Suara-suara Rock ‘70an yang Melahirkan MOONER

Empat musisi dari empat band berbeda di Bandung sepakat berkolaborasi mengatasnamakan kegilaan pada keriuhan distortif musik-musik rock era ‘70an.  Mereka adalah gitaris Absar Lebeh (The Slave), bassis Rekti Yoewono (The SIGIT), dramer Pratama Kusuma Putra (Sigmun) dan vokalis Marshella Safira (Sarasvati), yang lantas menamakan diri mereka Mooner.

Lewat label rekaman independen, Bhang Records, Mooner pun melampiaskan gairah itu di “Tabiat”, sebuah album debut beramunisi 12 lagu yang telah dirilis dalam format fisik (CD) dan digital (iTunes, Spotify, Google Play, dan lain-lain) sejak pertengahan April 2017 lalu. Selain itu, “Tabiat” juga diabadikan dalam format kaset yang diproduksi dalam jumlah terbatas dan hanya bisa didapatkan melalui bundling package (berisi CD, kaos dan kaset).

Keseluruhan lagu di album “Tabiat” sendiri diolah lewat proses jamming sekitar setahun di Red Studio Bandung. Di departemen lirik, keseluruhan penulisan diserahkan sepenuhnya pada Rekti yang kali ini mengeksplorasi penggunaan lirik berbahasa Indonesia. Untuk proses mixing, Mooner dibantu oleh Avedis Mutter, putra Richard Mutter (dramer Pas Band) di Rebuilt 40124 Studio, sementara untuk mastering digarap oleh James Plotkin.

Perilisan album itu sendiri adalah hasil positif yang tadinya tidak terpikirkan oleh para personel Mooner. Seperti yang diungkapkan Absar kepada MUSIKERAS, bahwa awalnya tak ada kesepakatan untuk membentuk Mooner. “Awal terbentuknya itu karena (para personel Mooner) teman main skateboard dan nongkrong sehari-hari.”

Bahkan, lanjut Absar, tadinya idenya cuma mau merekam beberapa lagu untuk dijadikan soundtrack video skate. “Akhirnya malah digarap menjadi materi-materi lagu yang sekarang ada di album ‘Tabiat’.”

Bukti lain ketidaksengajaan itu adalah posisi Rekti di band ini. Jika di habitat asalnya, The SIGIT, ia dikenal sebagai vokalis sekaligus gitaris, bersama Mooner Rekti malah bereksplorasi di registrasi rendah dengan instrumen empat senar alias bass. Semuanya bermula dari proses latihan awal, mereka tak punya pemain bass. “Terus Rekti main bass, lalu memutuskan untuk beli bass, dan ternyata Rekti juga lihai bermain bass,” ungkap Absar sambil tertawa.

Kolaborasi tersebut lantas menyeret mereka ke ranah band-band rock era ‘70an luar negeri dan lokal seperti Blue Cheer, Leafhound, Flower Travellin’ Band, AKA hingga Panbers. Absar sendiri mengakui, arah musikal tersebut tak lepas dari pengaruh Rekti yang kerap menyecokinya dengan musik-musik ‘70an, serta pengalaman manggung bersama The SIGIT yang akhirnya membuatnya kecanduan akan suara-suara musik ’70an.

Tapi satu hal yang membuat Mooner menarik dan berbeda adalah kehadiran vokal Marshella Safira yang tanpa disadari menjadi benang merah bagi keragaman gubahan musik Mooner. Lagu yang berirama cepat, seperti yang tertuang di “Seruh” terdengar begitu merdu, tapi sekaligus mengentak. Sedangkan di komposisi pelan nan kelam seperti “Ingkar”, suara Marshella dapat mengimbangi heaviness dari musik latar tanpa harus kehilangan keindahan suaranya yang lembut. Pokoknya, apa yang disuguhkan para personel Mooner di “Tabiat” sukses menghadirkan sesuatu yang berbeda dari apa yang pernah mereka lakukan di band asal masing-masing. (MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *