SERINGAI: Fakta Kelam di Balik “IV: Anastasis”

Usai masa berkabung selama setahun, Seringai rilis album baru dan siap kembali melibas berbagai panggung. Tapi kali ini, banyak kisah kelam di baliknya.
seringai
SERINGAI (Foto: Instagram Mblocspace)

Seringai akhirnya mengesahkan perilisan “IV: Anastasis” lewat sebuah konser intim yang kental akan nuansa ‘kangen-kangenan’.

Band rock beroktan tinggi asal Jakarta ini rindu manggung. Sebaliknya, para pemujanya pun kangen aksi panggung mereka setelah jeda setahun, pasca kepergian gitaris Ricky Siahaan.

Di panggung M Bloc Live House, Jakarta Selatan pada Kamis malam (23/4) lalu, Seringai menyapa ‘Serigala Militia’ dan para kerabat lewat suguhan konser ‘manusiawi’ – dengan segala kekurangan – namun tanpa kehilangan keliaran dan kebuasannya.

Kekurangan? Ya, bisa dibilang begitu.

seringai

Menggebrak panggung dengan berondongan 19 lagu (plus satu komposisi intro) gesit nan beringas, yang nyaris tidak menyisakan ruang untuk menarik nafas tentu tidak mudah. Terlebih usai leyeh-leyeh di masa hibernasi selama setahun.

Terlihat jelas vokalis Arian ’13’ Arifin, bassis Sammy Bramantyo dan dramer Edy ‘Khemod’ Susanto butuh beberapa kali meluangkan jeda untuk mengatur ritme di sela-sela lagu.

Momen yang kerap dimanfaatkan Arian untuk melemparkan celetukan ‘satir’ namun sukses mencairkan suasana, tanpa menurunkan tensi para penonton yang haus hujaman distorsi.

“Kami sudah punya dua gitaris, mungkin saatnya punya dua dramer,” celoteh Arian menggoda Khemod yang terlihat sedikit kewalahan.

Model candaan yang selalu sukses mengundang tawa di setiap penampilan Seringai. Tak ada kata ‘pamali’ atau ‘kualat’ dalam kamus band ini.

O ya, kini ada dua gitaris yang memperkuat formasi panggung Seringai, yakni Angga Kusuma (Billfold, Collapse, eks-Taring) dan Darma Respati dari Negatifa, proyek band Arian di luar Seringai.

Selain lagu-lagu dari album baru, malam itu Seringai juga antara lain menggeber “Program Party Seringai”, “Berhenti di 15”, “Mengadili Persepsi”, “Akselerasi Maksimum”, “Amplifier”, “Adrenalin Merusuh”, “Dilarang di Bandung” dan “Selamanya”.

Malam itu, peluncuran resmi “IV: Anastasis” juga dimeriahkan tiga band pembuka, yakni BongaBonga, Masakre dan Step Forward, veteran hardcore Jakarta yang dulu juga diperkuat Ricky Siahaan.

seringai

Tanpa Selebrasi

Selain dalam format fisik (CD), album “IV: Anastasis” yang dirilis via label independen milik Seringai, High Octane Production, juga diedarkan di Apple Music serta berbagai gerai penyedia layanan musik digital lainnya (kecuali Spotify).

Juga terhidang di laman Bandcamp sejak 15 April 2026 lalu.

Berikut beberapa fakta menarik yang terkandung di “IV: Anastasis”, album yang direkam dalam periode Agustus hingga Oktober 2025 lalu di Dexter Studios, Jakarta.

“Proses penggarapan album ini cukup lama. Lebih gelap (dibanding album-album sebelumnya) karena nggak ada yang bisa diselebrasi, mulai dari pandemi, situasi negara…. nggak ada party,” seru Arian, di sela sesi mendengar album “IV: Anastasis” untuk undangan media terbatas pada 9 April 2026 lalu. 

Melunaskan Dendam (02:17)

Peluru pembuka di album ini, disebut Arian, sedikit banyak terinspirasi musik Voivod yang baru. Band yang dimaksud adalah unit heavy metal asal Kanada.

“Cukup mempengaruhi kami,” cetusnya.

“Secara BPM (beat per minute) cocok buat tracklist pertama,” Sammy menimpali.

Matinya Kepakaran (03:54)

Eksplorasi baru diterapkan Seringai di lagu ini. Pesan di balik liriknya, menurut Arian, adalah fenomena memprihatinkan saat ini.

“Sekarang banyak orang lebih percaya pada pesohor daripada mendengar dari ahli atau pakarnya.”

Sementara dari racikan musiknya, diklaim paling eksploratif. Sesuatu yang belum pernah dilakukan Seringai sebelumnya.

“Kami menerapkan (tempo) odd signature, tapi berusaha tanpa terjebak (menjadi) progresif. Makanya untuk ketemu formula itu, butuh workshop lama. Saat rekaman masih diulik terus, work on progress sampai last minute baru diputuskan,” urainya kepada MUSIKERAS.

Di lagu ini pula, imbuh Sammy, vokal Arian sangat ‘disiksa’. “Menurut gue vokal yang paling effort dari Arian. Rekamannya seru banget!”

Perang Bintang (04:36)

Satu lagi kejutan disuguhkan di lagu yang ditempatkan di urutan kelima ini. Sebuah nomor daur ulang milik Punk Modern Band, unit lawas dari era akhir ’80-an.

Versi aslinya yang kental akan warna new wave, termuat di album kompilasi berjudul “10 Bintang Nusantara 1” yang dirilis pada 1988 silam via label Team Records.

Menurut Khemod, peracikan lagu yang menghadirkan duet vokal Arian dan Sammy ini terbilang cukup sulit. Khususnya untuk membuatnya terdengar lebih ‘Seringai’.

Bahkan sempat menghasilkan beberapa versi hingga menjadi komposisi final yang termuat di album.

Sang Lelaki (02:52)

Sebenarnya lagu ini bukan karya baru. Bersama trek berjudul “Tragedi”, lagu ini pernah dirilis dalam format piringan hitam ukuran 7 inchi pada 2013 silam.

Pernah pula disematkan di album kompilasi “Cracked It!” rilisan MUSIKERAS, yang diproduksi dalam format CD, bekerja sama dengan label Demajors pada 21 April 2018.

Tapi khusus untuk kebutuhan “IV: Anastasis”, lagu favorit Arian tersebut direkam ulang dan di antaranya menghadirkan vokal latar dari Jill van Diest (Step Forward) dan Anida Bajumi (Amerta).

N.P.D.A (02:43)

Karya lagu yang sudah ada sejak lima tahunan lalu, akhirnya dimasukkan ke album. Satu di antara 6-7 lagu yang pernah direkam bersama Ricky Siahaan. “Tapi aslinya belum ada vokal. Salah satunya lagu ini,” kata Khemod. 

Membungkam 98 (02:11)

Lagu yang kental akan elemen hardcore punk ini mengungkap tragedi besar dalam sejarah tahun 1998 silam, yang coba ditulis ulang oleh (rezim) ‘pemenang’. “Makanya kita dapat rezim (seperti) yang sekarang, karena yang muda-muda nggak tahu latar belakangnya,” cetus Arian.

Habis Gelap Terbitlah Suram (02:18)

Menurut Seringai, lagu ini semacam ‘tribute to Slayer’. Atau bisa dikatakan, versi mereka ketika mencoba menjadi seperti band thrash metal legendaris dunia tersebut. Sementara liriknya semacam menggambarkan kondisi negara sekarang.

Pulang (04:36)

Lagu ini pernah dirilis Seringai saat masih bersama Ricky Siahaan, pada 26 November 2024. Juga menghadirkan vokal dari Januaryo Hardy (Pure Wrath).

Kini direkam ulang karena hasil rekaman versi sebelumnya, dari sisi teknis kurang memuaskan. Kali ini isian gitar dieksekusi oleh Angga Kusuma.

“Angga (memainkan) persis seperti yang dimainkan Ricky. Ada perbedaan, tapi tipis sih… yang dulu hasil rekamannya belang,” ucap Sammy mengungkap alasan.

Akar (04:50)

Sebuah komposisi instrumental yang mencekam dan suram. Dibuka dengan genjrengan gitar akustik yang terkesan mentah dan ‘gelisah’, yang lantas perlahan dibangun menuju klimaks lewat raungan gitar elektrik dan gebukan dram yang emosional.

“Satu-satunya lagu yang ada (permainan gitar) Ricky, kami tarik dari salah satu demo,” kata Sammy.

(Sammy juga memberi bocoran, bahwa ada rencana selanjutnya untuk memperdengarkan beberapa rekaman demo Seringai saat bersama Ricky, dalam proyek rilisan terpisah).

Filosofi di balik pemberian judul itu, diungkapkan Khemod untuk menggambarkan titik balik dalam satu lingkaran penuh perjalanan karier Seringai.

“Buat gue, meninggalnya Ricky kayak full circle, dari manggung di tempat-tempat gede, terus kembali ke venue-venue kecil (di Jepang). Kayak kembali ke ‘akar’!”

Tirani Lagi (02:17)

“Lagu pertama yang kami bikin tanpa Ricky. Gitarnya dimainkan oleh Angga. Influence kami dari (band asal Inggris) Bolt Thrower. Ada (elemen) death metalnya.”

Khusus info tentang lagu “Sejati” | “Senarai Feses” bisa dibaca di tautan ini. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.