Analtopsy kembali menghajar lewat bantingan slamming brutal death metal lewat EP terbarunya, “Septic overload”. Bahkan kali ini unit cadas asal Denpasar, Bali tersebut mengklaim musiknya lebih sadis dan berat.
Mereka datang dengan menghamburkan riff serta pola ketukan tempo yang berbeda dibanding band-band slam lainnya.
“Karena kami mencampur semua unsur dari brutal death metal, technical, death metal, dark slamming dan lainnya,” seru Analtopsy kepada MUSIKERAS menegaskan.
Proses rekamannya sendiri dieksekusi gitaris Rivaldi Eka Putra, vokalis Rizky Febri Ramadhan, dramer Mahmud Yunus dan bassis Made Yudha Pradnyanaok di dua studio.
Rekaman untuk pengisian instrumen gitar, bass serta vokal dilakukan di studio milik Rivaldi. Sementara untuk dram dirampungkan di Fantasy Rebord Studio yang berlokasi di daerah Ubud Bali.
Lalu berlanjut ke tahapan mixing dan mastering, dimana mereka dibantu oleh Reduan Purba, gitaris Jasad. Proses produksi keseluruhan berjalan selama kurang lebih tiga bulan.
Switch Tempo
Analtopsy menggeber lima lagu di EP “Septic Overload” yang berisi groove slam, cecaran riff cepat dan brutal, gemuruh vokal guttural hingga atmosfer yang dipenuhi kontaminasi pembusukan, limbah dan kengerian biologis.
EP terbaru ini membawa Analtopsy lebih jauh ke wilayah yang lebih gelap, lebih berat, semakin menjijikkan dan terasa semakin menghantam. Kendati demikian, struktur keseluruhan lagu-lagunya tetap dibuat kuat dan mudah diingat.
Di balik segala kekotorannya, Analtopsy tetap menunjukkan kemampuan dalam membangun lagu yang memiliki karakter dan daya hancur masing-masing, sekaligus mempertahankan atmosfer yang konsisten dari awal hingga akhir.
Dari sisi teknis dan musikal, band bentukan 2016 silam ini menyebut EP kali ini berbeda jauh dibanding karya-karya rilisan sebelumnya. Lebih banyak bermain dengan mengeksplorasi sound modern serta riff-riff yang lebih berat.
“Serta tempo yang kami gunakan itu adalah multitempo, yaitu satu lagu menggunakan beberapa tempo di dalamnya. Dan di EP kali ini banyak referensi band luar juga seperti Peeling Flesh, Viscreal Disgorge dan lain lain.”
Dari lima komposisi beringas yang dihadirkan Analtopsy di lagu “Septic Overload”, terselip komposisi “Flesh Succulence Extraction” yang mereka sebut paling menantang eksekusi rekamannya.
“Karena di dalamnya terdapat switch tempo yang membuat terkecoh dan terdapat beberapa (terapan) skill gitar dan bass yang tidak biasa dari musik slam lainnya,” cetus mereka beralasan.

Dunia Menjijikkan
Di liriknya, EP “Septic Overload” mengumandangkan pesan tentang sebuah dunia menjijikan yang berputar di sekitar kontaminasi, pembusukan tubuh, limbah serta ekstraksi daging dan material biologis manusia.
Konsep tersebut tidak hanya hadir melalui musik dan lirik, tetapi juga diteruskan melalui desain sampul dan visual, menciptakan identitas yang utuh dan sengaja dibuat menjijikkan.
Sebelum melepas “Septic Overload”, Analtopsy di antaranya telah memanaskan skena musik ekstrem Tanah Air lewat EP “Intense Digestive Release” (26 Juni 2025) yang diedarkan via label Lethal Scissor Records, Italia.
EP “Septic Overload” sendiri diedarkan via label Rottrevore Records sejak 12 Agustus 2026 lalu. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan Lagu:
- Mucus Is Our Purest Form
- Rectal Feeding Syndicate
- Septic Overload
- Boiling Sewage
- Flesh Succulence Extraction