SUNSETKILLA Merilis Ulang “40.000 Mil” ke dalam Format Kaset

Walau secara resmi telah dirilis pada Maret 2017 lalu, namun unit psychedelic rock Sunsetkilla merasa masih perlu menorehkan sejarah lain terhadap album mini (EP) perdananya yang bertajuk “40.000 mil”. Kini, setelah merilisnya dalam format cakram padat (CD) serta digital yang tersebar di berbagai gerai seperti Spotify, Deezer, Amazon MP3, iTunes hingga Apple Music, band asal Bandar Lampung tersebut juga memproduksinya dalam kemasan kaset.

Peluncuran resminya sendiri memanfaatkan momentum hajatan Cassette Store Day yang berlangsung pada 14 Oktober 2017 lalu. Sunsetkilla yang dihuni formasi Krisna (vokal/gitar), Azka (gitar), Davin (bass) dan Abeng (dram) merilis versi kaset “40.000 mil” dalam jumlah yang sangat terbatas via label independen asal Bogor, Kick It Records. Produk kaset tersebut bisa diperoleh di Jakarta (@warung musik), Bogor (@eternalstorebgr), Bandung (@loubelleshop), Yogyakarta (@rilisan_fisik), Solo (@alphaomegarecs) dan Surabaya (@cempaka_musicstore).

Lalu apa alasan utama Sunsetkilla merilis “40.000 mil” ke dalam format kaset? “Pada awalnya kami melihat di kota kami sendiri belum ada yang merilis karyanya menggunakan kaset, dari situ kami berinisiatif untuk merilis EP ini dalam format kaset, sekaligus ingin memberi kesan kenangan nostalgia pada era kejayaan kaset pita yang memang sekarang digemari kembali,” urai pihak band kepada MUSIKERAS.

Bisa dibilang, “40.000 mil” yang beramunisikan empat trek kebanggaan mereka, yaitu “Manusia”, “Mati Lampu”, “Jalan Besi” dan “Modra” adalah anak pertama yang terlahir dari rahim Sunsetkilla, sejak terbentuk empat tahun silam. Proses penggarapan yang cukup panjang, yang lantas menjadi dasar pemilihan judul “40.000 mil”.

“Penggarapan EP ini kurang lebih memakan waktu satu tahun,” cetus Sunsetkilla lagi melanjutkan. “Karena dalam proses penggarapannya, memang sempat ada berbagai macam penyesuaian internal, seperti bongkar pasang personel, penyocokan chemistry antar personel dan kematangan konsep yang dapat menjadikan Sunsetkilla dikenal karena identitasnya sendiri. Semua materi direkam di studio milik teman kami, Stefano. Prosesnya benar-benar lumayan rumit sampai ’40.000 mil’ ini lahir. Makanya kami beri nama ’40.000 mil’ yang memiliki representasi sebagai awal perjalanan kami yang panjang.”

Lebih jauh, Sunsetkilla juga menjabarkan pesan-pesan di balik empat lagunya tadi. Lewat lirik lagu “Manusia”, mereka ingin mengingatkan manusia agar selalu bersyukur dan tidak banyak mengeluh. Lalu di lagu “Mati Lampu”, ada sindiran halus terhadap PLN (perusahaan listrik milik negara) karena seringnya terjadi pemadaman listrik bergilir dengan alasan yang tak masuk akal. Di lagu “Jalan Besi”, Sunsetkilla melantunkan bentuk simbolis dari terbentuknya Sunsetkilla. Sementara di lagu terakhir, “Modra”, ada tuturan pesan agar jangan terlena dengan kemajuan arus teknologi yang ada. “EP ’40.000 mil’ ini juga sebagai pengenalan identitas dan simbol dari awal perjalanan kami yang masih sangat jauh!”

Sekadar tambahan informasi, lagu “Manusia” sendiri juga termuat di album kompilasi “The Sound Of UrbanGigs 2017”, dalam sebuah komposisi bertajuk “Sesari Selagu”.

Pada awal terbentuk, Sunsetkilla lahir dari sebuah band bernama ‘Jendela Nusantara’, yang lantas berubah nama lagi menjadi ‘R.A.K.A’. Bongkar pasang personel kerap mendera band ini, hingga pada akhirnya hanya menyisakan vokalis dan gitaris Krisna. Akhirnya, pada 27 Maret 2015, Krisna memutuskan membentuk band lagi menggunakan nama ‘Sunsetkilla’ dengan konsep dan materi baru yang sangat berbeda dibanding sebelumnya.

Nama Sunsetkilla sendiri, menurut uraian pihak band, sebenarnya diawali pengamatan mereka melihat fenomena momen matahari terbenam (sunset) yang selalu dicari oleh orang-orang untuk dinikmati keindahannya. “Orang-orang sampai rela datang jauh-jauh ke tempat yang bahkan sulit dijangkau hanya untuk sekadar melihat sunset. Filosofi inilah yang membuat kami menggunakan nama Sunsetkilla agar selalu dicari orang-orang!”

Untuk musik, secara garis besar para personel Sunsetkilla menggabungkan elemen rock dari era kejayaan ‘60an sampai hari ini. Dari sanalah mereka menyerapnya, dan lantas meleburnya dengan racikan dan komposisi ala mereka sendiri. “Karena kami memiliki kesamaan selera musik yang sama dan berusaha untuk selalu jujur. Setiap kali kami bermain musik, yang keluar selalu seperti itu. Dari sinilah kami memilih psychedelic rock sebagai agama utama.” (Mdy/MK03)

 

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.