Hadhramaut menghadirkan perpaduan atmosfer doom metal yang meditatif dengan sentuhan instrumen tradisional di album debutnya, yang bertajuk “Siklus Sangkala”.
Sentuhan tradisional itu diterapkan lewat penggunaan alat musik gesek khas Sunda, Jawa Barat bernama Tarawangsa, yang menghasilkan lanskap musikal yang gelap, kontemplatif dan sarat nuansa spiritual.
Tarawangsa mengingatkan bahwa alam tidak pernah benar-benar hidup atau mati; ia hanya berganti wujud dalam siklus yang kejam dan suci.
Hadhramaut memberi tubuh pada kegelapan itu, sementara Tarawangsa memberinya roh. Dan ketika keduanya berbunyi bersamaan, yang terdengar bukan sekadar musik.
Melainkan suara bumi yang sedang mengenang kelahirannya sendiri sambil menggali liang kuburnya.
Sebagian orang menyematkan istilah ‘Musik Perayu Bumi’ untuk Tarawangsa. Saat getar memberikan kehidupan dan frekuensi membangun gerak, tarawangsa menyatukan keduanya melalui bunyi yang menyembunyikan makna.
Pada mulanya alunan musik dari Tarawangsa memang repetitif, pola itu menghantarkan bunyi pada frekuensi yang stabil sehingga dapat menstimulus aliran saraf tubuh untuk membuka cakra spiritual.
Sebagai musik adiluhung atau sublim, getaran dan frekuensinya menggugah alam bawah sadar bagi mereka yang sadar, panggilan untuk alam.
Kembali ke album “Siklus Sangkala”. Di penggarapannya, Hadhramaut masih diperkuat formasi vokalis Moch Ariel Pamungkas; bassis Hawari Arrasyid Suharya (Dodo); gitaris sekaligus memainkan tarawangsa, Farhan Abdul Nasir; dramer M. Ismail Ary (Liam); serta personel baru, Gilang Baihaqy di balik perangkat synthesizer.
Mereka menghabiskan waktu selama sekitar sembilan bulan dalam penggarapan keseluruhan album. Tahapan paling lama mereka jalani di pembuatan musik.
“Kami mengeksplorasi berbagai lead sampai menemukan yang pas buat setiap lagu. Buat rekamannya hybrid, gitar direkam di rumah teman yang lagi merintis bikin studio. Untuk dram di BCH (Bandung Creative Hub),” urai pihak band kepada MUSIKERAS.
Ritus Berdentum
Bagi band bentukan akhir 2024 lalu ini, “Siklus Sangkala” menjadi penanda perjalanan musikal terbaru Hadhramaut.
Sekaligus mempertegas identitas mereka sebagai band yang mengeksplorasi batas antara musik ekstrem, meditasi dan kekayaan budaya Nusantara.
Namun dalam mengeksekusi formula musik di album “Siklus Sangkala”, para personel Hadhramaut mengakui tidak mudah penerapannya secara teknis. Khususnya dalam perhitungan birama atau bar serta isian-isian dram.
“Kami sering luput sama yang namanya bar oleh karena fill-in dram yang kadang nggak teratur hitungan ketukannya. Jadi kadang harusnya 4/4, eh malah lebih. Kadang melenceng jadi 6/8,” ujar mereka sambil tertawa.
Tapi, lanjut mereka lagi, itu hanya kesalahan teknis yang sering terjadi lantaran frekuensi berkumpul yang dianggap kurang.
“Tapi keseluruhan, chemistry kami sekarang makin terhubung satu sama lain. Ya Alhamdulillah, karena album ini mulai rilis jadi bisa menjadi perhatian buat setiap individu di band.”

Beberapa kombinasi referensi sedikit banyak memberi pengaruh di peracikan komposisi serta aransemen lagu-lagu di “Siklus Sangkala”. Di antaranya datang dari band-band seperti Sleep, Monolord, Neurosis hingga OM.
Tapi khusus di lagu “Berdentum”, mereka juga menyebut Tarawangsawelas, duo musik kontemporer-etnik yang juga berasal dari Bandung sebagai referensi utamanya.
“Karena grup tersebut yang merepresentasikan Tarawangsa jenis kontemporer. Diawalinya sama mereka, kebetulan juga kami pake tarawangsa, jadi referensinya kesana.”
Tantangan lain juga dialami Hadhramaut di penggarapan lagu “Kiamat” dan “Ragnarok”. Sekaligus menyebut komposisi kedua lagu tersebut sebagai yang paling matang buat mereka.
“Karena strukturnya jelas, kompleksitasnya juga kekejar. Nggak terlalu bingung buat mainin. Kami juga kadang suka lupa sama susunan bar lagu karena terlalu kompleks.”
Juga di lagu “Ritus Petaka”, dimana mereka menerapkan efek gitar Shimmer serta tonalitas pada lead yang harus sesuai dengan ketukan.
“Jadi kalo melenceng dikit udah nggak akan karuan lagi. Jadi kami paling puas dengan dua lagu itu. Dan Alhamdulillah respon audiens juga bagus. Banyak yang suka.”
Sejak akhir Juli 2026 lalu, album “Siklus Sangkala” sudah tersedia di kanal YouTube Music dan laman Bandcamp.
Sebelumnya, band ini juga telah merilis dua lagu rilisan tunggal, yang masing-masing berjudul “105” (27 Desember 2024) dan “Kolaps” (16 Mei 2025). (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan lagu:
- Dentuman
- Ritus Petaka
- Ragnarok
- Kiamat
- Nirbalas
- Air
- 105 (versi album)
- Berdentum