid dan penuh tekanan emosional.”
Sejak 24 Maret 2026 lalu, keseluruhan lagu di “Kaliyuga” sudah bisa didengarkan via berbagai gerai digital serta kanal YouTube Music. (@mudya_mustamin/MK01)