Chromablur menghabiskan tahun-tahun pembentukannya untuk mengasah suara yang mentah dan khas, sejak dicetuskan kelahirannya di Bandung, Jawa Barat pada 2018 silam dengan nama awal, Colorblind.
Lalu seiring dengan berkembangnya visi artistik mereka, identitas band metalcore ini pun ikut berkembang, berubah menjadi Chromablur.
Sebuah nama yang mencerminkan pergeseran menuju lanskap musik yang lebih dinamis, berlapis dan sarat emosi.
“Remorse”, lagu rilisan tunggal pembukanya, menjadi perjalanan emosional Chromablur. Merupakan narasi keputusasaan penyesalan dan matinya rasa.
Formasi terkininya; vokalis Irvi Akbar Reynaldi, gitaris/bassis Yandhi Adriana, gitaris Muhamad Luthfi Ghifary dan dramer Fajar Raspati Ghautamaputra mencoba menyampaikan bahwa penyesalan dan penderitaan itu tidak akan benar-benar menghilang.
Semua rasa bersalah penyesalah amarah perih dan rasa sakit selalu menghantui dan perlahan menggrogoti diri.
“Remorse” sendiri direkam di Reverge Studio, Bandung dan melalui proses mixing serta mastering yang ditangani drumer dan penata suara Richard F L Mutter aka Oktav Mutter (Punitive, Khlorine), punggawa label Reverge yang menaungi mereka.

Pukulan Keras
Awalnya, “Remorse” merupakan kumpulan beberapa ide yang sudah dikantongi band ini. Setelah itu coba dirangkai para personelnya sampai menemukan bentuknya yang pas.
“Lumayan banyak juga bagian yang dirombak selama prosesnya, karena kami pengen tiap part punya feel-nya sendiri,” tutur pihak Chromablur kepada MUSIKERAS.
Proses rekamannya juga tidak langsung beres sekali jalan. Mereka beberapa kali mendengarkan ulang, revisi, lalu direkam lagi sampai akhirnya menemukan rasa yang diinginkan.
“Kurang lebih prosesnya sekitar tiga bulanan, dari awal ngerjain materi sampai akhirnya siap rilis.”
Sementara di racikan musiknya, pada dasarnya “Remorse” melebur elemen metalcore, hardcore serta sedikit pengaruh dari paham melodic hardcore.
“Kami suka musik yang bisa kedengeran emosional tapi tetap punya pukulan yang keras. Kami juga nggak terlalu suka kalau satu lagu cuma full gas dari awal sampai akhir,” cetus band ini lagi.
Makanya, di komposisi serta aransemen “Remorse” menerapkan bagian yang lebih atmosferik dan melodius, yang lantas dinaikkan tensinya hingga akhirnya meledak di bagian yang lebih berat.
Mereka mengakui, sebagian referensi peracikannya kurang lebih datang dari band-band keras asal AS yang kerap mereka dengarkan. END, Boundaries, Jesus Piece, Varials serta juga Bloom (Australia) dan beberapa band di luar ranah metal.
“Tapi bukan berarti kami bikin lagu dengan mikir, ‘Harus kayak mereka’. Lebih ke nyomot hal-hal yang kami suka. Entah itu cara bikin riff, buildup, transisi atau gimana mereka bikin sebuah lagu punya tension.”
Selain itu, ada juga referensi di luar musik. Chromablur banyak pula mengambil referensi dari visual horror, hal-hal yang gelap, surreal dan disturbing.
“Jadi dari awal kami memang pengen ‘Remorse’ punya dunia sendiri, bukan cuma lagunya aja.”
“Kami (juga) mencoba bikin musik yang menurut kami cocok sama karakter Chromablur. Yang penting ketika orang denger, semoga bisa langsung ngerasain kalau, ‘Oh, ini CB!’”
Untuk rencana ke depannya, Chromablur telah meniatkan bakal membuat album penuh. Bisa dibilang, “Remorse” merupakan salah satu langkah awal yang mengarah ke sana.
“Sekarang kami masih ngumpulin materi dan eksplor sound, karena kami pengen setiap lagu yang masuk nanti punya karakter masing-masing tapi tetap punya benang merah.”
Dengarkan “Remorse” di berbagai gerai penyedia layanan musik digital. Termasuk video musik di kanal YouTube Music dan YouTube. (@mudya_mustamin/MK01)
