ANTHROPOPHAGUS DEPRAVITY: Semakin Agresif!

Di lagu terbarunya, Anthropophagus Depravity kembali tajamkan komitmennya untuk terus memuntahkan karya ekstrem, relevan dan berkualitas.
anthropophagus
ANTHROPOPHAGUS DEPRAVITY

Anthropophagus Depravity kembali menyalakan bara kebrutalan lewat karya rekaman terbarunya, yang bertajuk “Aberrant Incarnation”.

Unit brutal death metal asal Yogyakarta ini menyebut lagu rilisan tunggal tersebut sebagai penanda fase baru dalam perkembangan musikal mereka.

Eksplorasi komposisinya semakin matang, namun tanpa meninggalkan akar brutal death metal yang telah menjadi identitas mereka. Dilampiaskan lewat terapan riff yang agresif, ritme yang presisi, dinamika komposisi yang lebih luas serta atmosfer yang gelap dan intens.

Secara konseptual, “Aberrant Incarnation” mengangkat tema metamorfosis menuju bentuk eksistensi yang menyimpang. Sebuah refleksi mengenai dekadensi manusia, kehancuran identitas dan kelahiran entitas baru melalui penderitaan serta kekerasan.

Narasi tersebut diterjemahkan vokalis Pandu Herlambang, gitaris Eko Aryo Widodo, bassis Yohanes Widiazmoro dan dramer Sahrul Ramadhan ke dalam lanskap musikal yang padat, masif dan tanpa kompromi.

Titik Awal

Dari segi musikal, Anthropophagus Depravity menyebut “Aberrant Incarnation” masih merepresentasikan identitas mereka sebagai band brutal death metal dengan fondasi old school yang dipadukan dengan pendekatan produksi yang lebih modern.

“Kami tetap mengedepankan riff yang padat, blast beat yang intens, groove yang berat serta atmosfer gelap yang menjadi karakter utama musik kami,” seru pihak band kepada MUSIKERAS, memastikan.

Jika dibandingkan dengan “Demonic Paradise” (21 Juni 2024), album sebelumnya, hanya berbeda dalam hal pendekatan penulisan lagunya. Sebelumnya, mereka lebih banyak mengeksplorasi dinamika dan atmosfer dalam ruang lingkup sebuah album penuh.

“Tapi di ‘Aberrant Incarnation’ dirancang sebagai komposisi yang lebih langsung, lebih agresif dan lebih padat sejak awal hingga akhir.”

Selain itu, para personel Anthropophagus Depravity merasa pengalaman yang mereka dapatkan selama beberapa tahun terakhir, baik di studio maupun di atas panggung, turut memengaruhi cara mereka menyusun lagu.

“Hasilnya adalah materi yang lebih matang, lebih fokus dan semakin mencerminkan identitas kami,” cetus mereka.

Tentu ada beberapa referensi yang mereka jadikan bahan analisa saat meracik komposisi serta aransemen “Aberrant Incarnation”.

Kebanyakan datang dari band brutal death metal dan death metal yang sejak lama menjadi inspirasi mereka. Suffocation, Disgorge, Immolation hingga Incantation di antaranya.

“Namun, kami tidak pernah menjadikan referensi tersebut sebagai sesuatu yang harus ditiru secara langsung.”

Bagi band bentukan 2016 silam ini, referensi adalah titik awal untuk memahami bagaimana sebuah lagu dibangun, bagaimana atmosfer diciptakan dan bagaimana sebuah band mampu mempertahankan identitas musikalnya.

“Setelah itu, seluruh ide kami olah kembali menjadi karakter yang menurut kami merepresentasikan Anthropophagus Depravity.”

Disamping musik, mereka juga mengolah inspirasi dari berbagai tema horor, okultisme hingga berbagai bentuk seni yang memiliki nuansa gelap, yang kemudian diterjemahkan ke dalam musik dan lirik.

anthropophagus

Revisi Intensif

Penggarapan “Aberrant Incarnation” sendiri dimulai jauh sebelum sesi rekaman berlangsung. Mereka menghabiskan cukup banyak waktu pada tahap pra-produksi untuk mengevaluasi setiap komposisi.

Dimulai dari penyusunan struktur lagu, pencarian karakter riff hingga dinamika antar bagian. Mereka ingin memastikan bahwa setiap elemen memiliki fungsi yang jelas dan mampu membangun atmosfer yang kuat sesuai dengan konsep lagu.

(Detail tim produksi rekamannya bisa dilihat di tautan ini).

“Dibandingkan materi sebelumnya, kami menerapkan proses revisi yang lebih intens. Setiap personel terlibat aktif dalam memberikan masukan terhadap keseluruhan aransemen, bukan hanya pada instrumen masing-masing.”

“Pendekatan ini membuat proses kreatif menjadi lebih kolektif dan menghasilkan komposisi yang terasa lebih matang.”

Pada tahap produksi, Anthropophagus Depravity juga memberikan perhatian lebih terhadap karakter suara setiap instrumen. Tujuannya adalah menghasilkan rekaman yang tetap terdengar brutal dan padat.

“Namun tetap memiliki definisi yang jelas sehingga setiap detail permainan masih dapat dinikmati oleh pendengar.”

Comatose Music

Seperti rilisan-rilisan sebelumnya – yang dimulai sejak album debut “Apocalypto” (2 Juli 2021) – Anthropophagus Depravity telah menjalin kerja sama dengan Comatose Music.

Salah satu label independen asal Amerika Serikat yang memiliki reputasi kuat dalam skena brutal death metal internasional. Kolaborasi tersebut memperluas jangkauan distribusi dan mempertegas eksistensi band di ranah musik ekstrem global.

Sedikit menengok ke belakang. Kolaborasi Anthropophagus Depravity dengan pihak Comatose Music terjadi sebagai hasil dari usaha mereka mengirimkan materi demo ke beberapa label yang memang fokus pada paham death metal dan brutal death metal.

Adalah Steve Green selaku pemilik Comatose Music yang lantas tertarik terhadap karakter musik Anthropophagus Depravity. Ia pun menawarkan kerja sama untuk merilis album.

“Bagi kami, hal tersebut merupakan pencapaian yang sangat berarti karena Comatose Music merupakan salah satu label yang memiliki reputasi kuat di skena brutal death metal internasional dan menaungi banyak band yang selama ini menjadi inspirasi kami.”

Seiring berjalannya waktu, kepercayaan dari pihak Comatose Music ternyata bisa terus berlanjut hingga saat ini. Label tersebut telah merilis album debut “Apocalypto”, lalu Demonic Paradise” dan yang terbaru,“Aberrant Incarnation”.

Bahkan saat ini, Anthropophagus Depravity juga tengah menyiapkan album ketiga yang kembali akan dirilis melalui Comatose Music.

Menurut mereka, hubungan yang awet tersebut bukan hanya sebatas kerja sama antara band dan label, namun telah berkembang menjadi kemitraan jangka panjang yang dibangun atas dasar kepercayaan.

“Komunikasi yang baik serta visi yang sama dalam menghadirkan rilisan brutal death metal berkualitas kepada pendengar di seluruh dunia.”

Kini, selain mencoba memaksimalkan promosi “Aberrant Incarnation”, Anthropophagus Depravity juga mulai mengembangkan materi baru untuk album berikutnya.

Sejumlah konsep lagu sudah tersedia dan saat ini masih berada dalam tahap penyempurnaan. “Kami tidak ingin terburu-buru dalam proses produksinya karena bagi kami kualitas materi selalu menjadi prioritas utama.”

Sejak 9 Juli 2026, “Aberrant Incarnation” telah disebar ke berbagai platform musik digital. Termasuk di laman Bandcamp.

Sementara untuk video musik resminya bisa ditonton melalui kanal YouTube Comatose Music. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
deeptalks
Read More

DEEPTALKS: Modern Metalcore yang Emosional

Lewat album mini (EP) debutnya, Deeptalks mengurai perjalanan emosional dalam enam babak yang sarat eksplorasi luas dalam konteks modern metalcore.
after halt
Read More

AFTER HALT: Monumen Kebangkitan yang Keras

Pendatang baru di ranah musik keras, dimana seluruh personelnya adalah wanita. Kini After Halt telah melepas lagu rilisan tunggal debut bertajuk “Kontraktor”.