Incremation menandai awal dari fase baru perjalanan mereka di jenjang internasional melalui kolaborasi dengan label asal Amerika Serikat, New Standard Elite.
Kerja sama itu diwujudkan oleh unit brutal death metal asal Malang, Jawa Timur tersebut lewat peluncuran lagu rilisan tunggal terbarunya, yang bertajuk “Litany of Deliverance”.
Pertemuan dengan pihak label New Standard Elite sendiri bisa dibilang bermula dari sebuah ulasan tentang album “Dilapidated Psyche” (dirilis pada 22 Februari 2022) yang masuk dalam daftar rilisan band brutal death metal terbaik versi Artifact of Brutality Magazine.
Adalah Ryan Bakker yang menulis ulasan tersebut. Sekitar tiga tahun kemudian, Ryan mendirikan label New Standard Elite.
“Waktu itu, kami hanya tahu kalau dia adalah orang media,” urai Incremation kepada MUSIKERAS mengungkapkan.
Dari sini, vokalis dan gitaris Meigo Badio Putra Christy serta dramer Danang Agus Saputro pun akhirnya sering bertemu dengan berbagai orang yang suka dengan album “Dilapidated Psyche”.
Hingga suatu saat, band ini iseng berbicara dengan James Shuster (vokalis Necessary Death, band asal AS) jika sedang menyiapkan materi baru. Namun memang belum bergabung dengan label manapun.
“Akhirnya James menyarankan kami untuk menghubungi Ryan. Sempat ada rasa ragu karena kami belum memulai sesi rekaman.”
“Hingga pada akhirnya, kami coba hubungi Ryan, dan semua sesuai ekspetasi kami. Sangat beruntung bisa bergabung dengan rumah brutal death metal yang sesuai dengan warna musik kami.”
Proses pengerjaan “Litany of Deliverance” sebenarnya sudah berjalan semenjak 2023 lalu, setelah album pertama dirilis.
Kemudian, dengan berbagai lika-liku band yang terjadi, akhirnya lagu tersebut baru siap direkam pada Juni 2026 di G10 Music untuk pengisian dram dan di Longspace Project Workspace untuk gitar, bass dan vokal.
Dalam proses produksinya, mereka dibantu oleh Yasa Wijaya untuk teknis perekaman dram dan Ananta Pramana untuk pemolesan mixing serta mastering.
Refleksi Paradoks
Selain sebagai gerbang pembuka, “Litany of Deliverance” juga menjadi pintu menuju arah musikal dan konseptual yang tengah dikembangkan Incremation untuk album kedua mereka.
Melanjutkan benang merah yang sebelumnya telah dibangun melalui album “Dilapidated Psyche”, Incremation kembali menempatkan realitas manusia sebagai sumber utama semburan narasinya.
“Penulisan lirik kami juga mengalami pendewasaan, dimana kami tidak selalu membahas tema gore ataupun pembunuhan fantasi yang ceritanya hanya fiktif.”
Berbagai peristiwa nyata dijadikan pijakan untuk melihat kembali bagaimana kekerasan dapat tumbuh, diterima, bahkan dibenarkan ketika manusia kembali terjebak dalam cara pandang yang primitif.
Bagi Incremation, persoalan tersebut bukan hanya tentang konflik dalam bentuk fisik, tetapi juga mengenai proses terkikisnya nurani—ketika kepentingan, kekuasaan, keyakinan atau pembenaran tertentu perlahan mengambil alih kesadaran manusia.
Tema inilah yang kemudian diterjemahkan melalui “Litany of Deliverance”. Sebuah refleksi mengenai manusia yang hidup di tengah paradoks antara keinginan untuk terbebas dan kecenderungan untuk terus melahirkan bentuk-bentuk kekerasan baru.

First Sequence
Dari sisi musikal, Incremation memperlihatkan perkembangan mereka menuju pendekatan yang lebih agresif.
“Litany of Deliverance” bertempo lebih cepat, intensitas yang meningkat, serta karakter komposisi yang lebih tajam menjadi gambaran awal dari apa yang sedang mereka bangun untuk materi berikutnya.
Meski demikian, agresivitas tersebut tetap ditempatkan sebagai bagian dari sebuah narasi.
Setiap riff, hentakan dan perubahan dinamika tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan brutalitas musikal, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan terhadap konflik kemanusiaan yang terus berulang dari satu zaman ke zaman berikutnya.
“Di single kali ini kami tetap dengan roots death metal adalah kekejaman. Dengan tempo yang lebih cepat dari album sebelumnya, kami menulis riff agresif serta nuansa gelap untuk pelengkapnya.”
Di sisi lain, lagu itu juga mengalami eksplorasi yang cukup banyak. Sehingga, kesan groovy dari brutal death metal pada umumnya tidak begitu banyak, tapi sisi agresif yang banyak menjadi komposisi utama.
“Sehingga durasi dari lagu yang jadi nggak akan lebih dari empat menit,” cetus Incremation, yang mengaku masih mendengarkan band seperti Gorgasm, Suffocation dan Deicide sebagai referensi utama.
Melalui perilisan “Litany of Deliverance”, Incremation sedikit banyak telah memberi bocoran atau gambaran pertama dari wajah album kedua mereka nantinya.
Dimana formula yang diterapkan bakal lebih cepat, lebih agresif namun tetap berakar pada pengamatan terhadap sisi paling gelap dari perilaku manusia.
“Kami ingin menargetkan 2027, setidaknya semua materi album penuh telah selesai diproduksi. Karena sejak ‘The First Squence’ dirilis, draft lagu sudah berjalan 65%.”
Selain di platform musik digital, trek “Litany of Deliverance” juga merupakan bagian dari demo “The First Sequence : REGRESSION” yang dirilis dalam format CD. (@mudya_mustamin/MK01)