LAST BLOOD, Berkarya Hingga Tetes Darah Terakhir

Bagi Last Blood, unit metal asal Jakarta Timur, penegasan sub-genre musik yang mereka mainkan bisa dibilang tidak terlalu penting.  Orang-orang menyebut aliran mereka ‘deathcore’. Tapi pihak Last Blood sendiri tidak ingin memaku diri pada genre tertentu.

“Sebenernya bukan kami yang menyebut genre kami itu deathcore,” cetus Last Blood kepada MUSIKERAS. “Bagi kami, kami hanya berusaha bermain musik dengan jujur dan sesuai dengan apa yang kami rasakan. Genre (deathcore) itu sendiri timbul dari komentar-komentar kawan-kawan dan orang lain yang sudah mendengar materi kami dan melihat kami perform. Bagi kami, genre bukan ukuran setiap band harus seperti apa dan bagaimana…. Bersikap jujur dalam bermusik bagi kami lebih penting dibanding terpaku pada genre tertentu.”

Saat ini, Last Blood yang dihuni formasi Agoy (dram), Binyo (bass), Alan (gitar), Adhit (gitar) dan Rizal (vokal) tengah bersiap menggodok materi album pertamanya, yang rencananya dieksekusi selama kurang lebih dua bulan di Rintop Studio dan Apache Studio. Namun sebagai pembuka jalan, mereka telah memanaskan kuping metalhead lewat single perkenalan bertajuk “Arus Liar”. Last Blood sendiri menggarap rekaman “Arus Liar” hanya dalam sehari, menghabiskan satu shift penggunaan studio rekaman. Sementara untuk proses mixing dan mastering membutuhkan waktu selama tiga hari.

Alhamdulillah, prosesnya berjalan sesuai harapan dikarenakan masing-masing personel bukan orang baru di dunia musik. Ditambah lagi, kami sudah sering berlatih dan memang sudah siap sekali untuk proses rekaman di lagu ini.”

Last Bood sendiri merupakan reinkarnasi sebuah band bernama Ambisi yang dibentuk pada 2015, dengan formasi Alan, Agoy, Krisna (gitar), Dongeng (vokal) dan Ica (bass). Namun dalam masa gerilyanya di skena ‘bawah tanah’ Tanah Air, Ambisi mengalami perombakan personel. Pada pertengahan 2017, band ini menemukan formasi terbaiknya, yang diperkuat Agoy, Binyo, Alan, Adhit dan Rizal. Nama Ambisi pun lantas digantikan dengan Last Blood. Selain itu, konsep musik pun ikut berevolusi, dengan penyajian yang lebih fresh, dimana mereka melebur berbagai pengaruh seperti hardcore, death metal hingga alternative rock dari tiap personel.

“Kami tidak memiliki batasan untuk referensi musik, dan kami tidak mau jadi pengikut harus seperti siapa musik kami. Kami ya Last Blood. Musik kami jujur dengan semua kemampuan yang kami punya, dan berharap kami bisa memberikan warna baru di skena musik keras di Indonesia dan internasional!” (Mdy/MK01)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
incremation
Read More

INCREMATION: Kini Dinaungi Label Asal AS

Melalui New Standard Elite, Incremation merilis “Litany of Deliverance” yang sedikit banyak merupakan gambaran awal dari wajah album terbarunya nanti.
analtopsy
Read More

ANALTOPSY: Semakin Sadis dan Gelap

Melalui album mini (EP) “Septic Overload”, Analtopsy melangkah lebih jauh, dengan distorsi yang lebih berat, lebih kotor dan lebih brutal dari sebelumnya.
antrodemus
Read More

ANTRODEMUS: Death Metal 70-an?

Album terbaru Antrodemus, “Annihilation” memperlihatkan arah baru musik mereka yang semakin progresif, yang menyatukan agresi ekstrem dengan refleksi filosofis.
tcwc
Read More

TCWC: ‘Genosida’ Berdaya Ledak Tinggi

Suarakan perlawanan terhadap manipulasi politik dan agama, The Chance We Created (TCWC) melepas lagu baru, sebuah pesan sosial-politik yang sangat berani.