EXTREME DECAY Memuja TERRORIZER di Kancah Internasional

Sebuah album kompilasi penghormatan terhadap legenda grindcore asal Los Angeles AS, Terrorizer telah dirilis label independen asal Belgia, Mediaplan Group pada 1 Maret 2017 lalu. Album bertajuk “Tribute to Terrorizer” yang memuat 18 band penggerinda kuping dari berbagai negara tersebut, salah satunya melibatkan unit cadas asal Malang, Extreme Decay.

“Condemned System” adalah lagu yang dipilih Extreme Decay untuk meramaikan album tribute tersebut, salah satu lagu wajib para pemuja Terrorizer disamping “Dead Shall Rise”, “Corporation Pull-In”, “Fear of Napalm” dan “After World Obliteration”. Tapi, tentu saja, band bentukan 1998 silam yang kini dihuni formasi Afril (vokal), Ravi (gitar), Ruli (gitar) dan Eko (dram) tersebut meramu “Condemned System” sesuai versinya sendiri. Walau sebenarnya, tidak ada juga pendekatan khusus karena adanya kesamaan genre antara Extreme Decay dan Terrorizer.

“Kami suka Terrorizer dengan album klasiknya, ‘World Downfall’, termasuk pada lagu ‘Condemned System’. Jadi kami coba bawakan sesuai dengan versi Extreme Decay lalu kami rekam,” ungkap personel band kepada MUSIKERAS.

Sebelumnya, “Condemned System” sendiri sudah pernah direkam oleh Extreme Decay dan termuat di kedua mereka yang berjudul “Sampah Dunia Ketiga” yang dirilis pada tahun 2000 oleh Extreme Souls Production. Tapi untuk versi “Tribute to Terrorizer” ini, Afril dan rekan-rekannya di band memutuskan untuk melakukan mixing ulang terhadap lagu cover lama mereka itu. Maklum, pada saat mengajukan terlibat di proyek “Tribute to Terrorizer”, waktu yang tersedia untuk penyetoran karya, sudah sangat mepet.

“Kebetulan Extreme Decay kan sudah pernah punya stok rekaman lagu Terrorizer dari materi lama. Rekaman lagu itulah yang kami mixing ulang, lalu kirim ke mereka. Eh, ternyata lolos seleksi dan diterima masuk kompilasi.”

Di mata Extreme Decay, pengaruh Terrorizer tak bisa lepas dari pembentukan karakter musik mereka. Album “World Downfall” rilisan Earache Records pada 1989 silam menjadi pemicu awal yang membangkitkan gairah terbentuknya Extreme Decay. “(Album tersebut) sedikit banyak berpengaruh bagi band-band grindcore di seluruh dunia, termasuk Extreme Decay,” cetus pihak band lagi. “Terrorizer merupakan salah satu band yang telah menginspirasi kami untuk membentuk sebuah unit band grindcore.”

Dari situ, Extreme Decay lantas memperkaya ramuan musiknya dengan menyuntikkan serum yang disari dari band-band hardcore, punk dan grindcore pujaan mereka lainnya, seperti Nyctophobic, Dropdead, Siege, Human Remains, Enemy Soil, Heresy, S.O.B., Excruciating Terror hingga Nasum.

Selain Extreme Decay, kompilasi “Tribute to Terrorizer” juga melibatkan band-band seperti Misery Index, Haemorrhage, Nyctophobic hingga Plague Rages dengan total durasi musik 40 menit. Di Indonesia, format fisik (CD) album tersebut diedarkan via label Grindtoday (Jakarta) dalam jumlah terbatas. Setelah proyek “Tribute to Terrorizer”, kini Extreme Decay dengan formasi barunya akan mulai berkonsentrasi menyiapkan album baru, tur, serta beberapa proyek split album yang belum sempat terealisasikan. “Kami baru saja merombak ulang ide, gagasan juga personal yang otomatis mengawali perubahan penggarapan untuk materi baru Extreme Decay. Semoga di tahun 2017 ini semuanya bisa kelar.” (Mdy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.