Ancreath akhirnya resmi memuntahkan EP fisik perdananya! Unit sludge metal asal Gunung Putri, Kabupaten Bogor ini memberondongkan enam komposisi cadas di kemasan berformat CD tersebut.
Kali ini, band yang dihuni formasi vokalis Jodi Merdeka Putra, gitaris Faisal Sambang Aji (Ical), drumer Zaidan Satrian Atmojo dan personel terbaru, gitaris Ricky Daulay ini bekerja sama dengan label AMPS Records dalam pengedaran albumnya itu.
Sebelumnya, jalan menuju peluncuran EP sudah didahului dua lagu rilisan tunggal pemanas. Masing-masing berjudul “Disaster” yang dirilis pada 29 Februari 2024, serta “The Same Hole” pada 18 Oktober 2025.
Proses kreatif hingga tahapan rekamannya berlangsung cukup lama. Bahkan menurut tuturan Ancreath kepada MUSIKERAS, keseluruhan proses sempat tertahan selama hampir dua tahun.
“Ketunda (karena) satu dua hal. Namun saat 2026 tiba, seketika sistem kebut. Lamanya proses berarti terhitung rekaman pertama kali dari 2024, dicicil hingga rekaman lagu keenam atau yang terakhir di 2026,” urai mereka.

Tiga Lapis
Ancreath mendeskripsikan konsep yang diterapkan untuk EP debutnya ini lebih simpel. Mereka menyebutnya ‘tidak neko-neko’ dan tanpa artwork. Alasannya, karena Ancreath ingin lebih total menonjolkan karya musiknya. Bukan di karya artwork.
Sementara dari musik, Ancreath mendeskripsikan konsep leburan sludge dan groove metal yang mereka terapkan sebagai formula musik ‘ganas’ yang tidak selalu harus cepat.
“Kami satu-satunya (band) sludge di Indonesia yang mengusung konsep beda, yaitu mix dengan groove metal,” seru mereka menegaskan ciri khas musik Ancreath.
Sludge metal dan groove metal, lanjut band bentukan 2022 ini, merupakan paham yang masih terbilang asing di Indonesia. Kebanyakan orang menganggap metal itu harus berbau cepat, seperti death metal, metalcore atau lainnya.
Saat proses peracikan komposisi serta aransemen lagu-lagu di EP, Ancreath cukup banyak menyerap pengaruh-pengaruh dari band-band mancanegara. Terutama dari skena sludge metal dari New Orleans, Louisiana (AS).
Di antaranya seperti Down, Acid Bath, Crowbar, Eyehategod hingga Superjoint. “Kami hampir semuanya mendengarkan scene musik dari Louisiana.”
Dari enam lagu yang disuguhkan di EP, Ancreath memberi catatan tersendiri terhadap lagu yang bertajuk “Head of Statue” yang berdurasi tujuh menit. Lagu ini memberi tantangan yang lumayan dalam eksekusi rekamannya. Menerapkan master volume tiga lapis.
“Lapis pertama volume sedang, volume (lapis) kedua mulai lumayan. Volume ketiga – terhitung dari reff sampai habis – mulai meledak! Semua all out. Membuat lagu ini membuat kami mikir berkali-kali…!”
Saat ini, semua lagu Ancreath di berbagai gerai pemutar musik digital diturunkan, dan dalam waktu dekat bakal diunggah ulang oleh pihak AMPS Records. (@mudya_mustamin/MK01)
