NAWAK EWED, Trio Art Rock Modern dengan Harmoni ‘80an

Sebuah trio baru bernama Nawak Ewed telah lahir dengan mengedepankan komposisi rock bernuansa ‘70an dan ‘80an yang dieksekusi dengan cara dan sound modern. Konsep itu telah tertuang di sebuah album mini bertajuk “Yang Terlupakan”, yang telah dirilis dalam format fisik (CD) secara independen, menyuguhkan lima trek berlirik plus dua komposisi instrumental yang berorientasi gitar.

Trio ini dimotori oleh Noldy Benyamin P, seorang gitaris senior yang sudah malang-melintang di panggung musik Tanah Air sejak pertengahan ‘90an. Jam terbangnya terbentang luas, di antaranya pernah memperkuat Erwin Gutawa Orchestra, Twilite Orchestra, Magenta Orchestra, Dian HP Band, Purwacaraka Band, Tohpati Orchestra hingga Chrisye. Kini, Noldy juga tergabung di formasi band rock The KadriJimmo. Dua personel Nawak Ewed lainnya adalah Hengky Saing, vokalis band rock Maximum Theory yang pernah pula merilis album solo bertajuk “Samudera Impian” via Aquarius Musikindo (2006) serta Tatok Utoro, sosok penulis seluruh lirik dan lagu di album perdana Nawak Ewed.

Nama Nawak Ewed sendiri merupakan cara baca terbalik dari kata “kawan dewe” atau yang berarti “kawan sendiri” dalam bahasa Jawa. Membolak-balik kata adalah kebiasaan arek (orang) Malang yang terbilang lumayan ngetrend. Dan ya, ketiga personel Nawak Ewed memang berasal dari Malang, salah satu kota di Pulau Jawa yang merupakan kantong penghasil musisi rock potensial di Tanah Air.

Lebih jauh tentang album debut Nawak Ewed, Noldy mengurai konsepnya kepada MUSIKERAS. Menurutnya, di sini ia menekankan pada penempatan harmoni lagu bernuansa era ‘70an atau ‘80an yang lebih kekinian. “Karena lagu-lagu sekarang pun banyak harmoni-harmoni tahun ’70, ’80an dan ternyata selalu enak didengar asal dengan penempatan yang tepat. Secara musikalitas kami ingin soundnya tetap ada rasa era ’80an, tapi kami mainkan dengan teknik sekarang, baik dari segi permainan gitar maupun teknik rekamannya. Musik, kalau memang sudah bagus, entah itu (lagu) tahun ’50, ’60 atau ’70an, kalau kita kerjakan dengan serius pasti (hasilnya) akan bisa lebih bagus lagi.”

Formula yang sama juga diterapkan dua komposisi instrumental berjudul “Alun-Alun” dan “Pasar Klojen” yang menjadi trek pembuka dan penutup album. “Progresi lagu ‘Alun-Alun’ agak modern, tapi sound tetap gaya ’80an. Lagu ini sebenernya terinspirasi dari dramer Jeff Porcaro (Toto) dengan shuffle beat-nya. Di lagu ‘Pasar Klojen’ itu pengen membawa ke masa lalu di Pasar Klojen (di Malang), tema melodi lagunya minimalis, ada rasa not lagu main-main semasa kecil. Pas bagian solo gitar aja yang pengen sedikit eksplor.”

Namun satu hal lagi yang membuat Noldy sangat menikmati penggarapan album ini adalah kepuasan berekspresi sesuai dengan idealisme. “Bisa memilih sound gitar sendiri, bikin lagu sendiri sesuai selera, dan membuat musik sesuai keinginan kita sendiri itu yang membuat kami puas, walaupun kami tahu (mungkin) nggak bisa jualan.”

Untuk mengeksekusi porsi vokal, Noldy mengajak Hengky Saing yang dianggapnya mempunyai karakter vokal yang asik. “Nada tingginya bagus,  nggak tipis, masih tebel dan utuh. Di lagu yang mesti ngerock, power-nya juga nggak berkurang, dan orangnya juga bisa kerja sama dengan enak. Punya visi yang sama. Itu yang penting!”

Bagi Hengky sendiri, bernyanyi untuk Nawak Ewed memberi tantangan baru, yang berbeda dibanding pengalamannya sebelumnya. “Apalagi ada part yang powerful, tapi tetap harus soulful. Di situ yang agak susah,” ungkapnya.

Saat ini, album Nawak Ewed masih tersedia dalam jumlah terbatas. Namun dalam waktu dekat, lagu-lagunya juga bakal tersedia dalam format digital. (MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *