HORUSH: Gemuruh Multitafsir “Crownless Throne”

Soroti keserakahan penguasa dan penderitaan, unit death metal Horush melancarkan serangan baru, lewat lagu rilisan tunggal terkini bertajuk “Crownless Throne”.
horush
HORUSH

Horush sebelumnya telah memperdengarkan agresi beringasnya di album “Armageddon” yang diluncurkan pada 15 November 2024 lalu. Hampir dua tahun lalu.

Kini, unit death metal asal Yogyakarta ini kembali dengan serangan baru, lewat sebuah lagu rilisan tunggal terkini bertajuk “Crownless Throne”.

Para personelnya, yakni vokalis dan gitaris Apri Prasetya (Aprek), drumer Yana Samudra (Mayon), bassis Awan Sutaji (Taji) serta gitaris Muhammad Akmal Akbar (Akmal) menunjukkan kematangan mereka dalam mengeksekusi dan mengeksplorasi death metal.

“Kami tetap mempertahankan ciri khas death metal dengan nuansa gelap,” seru mereka kepada MUSIKERAS menegaskan.

“Kali ini sebuah pendewasaan untuk kami. Di album sebelumnya kami masih main nuansa. Kali ini kami membuat riff-riff gitar lebih simpel, progresif dan lebih agresif.”

Death Vomit

Sekaligus untuk menandai babak baru perjalanan mereka, “Crownless Throne” menghadirkan karakter musik yang lebih segar dan agresif. Mereka mempertahankan atmosfer gelap yang menjadi bagian dari identitas Horush.

Saat peracikan komposisi serta aransemennya, mereka banyak mengintai berbagai referensi musik dan bereksperimen dengan berbagai ide yang muncul.

“Referensi kami lebih kompleks, tidak cuma mengacu ke band ini atau band itu. Kami mencoba bereksperimen dengan musik death metal yang mungkin sangat luas saat ini.”

Kehadiran “Crownless Throne” yang direkam di Transient Rekordwoks dan Rumah Tua Record ini sekaligus menjadi penanda perkembangan musikal Horush dalam perjalanan menuju album kedua.

Menjadi bagian dari proses pendewasaan musikal mereka, baik dalam pengembangan komposisi maupun eksplorasi karakter vokal dan gitar.

Salah satu elemen yang memperkuat karakter lagu ini adalah keterlibatan Oki Haribowo dari legenda death metal Yogyakarta, Death Vomit, yang mengisi beberapa bagian vokal.

Kolaborasi tersebut memberikan dimensi tambahan pada komposisi “Crownless Throne”, sekaligus mempertemukan dua nama dari skena musik ekstrem Indonesia dalam satu karya.

“Kami melibatkan Om Oki karena warna vokal beliau sangat berkarakter,” ujar Horush memberi alasan.

horush

Lirik Multitafsir

Lebih dari sekadar eksplorasi musikal, “Crownless Throne” juga membawa narasi tentang perebutan kekuasaan, pengkhianatan terhadap kepercayaan, serta penderitaan rakyat yang menjadi korban ambisi para penguasa.

Melalui penggunaan lirik berbahasa Inggris, Horush menggambarkan kekuasaan yang dibangun di atas darah, kebohongan dan ketidakadilan.

Gambaran tersebut tercermin dalam penggalan lirik, ‘A rotting king devours his throne’, yang merepresentasikan sosok penguasa yang justru menghancurkan kekuasaan dan kepercayaan yang dimilikinya sendiri.

Dalam narasi lagu ini, sebuah takhta kosong menjadi simbol perebutan kekuasaan yang tidak berkesudahan. Di tengah ambisi para penguasa, masyarakat harus menanggung kelaparan, penindasan dan hilangnya keadilan.

Horush juga menghadirkan sosok tanpa mahkota yang datang membawa kepalsuan dan fitnah demi memengaruhi para pengikutnya. Tema tersebut memiliki relevansi dengan dinamika sosial-politik yang terjadi saat ini, termasuk situasi di Indonesia.

Meski demikian, Horush menyampaikan kritiknya melalui narasi dan metafora yang menjadi bagian dari ekspresi artistik mereka.

“Sebetulnya, lirik kami lebih ke multitafsir, dari sudut pandang pendengar tidak serta merta harus disangkutpautkan ke sistem pemerintahan kita. (Tapi) Lebih ke (ungkapan) keresahan kami sebagai manusia.”

“Di balik metafora darah, tahta, kehancuran dan api, ada kritik yang lebih dalam tentang kekuasaan yang mengatasnamakan kesucian, keadilan atau keyakinan, yang justru menghasilkan kesengsaraan.”

Sejauh ini, Horush telah menyicil beberapa lagu untuk kebutuhan album kedua. Sambil di sisi lain, terus mengasah chemistry dengan Akmal dan Taji yang merupakan personel baru.

“Lebih menyesuaikan lagi supaya album kedua nanti lebih enak didengar, khususnya penikmat musik metal.”

Sejak 21 Oktober 2026 lalu, “Crownless Throne” yang diedarkan via Metalgear Music sudah bisa digeber melalui berbagai gerai pemutar musik digital. Termasuk Bandcamp serta di kanal YouTube untuk video liriknya. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
splatter pit
Read More

SPLATTER PIT #4 Kembali Digulirkan!

Memanfaatkan kedatangan Cerebral Incubation, gelaran rutin Splatter Pit kembali digulirkan. Bakal digelar di Gedung IFI Bandung pada 15 November 2026 mendatang.
ancreath
Read More

ANCREATH: Akhirnya Muntahkan EP Perdana

Usai jalani proses kreatif dan masa produksi selama hampir dua tahun, akhirnya Ancreath meresmikan perilisan album mini (EP) debutnya dalam format fisik (CD).