Antrodemus mengawali petualangannya sebagai unit technical death metal asal Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang dibentuk oleh gitaris dan vokalis Ramzi Firhad pada 2009 silam.
Tiga belas tahun kemudian, jauh dari tanah kelahirannya, proyek ini menemukan bentuk baru di Bandung, Jawa Barat bersama Muhammad Pradita di balik perangkat dram, menjelma menjadi sebuah duo dengan visi musikal yang semakin ambisius.
Singkat cerita, kini Antrodemus telah merilis album penuh keempat mereka, yang bertajuk “Annihilation” yang memuat sembilan amunisi sarat manuver musikal.
Duo ini menyebut album tersebut sebagai karya mereka yang paling konseptual sekaligus paling progresif sepanjang perjalanan kariernya.
Masih berpijak pada fondasi technical death metal dan black metal yang telah menjadi identitas mereka selama tiga album sebelumnya. Namun kali ini, lanskap musikalnya diperluas dengan menyerap bahasa prog-rock klasik.
Ramzi mengungkapkan kepada MUSIKERAS, bahwa band-band prog-rock legendaris asal Inggris seperti Yes, U.K., Rush, hingga Emerson, Lake & Palmer cukup kuat memberi pengaruh dalam penggarapannya.
Selain itu, ia juga mendengarkan “OST Final Fantasy” karya Nobuo Uematsu, yang ternyata juga terpengaruh dari musik-musik karya Emerson, Lake & Palmer.
Namun keseluruhan referensi itu tidak dihadirkan sekadar sebagai tempelan nostalgia. Namun dilebur menjadi bagian dari arsitektur komposisi yang kompleks, dinamis dan brutal.
“Dari arahan produksi, saya berandai ada dunia paralel dimana death metal lahir di era 70an,” cetus Ramzi yang juga berperan sebagai produser dan mengeksekusi isian bass, kibord sekaligus desain sampul album.
“Saya sangat suka sound dram yang dead, damped, tight and dry. Saya juga sangat suka sound bass yang growling ala Chris Squire (Yes) lengkap dengan layering Hammond Organ.”
Secara teknis musikal, lanjut Ramzi, elemen prog rock dibutuhkan untuk kebutuhan narasi musik tentang keterasingan lintas zaman. Dan dukungan sang dramer Pradita, berhasil melengkapi visi tersebut dengan sangat baik.
“Pradita seorang session player profesional yang sangat terbuka berbagai genre. Di sini ia diberikan ruang berekspresi atas kecintaannya bermain dram secara menantang. Ia sangat suka ketukan ganjil dari berbagai genre.”

Tulang-Belulang
Proses kreatif penggarapan album “Annihilation” dikerjakan sendiri oleh Ramzi pada periode Januari hingga Oktober 2025 lalu di Bandung, mengandalkan perangkat rekaman studio rumahan yang diberi nama Gravehouse Studio.
Sesuai namanya, studio itu memang dibangun dekat dari area pemakaman. Tepatnya di seberang kuburan.
“Grounding di studio ini sangat menyulitkan karena kuatnya setruman listrik walau sudah diberi isolator. Setelah beres rekaman warga mengatakan konon di dalam tanah studio saya masih banyak tulang-belulang yang belum direlokasi,” tutur Ramzi santai.
Peracikan materi lagu-lagu di “Annihilation” diawali Ramzi lewat penentuan konsep serta mood, yang lantas diwujudkan dalam format komposisi dram Midi kasar. Lalu terbentuklah struktur konvensional; verse, pre-chorus, chorus. Lalu diotak-atik sesuai kebutuhan.
“Groove yang sudah terbangun lalu diisi oleh bass, gitar dan vocal pattern. Lalu diserahkan ke dramer di Kalsel untuk dimanusiakan, baru diisi dengan keyboard. Lalu editing, mixing dan artwork dikerjakan secara paralel. Lalu mastering.”
Komposisi dram, bass dan kibord dikomposisikan seperti progressive rock era 70-an, walaupun ada terapan teknik blastbeat di dram. Kemudian ditimpa oleh vokal dan gitar yang bernuansa blackened.
“Untuk isian gitar, secara spontan saya mengandalkan muscle memory permainan metal saya,” ujar Ramzi menegaskan.
Sebelum disatukan dalam sebuah album penuh, Antrodemus mengawalinya dengan memperdengarkan dua lagu rilisan tunggal sebagai pemanasan.
Dimulai dengan lagu “Annihilation”, lalu disusul “Pandemonium” yang menghadirkan vokal Agustinus Widi dari Infernal Lamentations.
Sebagai kolaborator, Widi berkontribusi mempertegas atmosfer kekacauan yang dibangun dari persilangan prog-rock dan death metal.
“Pandemonium”, juga disebut oleh Ramzi sebagai komposisi yang paling menantang eksekusi rekamannya. Merupakan pertemuan brutalitas dengan prog-rock 70-an bertempo cepat, dengan terapan pergantian tanda birama (time signature) ganjil serta perubahan tempo dari uptempo ke half time secara dinamis.
“Cukup menantang saat rekaman dan dibawakan live. Sesuai tema lagu yang dibawakan tentang alienasi digital yang serba cepat, perubahan emosional lagu yang dinamis sembari switching mode bermain agresif, progresif dan menenangkan harus dihadirkan.”
Alienasi Digital
Ambisi album ini, bagi Antrodemus tidak berhenti pada eksplorasi musikal. Kesembilan lagu di dalamnya membentuk satu narasi utuh tentang perjalanan eksistensial seorang tokoh yang disebut Sang Pencari.
Sebuah pengembaraan spiritual yang bergerak dari panggilan Ilahi, keterasingan, kehancuran dunia, krisis iman hingga akhirnya mencapai peleburan total dengan semesta.
Di sepanjang perjalanan itu, tema-tema yang meliputi mesianisme, bencana ekologis, absurditas kehidupan modern, alienasi digital, nihilisme dan pencarian makna saling bertaut menjadi satu kisah yang berkembang dari lagu ke lagu.
Sebelum “Annihilation”, Antrodemus telah merilis album “Blinded by The Light” (14 Juni 2010), “Post Human” (14 Juni 2018) dan “Conjuration” (1 Juli 2024).
Keseluruhan album, termasuk yang terbaru bisa didengarkan di tautan laman Bandcamp resmi Antrodemus ini. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan lagu:
- Angel’s Call
- Farewell
- Sunless
- Pandemonium (feat. Agt.Widi)
- Run into the Void
- The Shoreless Ocean
- Scorching Wind
- The Unclean One
- Annihilation