Confuse Records, sebuah label rekaman independen paling kawakan di Malang telah memanfaatkan perayaan Record Store Day 2017 sebagai momentum perilisan album dari tiga band sekaligus, yaitu Bangkai, Hellsoil dan Strider dalam versi eksklusif dengan jumlah produksi yang terbatas.

Di Malang, Bangkai merupakan unit grindcore paling veteran yang telah menggeliat di skena undegrpound sejak 1994 silam hingga sekarang. Mereka dikenal sebagai penggeber musik keras berdistorsi ala Napalm Death, Brutal Truth, Repulsion, Dead Kennedy’s, hingga Discharge. Dan tidak berhenti sampai sekarang. Lewat payung Confuse Records, Bangkai yang diperkuat Erwan Stench (gitar), Inul (gitar), Eko (dram) dan Andry (vokal) di album tersebut memutuskan untuk melepas karya rekaman bertajuk “Re-Emotional Conform” – yang merupakan versi reissue dari album “Emotional Conform” (2001).
Band kedua, Hellsoil, juga merupakan pengibar genre grindcore yang cukup belia namun produktif di berbagai panggung bawah tanah seputar kota Malang. Hellsoil baru saja merekam sejumlah materi anyar yang dikemas dalam satu album bertajuk “In Grind We Bong”. Rujukan yang paling pas untuk musik mereka adalah grindcore tradisional ala Terrorizer atau Brutal Truth.
Sedangkan rilisan ketiga, Strider, menonjolkan konsep musik yang berbeda dibanding kedua band tadi. Komplotan stoner-rock asal Pandaan yang dihuni formasi Anjar (gitar), Ebing (gitar), Afir (vokal), Nico (bass) dan Putra (dram) ini mengaku ‘menuhankan’ Black Sabbath, dan melampiaskannya di album bertajuk “Defishit Moral”.
“Riff-riff dari sang ‘iron man’, Tony Iommi yang gila kami kembangkan lebih gila lagi di sini. Kami mencoba membawakan musik yang old fashion namun dikemas lebih fresh dan modern,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS.
Lalu untuk menambah daya ledak musiknya, Strider yang terbentuk sejak 1994 silam ini juga menyerap pengaruh dari band-band seperti Down, The Sword, Sleep, Church of Misery, hingga Komunal. “Defishit Moral” sendiri beramunisikan enam lagu karya mereka yang penuh bara dan sarat liukan riff magis. Plus ada tambahan dua nomor daur ulang yang cukup berbahaya, yaitu “Come Together” (The Beatles) dan “Electric Funeral” (Black Sabbath).
Proses pembuatan album “Defishit Moral” sendiri, tambah pihak band lagi, menghabiskan waktu yang cukup lama. “Hampir tiga tahun dikarenakan kesibukan masing-masing personel, seperti tugas akhir kuliah, kesibukan kerja, sampai pergantian personel sebanyak dua kali.” (mdy)
Ket. Foto: Strider (Dok. Confuse Records)