Isu panas mengenai ‘perpecahan’ yang bergulir di negara Indonesia belakangan ini telah menggerakkan banyak kalangan untuk meneriakkan pentingnya persatuan. Tak terkecuali di musik, atau yang lebih spesifik lagi di dunia ‘bawah tanah’ (underground). Salah satunya dilakukan oleh Sorem, unit black metal asal Probolinggo, Jawa Timur, yang pada 4 Februari lalu telah merilis single bertajuk “Bhirawa Aryasatya” via label independen, Sadist Records.
Lewat single ini, Sorem menyoroti kelalaian negara menjaga esensi nilai luhur ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang merupakan nilai Nusantara kuno dan selama ini dijadikan landasan bangsa ini. “Bukan lalu menjadikan kesucian sebagai alasan perpecahan dan intoleran seperti yang aktual terjadi akhir-akhir ini,” cetus Eitaz, gitaris sekaligus otak utama Sorem, kepada MUSIKERAS.
Spirit kenusantaraan menjadi nadi utama lagu “Bhirawa Aryasatya”. Lagu tentang Tantra Bhairawa, menurut Eitaz lagi, bisa diibaratkan sebagai paham ‘jihad’-nya Nusantara. Sebuah paham yang dianut oleh ksatria, prajurit nusantara dan kalangan Raja nusantara kuno. Paham dimana meminta restu menyatunya dewata dalam tubuh sebagai pembinasa, melawan angkara dengan angkara.

“Jika ditinjau dari aspek teologis, mengacu seperti sifat sang hyang Siwa sendiri, yang dipercaya sebagai pelebur, pemusnah segala sesuatu yang usang di dunia ini. Yang menarik, paham ini digunakan untuk mempertahankan kedaulatan nusantara secara luas pada saat itu. Menyatukan nusantara di dalam satu visi, walau ada yang sepihak menganggap paham ini adalah paham sisi gelap dewata. Tapi kita lihat tujuan dan pencapaianya. Nusantara menjadi satu diantara kemajemukan masyarakatnya dan mencapai jaman keemasan-nya,” papar Eitaz memperjelas.
Sorem sendiri saat ini dimotori Eitaz yang merupakan last man standing dari formasi awal. Sebab saat “Bhirawa Aryasatya” digarap di Daztanias Production di Surabaya, vokalis Helldra mengundurkan diri. Namun walau tanpa personel tetap, Eitaz memutuskan terus menggulirkan Sorem. Perekaman lagu “Bhirawa Aryasatya” pun dieksekusi dengan melibatkan Nyoman Sastrawan (Devoured) untuk mengisi lini vokal. “Setidaknya secara jiwa, beliau sudah memiliki dasar pemahaman yang mumpuni tentang nusantaraisme, sehingga tidak sulit memberikan brief,” ungkap Eitaz.
Uniknya, Eitaz kembali menambahkan, selama penggarapan single tersebut ia tidak pernah bertemu dengan Sastrawan. Keduanya hanya intens berkomunikasi melalui media sosial, saling mengirim pesan dan materi lagi via jaza pengiriman online Dropbox. Sastrawan sendiri mengisi vokalnya di Bali. Proses penyatuan musik dan vokal serta mixing lantas dibereskan di Dastaniaz Production dengan bantuan Daniel Anggria, pemilik studio.
“Secara spontan si empu Dastaniaz juga tergerak hatinya untuk memberikan sentuhan nuansa choir di beberapa part, dan saya menyetujuinya, terinspirasi dari Mephorash ketika kami sedang mixing sambil ngobrol santai. Semua ini terjadi begitu saja, begitu cepat, hingga seakan membuat saya sendiri seakan nggak percaya. Di saat kami kehilangan, mempunyai celah kekosongan, seakan tiba-tiba saja diisi dari arah yang terduga sebelumnya. Semesta mengambil, semesta memberi, semesta menyimbangkan.”
Sorem sendiri terbentuk pada pertengahan 2012, oleh trio Priest, Helldra dan Slatem. Tak lama, Slatem mengundurkan diri dan digantikan oleh Eitaz, yang sebelumnya hanya membantu dalam manajerial. Sejak awal, Sorem yang sedikit banyak terpengaruh musikal dari band-band seperti Belphegor, Dark Funeral, Naglfar, Immortal, Watain, Emperor, Summoning dan elemen-elemen etnik Indonesia tidak memiliki dramer. Tercatat dramer additional yang pernah membantu adalah Obet (Nosferatu/Cranial Incisored/Zoo), Dukky (The Black Goat), Ariev (Naughty Indonesia), Ryjky (Trident) dan Ary (Sanksi Mati). Saat ini Sorem tengah menyiapkan materi lagu-lagu baru untuk split album dengan Immortal Rites, yang sekaligus dijadikan sebagai teaser warna album penuh kedua yang rencananya bakal dimuntahkan dari rahim kegelapan Sadist Records pada akhir 2017. (Mdy)