Splitfire yang terbentuk di Jakarta pada 2010 lalu akhirnya berhasil keluar dari zona nyamannya di panggung-panggung cafe atau club sebagai band reguleran, dengan merampungkan sebuah album mini (EP) debutnya, bertajuk “Resilience”.
Kepada MUSIKERAS, Splitfire mengungkapkan bahwa bisa meluangkan waktu untuk berkarya dengan lagu-lagu ciptaan sendiri mereka anggap sebagai sebuah keunikan sekaligus pencapaian tersendiri.
“Band yang biasa reguleran tapi berani dan bisa menciptakan lagu yang berbeda dengan musik komersil pada cafe/club pada umumnya,” cetus mereka.
Band modern rock yang dihuni oleh formasi vokalis Mochammad Erich Aditya (Eric) dan Handy Prakosa, gitaris Husen Hambali (Buchenk), bassis Achmad Lutfi Maulana (Upay), dramer Bonar Scorwa serta kibordis Surya Akmal Saputra (Putra) ini memang lebih banyak ditempa di panggung-panggung reguleran.
Baik sebagai band residensi di beberapa cafe/club atau hajatan-hajatan tertentu di wilayah Indonesia sampai Asia Tenggara. Dengan pengalaman itulah para personelnya membangun kesolidan serta ikatan rasa secara personal maupun musikalitas.
Namun pada 13 Februari 2026, Splitfire memustuskan untuk melangkah ke babak baru perjalanan kariernya, dengan memperkenalkan karya orisinalnya via berbagai platform digital secara resmi. Debut bertajuk “Fever” tersebut menandai evolusi mereka dari band panggung menjadi artis rekaman.
Lalu pada 1 Mei 2026 lalu, secara resmi mereka melepas lagu rilisan tunggal berikutnya yang berjudul “Say Something”, yang menyimpan sebuah harapan dan energi positif di dalamnya
Bulan ini, juga sekaligus menjadi momentum perayaan 16 tahun perjalanan karier Splitfire di dunia musik Tanah Air.

Kompleks, Mangkrak
Proses penggarapan EP “Resilience” sendiri dijalani Splitfire secara bertahap. Dilakukan di sela-sela kesibukan manggung mereka di cafe atau club malam di kawasan Jakarta dan luar Jakarta.
Sementara untuk kreatifitasnya, mereka menyebutnya hanya meneruskan keterbiasaan mereka dalam bermusik selama ini.
“Lebih kepada keterbiasaan musik yang sering dimainkan hingga terbawa ke taste lagu yang tercipta. Dan di album ini berjenjang waktu sekitar setahun pengerjaannya,” urai mereka.
Sementara untuk referensi secara musikal, Splitfire menyebut beberapa band rock dan metal mancanegara dan lokal sebagai acuan. Di antaranya macam President, Bring Me The Horizon, Falling In Reverse, Bad Omens, Sleeping with Sirens, Linkin Park serta 510.
Tapi mereka mengakui agak susah jika harus menjelaskan apa keunikan dari musik geberan mereka. “Karena pasti orang-orang pada umumnya akan mencari dan menemukan persamaan.”
Melangkah dari pengalaman panggung dengan materi lagu-lagu cover tentu saja memberi tantangan tersendiri saat harus memulai penggarapan karya sendiri.
Dan mereka tidak memungkiri itu. Khususnya saat meracik lagu “Fever”. Karena lagu itu merupakan pengalaman pertama mereka dalam proses pengerjaannya.
Selain itu, “Secara teknis juga yang paling kompleks sehingga membutuhkan banyak revisi. Sampai-sampai lagu ini sempat mangkrak pengerjaan sampai lebih dari enam bulan!”
Untuk mendengarkan keseluruhan lagu di EP “Resilience”, bisa mengaksesnya di berbagai gerai digital yang menyediakan layanan musik digital. (mudya/MK01)
Daftar lagu di “Resilience”: