Tekad Baja Unit Metalcore Asal Banten, END OF CIRCLE

Dari kota kecil di pesisir pantai Labuan, Banten, unit metalcore End Of Circle bertekad kuat untuk bisa menjadi band yang konsisten berkarya, seperti salah satu band yang mereka kagumi, Burgerkill. Belum lama ini, mereka telah meluncurkan single bertajuk “Naungan Kepedihan”, sebuah lagu yang sebenarnya sudah mereka rekam pada 7 November 2011, sebulan setelah End Of Circle lahir.

Tapi dalam perjalanannya, lagu tersebut beberapa kali mengalami perombakan aransemen. Menurut penuturan pihak band kepada MUSIKERAS, awalnya “Naungan Kepedihan” direkam di sebuah studio lokalan bernama Scratch Off Studio, tanpa proses penataan suara (mixing) dan pelarasan suara (mastering). Lalu, dua tahun kemudian, tepatnya 25 September 2013, Jehan (scream/growl), Hilman (bass/clean vocal), Vaisal (gitar) dan Egi (dram) kembali berniat mengaransemen ulang “Naungan Kepedihan” dan merekamnya di Oberheim Studio, Bekasi. Namun gagal diselesaikan. Usaha berikutnya berlangsung pada 13 Oktober 2015 di Seventh Records, Mampang, Jakarta. Akhirnya, usaha ketiga inilah yang berhasil. Mereka menuntaskan rekaman sekaligus eksekusi mixing dan mastering.

Rencananya, setelah perilisan single, End of Circle juga bakal merampungkan album debutnya yang bertajuk “Resurgence” tahun ini juga. Karya rekaman ini juga merupakan kelanjutan dari rencana perilisan album mini (EP) bertitel “Wild Life” yang gagal. Ceritanya, pada 2013 lalu, mereka telah merekam lima lagu yang berjudul “Karbala”, “Parade Doa Murka”, “Waham Paranoid”, “Secret Of Wild Life” dan “Naungan Kepedihan”.

“Tapi sayangnya gagal panen karena beberapa faktor yang menghambat, seperti bongkar pasang personel dan lain-lain. Tapi yang jelas, faktor utamnya biaya,” ulas pihak band lagi.

Di akhir 2015 lalu, End of Circle memulai penggarapan “Resurgence” dan progresnya sudah mencapai 80%. Memuat 10 lagu, dan tiga di antaranya adalah lagu lama. “Inshaa Allah akan rampung akhir tahun ini.”

Secara resmi, End Of Circle mulai menggeliat pada 8 Oktober 2011, namun cikal bakalnya sudah eksis sejak September 2008 silam menggunakan nama Raining In April. Perbedaan pendapat serta perubahan personellah yang menggiring band tersebut memutuskan ganti nama. Sejak awal, metalcore sudah menjadi paham utama musiknya, yang antara lain terinspirasi dari band-band seperti As I Lay Dying, Miss May I, Bullet For My Valentine, Asking Alexandria dan Burgerkill.

Untuk mendapatkan perhatian dari skena metal di Indonesia, para personel End Of Circle sama sekali tidak menganggap jarak geografis sebagai penghambat laju karir mereka. Sampai hari ini, mereka sudah pernah menjajal berbagai panggung di Tangerang, Jakarta, Bekasi, Depok, Bandung hingga Surabaya, serta tentunya, daerah-daerah di seputaran kota kelahiran mereka seperti Labuan, Pandeglang, Rangkasbitung, Serang dan Cilegon.

“Meskipun kami berasal daerah terpencil, jarak tidak menjadi batasan kami untuk bermusik. Kami selalu percaya, hal yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan hasil yang maksimal. Yang penting happy, nikmatin prosesnya!” (MK01)

.

 

2 comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
festering scum
Read More

FESTERING SCUM: Cetuskan Debut ‘Hardgore’

Terpicu riff lambat yang ‘beracun’, Festering Scum terbentuk, lahirkan karya rekaman yang sarat ‘cipratan darah’ oplosan metal dan hardcore yang brutal.
morbid
Read More

MORBID: Reuni Atas Nama Musik Metal

Hampir tiga dekade vakum, kini Morbid melanjutkan hajatan reuninya dengan kembali melepas lagu rilisan tunggal terbaru bertajuk “Bayangan Hitam”.