FESTERING SCUM: Cetuskan Debut ‘Hardgore’

Terpicu riff lambat yang ‘beracun’, Festering Scum terbentuk, lahirkan karya rekaman yang sarat ‘cipratan darah’ oplosan metal dan hardcore yang brutal.
festering scum
FESTERING SCUM

Festering Scum adalah nama baru di ranah musik keras yang menyeruak dari sudut gelap Kota Marmer Tulungagung, Jawa Timur. Band ini menghembuskan aroma menyengat dari oplosan hardcore dan death metal serta groove berat yang menghantam kepala tanpa ampun.

Terbentuk pada awal 2026, proyek ini berawal dari keisengan gitaris sekaligus pendirinya, Aditya Prakoso yang membuat materi yang lebih lambat, groovy dan mudah dinikmati.

Tanpa diduga, racun riff yang lahir justru terasa terlalu nikmat untuk dibiarkan membusuk begitu saja. Kepada MUSIKERAS, Aditya menyebut inspirasinya datang dari para pelaku death metal/hardcore area New York, AS.

“Pada tahun-tahun awal era 90-an, cukup banyak band yang mengombinasikan genre tersebut dan influence band dari wilayah lain, juga beberapa band yang sedang come up saat ini di genre yang sama,” urainya.

Antara lain mereka menyebut band-band asal AS seperti Dehumanized, Mortal Decay, Traumaside hingga Soils of Fate (Swedia).

Dari momen inilah Festering Scum mulai dibentuk dan resmi bergerak. Diperkuat pula oleh dramer Azzanul Andrean, vokalis Afdonea Ananta serta bassis Dimas Panji Ramadhan.

Formasi ini lantas memainkan musik dengan nuansa riff yang berat, groovy, cukup brutal dan siap menebar teror, yang mereka sebut dengan istilah ‘hardgore’.

Inti dari formula musik Festering Scum, adalah memilih pendekatan yang lebih sederhana, namun tetap menghantam secara langsung. Tidak banyak teknik yang berlebihan, tidak rumit serta tidak bertele-tele.

Fokus utama mereka hanya satu: menciptakan lagu yang brutal, mudah dinikmati, namun tetap meninggalkan rasa tidak nyaman yang membekas di kepala para pendengar.

Cipratan Darah

Pada 3 Juni 2026 lalu, formula itu telah dilampiaskan lewat peluncuran lagu rilisan tunggal debut bertajuk “Remnants of Decay”.

Sebuah karya pemanasan sebelum memperdengarkan album mini (EP) “Inside The Guiltless Mind” yang akan dilesatkan via label BrutalMind Records pada Agustus tahun ini.

Rencananya, EP tersebut bakal disesaki empat komposisi keras yang terdiri dari “Bloodlust Drives”, “Purulence Gestation”, “Liquified Body” serta “Remnants of Decay” tentunya.

Karena didasari kesamaan selera dari para personelnya, maka proses kreatif penggarapan EP “Inside The Guiltless Mind” terbilang mengalir cepat dan nyaris tanpa hambatan.

Pasalnya, selain masalah selera, para personelnya pun telah berpengalaman memainkan komposisi death metal, hardcore, metalcore di band-band mereka sebelumnya; Gerogot, Vision Decay, Everything Forsaken, Stagnated dan Cardiomyopathy.

“Jadi saling bertukar ide dalam proses pembuatan single maupun EP ini terasa mengalir, juga sangat menyenangkan.”

Sementara untuk para metalhead yang haus akan guyuran distorsi metal, pihak Festering Scum menyebut materi EP “Inside the Guiltless Mind” bakal sangat menarik dan bisa menjadi salah satu opsi bagi para pendengar hardcore hingga musik ekstrem.

“Tentunya layak untuk dinanti, musik yang penuh entakan dan cipratan darah brutal yang tertuang dalam musik kami, yang kami sebut ‘hardgore’.”

Materi EP “Inside the Guiltless Mind” sendiri telah selesai direkam secara penuh. Untyuk isian rekaman gitar, bass dan vokal diekskeusi di markas Aditya Prakoso. Sementara rekaman dram dilakukan di Volcanic Studio milik Muhammad Avan (Demented Heart).

Keseluruhan pemolesan mixing dan mastering dipercayakan kepada Indra Cahya dari Texas Sicklab untuk menghasilkan takaran bunyi yang padat, berat dan tetap kasar sesuai identitas Festering Scum.

festering scum

Serial Killer

Lagu “Remnants of Decay” sendiri merupakan sebuah rilisan yang menyelami sisi paling rusak dan gelap dari pikiran manusia. Mengangkat berbagai perspektif yang lahir dari isi kepala seorang pembunuh berantai (serial killer).

Mulai dari dorongan brutal saat melakukan aksi, tekanan mental yang membusuk di dalam kepala, hingga pengaruh ‘drugs’ yang memantik hasrat menyimpang dan imajinasi sadis di luar batas kewarasan manusia pada umumnya.

Atmosfernya juga terinspirasi dari film-film gore lawas era 70-80-an yang dipenuhi nuansa hardcore, ketegangan, jeritan putus asa, kesunyian hingga semburan darah abstrak yang terasa begitu tak manusiawi.

“Ini menjadi sebuah pengalaman untuk menikmati alur seorang serial killer sekaligus cerita horor klasik yang tertumpahkan ke dalam nuansa musik yang brutal, groovy dan agressive. Selayaknya menonton sebuah gore film. Enjoy the soaked blood in your face,” seru sang vokalis, Afdonea.

Sambil menantikan perilisan EP debutnya, Festering Scum bakal mulai konsentrasi mencari hajatan panggungan demi menyebarkan virus hardgore mereka yang sadis dan tanpa kompromi.

Dengarkan “Remnants of Decay” di laman Bandcamp, termasuk video musiknya di kanal YouTube. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
morbid
Read More

MORBID: Reuni Atas Nama Musik Metal

Hampir tiga dekade vakum, kini Morbid melanjutkan hajatan reuninya dengan kembali melepas lagu rilisan tunggal terbaru bertajuk “Bayangan Hitam”.
human target
Read More

HUMAN TARGET: Terasuki Black Metal

Dari Salatiga, Jawa Tengah, Human Target memanaskan jalannya menuju pelampiasan album mini (EP) lewat rilisan “No Evil / Refuge and Fortress”.