Keberanian DOOMNATION Akhirnya Tersalurkan lewat EP “Purge”

Usai dibuka dengan peluncuran single dan video bertajuk “The Conquering Tyrants” pada awal 2017 lalu, band metal asal Bandung, Doomnation kembali memantik kobaran single terbaru. Kali ini bertajuk “Purge”, yang juga merupakan judul album mini (EP) Doomnation yang bakal dirilis via label Omegawave Records pada 17 September 2017. Selain “Purge”, juga menghadirkan lagu berbahaya lainnya berjudul “Rising Chaos”, “Dialora” dan “Illusive Elegy”.

Saat menggarap video klip untuk “Purge”, Galva (vokal), Ray (gitar), Openx (gitar), Rey Elly (gitar), San (bass) dan Bozieuw (dram) yang berkolaborasi dengan H-DOC sebagai pengeksekusi video memasukkan berbagai ide dari album mini “Purge” agar ‘benang merah’ album bisa tersampaikan dengan baik secara visual.

Di video tersebut, digambarkan dua orang yang berbeda karakter yang sedang bertikai. Karakter pertama diperlihatkan sedang bermain catur, yang merupakan simbolisasi oknum pemangku jabatan – sebuah strata tertinggi dalam suatu jajaran pemerintahan – yang memainkan permainan adu strategi. Dalam pengambilan keputusan, sang penguasa ini kerap dipengaruhi bayang-bayang dari tokoh sentral yang mempunyai andil untuk menjadikan karakter seorang pemimpin dalam suatu rezim. Sehingga dalam pengambilan keputusan terkadang tidak mewakili kepentingan rakyatnya, melainkan kepentingan golongan tertentu saja. Karakter satunya lagi adalah ‘sang penjagal’ (simbolisasi gerakan pemberontakan) yang mempunyai prilaku sadis. Dia lahir di saat situasi bangsa sangat tidak diperhatikan oleh ‘oknum pemangku kekuasaan’, atau dengan kata lain kediktatoran pemangku kekuasaan menjadi pemicu lahirnya pergerakan pemberontakan untuk melakukan ‘pembersihan’ (purge).

Dari segi konsep musikal, proses kreativitas di balik penggarapan “Purge”, menurut para personel Doomnation, lumayan berbeda dibanding “The Conquering Tyrants”. “‘Purge’ adalah tingkatan Doomnation selanjutnya,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS menegaskan.

Menurut mereka, “The Conquering Tyrants” menandai fase awal lahirnya Doomnation yang kurang lebih menggambarkan musik mereka sebagai perkenalan. “Jadi dari segi sound, riff-riff gitar dan lainnya harus lebih di depan dibanding sebelumnya. Bisa didengar di lagu ‘Purge’ yang kami tambahkan unsur clean voice. Kami berusaha lebih jujur dan berani untuk ‘mengungkapkan’ (musik kami).”

Masalah teknis pengolahan sound memang menjadi salah satu fokus utama Doomnation saat penggarapan “Purge”. Cukup lama prosesnya dan kerap melahirkan ketidakpuasan dalam proses penulisan lagu. “Banyak detail untuk vibe dan theme untuk ‘Purge’ itu sendiri. Banyak saran dari tiap personel untuk detail setiap lagu. Kami lebih serius untuk penggarapan materi dan konsep.”

Lebih jauh, Doomnation juga mengaku banyak melebur berbagai elemen metal di “Purge”. Karena setiap personel datang dari latar belakang berbeda-beda, plus keunikan selera tersendiri. “Kami coba ekspresikan mixture tersebut ke dalam musik Doomnation, dan inilah hasilnya. Dan pastinya setiap orang mempunyai inspirasi dalam hidupnya tak terkecuali dalam hal musik. Hal itu menjadi sesuatu yang berpengaruh terhadap materi pada setiap lagu. Tapi kami di sini sepakat bahwa influence untuk Doomnation bakal tidak jauh dari scene metal. Perkembangan musik yang ada pada saat ini, semakin memudahkan kami untuk mencari dan menggali referensi mengenai musik, yang mungkin ke depannya bisa dikombinasikan dan menjadi sesuatu yang baru di scene kami.”

Doomnation dibentuk pada Maret 2015, yang mereka sebut terlahir dari tingkat keseriusan berkarya dari tiap individu personel. Mereka juga mengetengahkan  prinsip kekeluargaan dalam bermusik. Atau dengan kata lain, band adalah keluarga kedua, yang mencakup ide-ide dan konsep lagu, materi musik yang akan dimainkan, karakteristik sound hingga ke perencanaan lainnya. (MK01)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.