Dwikarta, ‘proyek duo’ asal kota Yogyakarta dan Surakarta yang sebelumnya pernah mengibarkan eksistensinya menggunakan nama Texarium pada 2016 silam akhirnya digulirkan lagi.
Mereka menandainya dengan melepas lagu rilisan tunggal terbaru bertajuk “Sudamala” (ruwatan atau penyucian) yang kental akan warna heavy metal yang diberi sentuhan simfonik yang megah.
Kepada MUSIKERAS, Dwikarta yang digerakkan vokalis Indra Purnama Tantra dan gitaris, komposer dan produser Rhony Sudjiwo ini mengakui banyak menyerap roh dan energi dari kancah heavy metal dan power metal klasik saat peracikan “Sudamala”.
“Ketajaman riff dan agresi vokal banyak terpengaruh dari Judas Priest dan karakter Rob Halford. Sementara untuk peleburan elemen simfonik dan orkestrasinya, kami mengambil inspirasi dari kemegahan Kamelot.”
“Di luar itu, kami juga tetap membawa spirit rock/metal nusantara yang elegan ala God Bless ke dalam nyawa Dwikarta.”
Bagi Rhony dan Indra, heavy metal di “Sudamala” bukan sekadar tentang bermain secepat atau sekeras mungkin, melainkan tentang ‘membangun’ emosi. Konsepnya adalah perpaduan heavy metal klasik dengan kemegahan (grandeur) simfonik.
“Yang membuatnya istimewa adalah narasi filosofisnya. Seperti judulnya, ‘Sudamala’, musik ini diibaratkan proses menyembuhkan luka dan mencari kejernihan.”
“Makanya kami memberi ‘ruang’ untuk kontemplasi di awal melalui keheningan dan alunan orkestra, sebelum akhirnya ‘meledak’ sebagai simbol pelepasan energi yang selama ini tertahan!”

Kolaborasi Tari
Proses penggarapan “Sudamala” sendiri memakan waktu yang cukup intens demi mewujudkan visi mereka untuk menghasilkan sebuah karya yang mengandung dinamika emosi yang kontras.
Tapi untuk mencapai target tersebut, diakui Dwikarta tidaklah mudah. Khususnya dalam tahapan pemolesan mixing dan mastering yang cukup menantang secara teknis.
“Karena lagu ini memiliki pergeseran ekstrem – dibuka dengan intro lo-fi yang sangat sunyi, masuk ke bagian strings orkestra, lalu dihantam dengan agresi distorsi heavy metal.”
“Kami harus sangat teliti menjaga headroom dan rentang dinamikanya, supaya tetap terdengar ‘nyaman’ tanpa harus mengurangi hal-hal yang berbau teknis tersebut.”
Sebagai musisi sekaligus aranjer merangkap produser, Rhony Sudjiwo harus memastikan elemen simfoniknya tidak tenggelam saat distorsi metal dan gebukan drum masuk ke fase klimaks.
Ia memaksimalkan penggunaan ekosistem Pro Tools yang dikombinasikan dengan perangkat kompresor analog serta plugin dari SSL dan Waves untuk mencapai target sonik tersebut.
Selain dimotori Rhony Sudjiwo dan Indra Tantra, proses produksi rekaman “Sudamala” juga melibatkan gitaris/bassis Anthony William Wijaya serta drumer Dedy ZB.
Lalu ada pula kolaborasi dengan talenta tari dari Yogyakarta, Sri Anjani Dewi untuk penggarapan video musik resminya.
Rencana Dwikarta selanjutnya, adalah merilis album penuh. “Sudamala” merupakan gerbang pembukanya. Kini, proses penggarapannya yang dilakukan di Devo – Studio & Living di kawasan Bantul, Yogyakarta sedang berjalan.
Mereka sudah merampungkan komposisi dan aransemen untuk beberapa lagu – di antaranya berjudul “Diponegoro” dan “Indranilla” – yang akan masuk ke dalam album tersebut.
“Saat ini fokus kami adalah memoles post-production untuk menyajikan lagu yang maksimal.”
“Sudamala” bisa didengarkan via berbagai gerai digital sejak 22 Oktober 2026 lalu, sementara video musiknya bisa disaksikan di tautan kanal YouTube ini. (@mudya_mustamin/MK01)
