HAUL telah menegaskan kebangkitannya lewat peluncuran album keduanya, yang bertajuk “Magna Kalahar”. Unit psychedelic black/death metal/deathly dark metal asal Bandung, Jawa Barat ini menawarkan eksplorasi musikal yang lebih matang.
Vokalis Kenny Reyhansyah, gitaris Cakradonya Sesar Nugroho dan Dendry Mugni Tarumayasa, bassis Hasbi Erlangga serta drumer Hendrawan Saputra berhasil menyatukan visi kolektif yang brilian.
Mereka menjelajahi lanskap musik ekstrem dari berbagai sudut intensitas, menautkan agresi death metal dengan ekstase psychedelic rock ke dalam komposisi musik gelap yang melekat erat pada identitas mereka.
“Magna Kalahar” menerjang kesunyian bagai badai besar lewat 10 amunisi yang merangkai amukan sonik ekstrem penuh sihir.
Berdetak selama 46 menit, dimana setiap lagu memancarkan karakter tunggal yang kuat dan bergerak dinamis menuju pusaran kekacauan yang absolut.
Persimpangan aura esoteris skena musik dari Skandinavia dengan ekstremitas tanpa kompromi dari Amerika, dieksplorasi HAUL di album ini. Lalu dikombinasikan dengan tema kebangkitan dari monumen reruntuhan.
Di liriknya, merangkai narasi kehancuran melalui resonansi bahasa ibu yang
epik. Dari fondasi yang kokoh ini, band bentukan akhir 2010 silam ini mentransformasikan visi reruntuhan dunia lama ke dalam pusaran amukan suara yang begitu imersif.

Rock N’ Roll
Menyerah pada “Magna Kalahar” berarti menanggalkan setiap terminologi usang yang pernah disematkan pada HAUL sebelumnya. Mereka lebih gelap dibanding album debut mereka. Lebih mematikan dari apa pun yang pernah dilepaskan sebelumnya, sekaligus membakar batasan kaku antar genre.
“Kami tidak melakukan pendekatan terhadap satu komposisi tertentu maupun formula baku dalam pembuatan materi musikal ‘Magna Kalahar’. Kalau pun harus dideskripsikan, kami lebih nyaman disebut sebagai band rock n’ roll,” cetus kubu band ini kepada MUSIKERAS, mengurai lebih lanjut mengenai konsepnya.
Jika dibandingkan dengan karya-karya mereka sebelumnya, ada beberapa faktor yang membuatnya berbeda.
“Seiring perjalanan waktu, kehadiran Alyuadi Febryansyah sebagai produser, iklim sosial, dan dinamika internal sudah barang tentu memengaruhi perkembangan musikal era ‘Magna Kalahar’.”
Ditambah lagi, proses kreatif yang mereka jalani kali ini adalah penyesuaian metode baru yang akhirnya membuat segalanya terasa menantang.
“Sehingga butuh beberapa penyesuaian baik saat pre-recording, proses pengembangan, maupun tahapan setelahnya,” seru mereka lagi.
Keseluruhan proses rekaman “Magna Kalahar” berlangsung pada periode 2023–2025, dieksekusi di Funhouse Recording Studio, Taman Cidamar dan Red Studio.
Turut pula menghadirkan kontribusi vokal tamu dari Marshella Safira (Mooner) serta perancangan sampul album oleh ilustrator dan musisi Indra ‘Morrgth’ Wirawan (MORRGSFERATU/Rajasinga).
Lalu untuk mendapatkan polesan secara sonik yang sesuai dengan visi para personelnya, HAUL juga mempercayakan kepada Alyuadi untuk pengolahan mixing, yang ia kerjakan di EEEXPPP. Sementara proses mastering, diserahkan kepada Jamie Elton di Ostronet Studio, Swedia.
Bagi HAUL, karya rekaman terbarunya ini merupakan pembuktian musikal terbesar mereka. Sebuah perayaan atas kekacauan dan kegelapan yang diracik hingga mencapai titik estetika paling katartik.
Pada 29 Oktober 2026, “Magna Kalahar” dirilis dalam format fisik (kaset, CD dan piringan hitam) serta digital. Tersedia di Disaster Records. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan Lagu:
- Sekapur Sirna
- Matasayat
- Agenda Dalam Siklon Kelabu
- Tanasalarasa
- Omegat Roh
- Bina Runtuh
- Benam
- Menjilat Sangrawi
- Nista-Nista
- Magna Kalahar
