SENJAKALA Siap Hirup Kebebasan di Hammersonic Fest 2018

Senjakala adalah salah satu unit cadas asal negara tetangga yang bakal ikut menggetarkan panggung Hammersonic Festival, di Pantai Carnaval, Ancol pada 22 Juli 2018 mendatang. Ini merupakan kedatangan kedua band asal Brunei tersebut, setelah sebelumnya turut memanaskan hajatan Noxa Fest pada 3 Desember 2017 lalu.

Bagi para personel Senjakala, yakni Sam (vokal), Mawie (gitar), Yus (gitar), Adi (dram) dan Nami (bass), adalah sebuah kehormatan bisa tampil di depan metalhead Indonesia yang mereka anggap sangat besar dan terbuka. Terutama di Hammersonic yang mereka anggap sebagai sebuah event yang prestisius.

“Kami tak ada ekspektasi apa-apa (di Hammersonic) dan berharap semuanya berjalan lancar,” ujar Mawie kepada MUSIKERAS, terus-terang. “Sebagian besar audiens di sana tentunya hadir untuk menyaksikan para penampil utama… saya sendiri juga sangat bersemangat untuk bisa menyaksikan In Flames, sebuah band yang sangat menginspirasi penulisan riff-riff saya, terutama dari era (gitaris) Jesper Strömblad… Jesper adalah idola saya, semoga kami bisa mendengarkan lagu dari era album klasik mereka, ‘The Jester Race’, ‘Whoracle’ dan ‘Colony’.”

Saat ini, Senjakala yang terbentuk sejak 1999 silam sedang menjalani proses penggarapan album terbaru. Mereka mulai merekamnya secara bertahap sejak melakukan reuni di Johor, Malaysia pada 2013 lalu. Dimulai dengan perekaman isian dram di TNT Studio di Singapura, lalu dilanjutkan dengan proses pengisian porsi gitar dan bass secara direct di studio rumahan milik Mawie yang mana nantinya akan diolah lagi melalui proses reamp saat menjalani tahapan mixing. Untuk vokal, keseluruhan proses telah rampung dieksekusi di 537, sebuah studio lokal di Brunei. Di studio ini pula bakal dilakukan proses rekaman tambahan untuk dram.

Seiring dengan kematangan Senjakala sebagai band, Mawie mengakui banyak pengembangan dalam menjalani proses kreatif penulisan album. Ada beberapa lagu dimana mereka menerapkan eksperimen, yang tanpa disadari juga mengarahkan mood mereka ke format berbeda. Bagi Senjakala, setiap perilisan album adalah sebuah perjalanan baru bagi sebuah band. Dan di album baru mereka nantinya adalah sebuah kelanjutan dari apa yang telah mereka lakukan di masa lalu, dan membiarkannya mengarahkan mereka ke situasi yang baru. 

“Ada lagu dimana kami menggunakan (gitar) 7 senar, yang mana merupakan hal baru bagi Senjakala. Pada dasarnya di album baru kami ini sangat variatif, dari yang cepat dan berat ke lagu yang lambat dan ‘gelap’, dan kami juga merekam ulang beberapa lagu lama untuk kepentingan dunia luar….”

Khusus untuk penampilan Senjakala nantinya di Hammersonic, mereka akan memasukkan beberapa lagu baru ke dalam setlist, yang mana buat mereka bakal menjadi bagian yang paling menyenangkan untuk dimainkan. Di antaranya seperti “Freakshow”, “Lucid Lunacy” atau mungkin juga “Arms”, disamping lagu lama seperti “Paranoia” dan “Darkness Fall”. Lagu terakhir disebut ini, menurut Mawie, menjadi semacam anthem Senjakala.

“Semacam versi ‘Breaking the Law’ atau ‘Ace of Spades’ kami,” cetus Mawie memberi contoh dua lagu rock klasik milik Judas Priest dan Motorhead.

Saat pertama kali terbentuk, Senjakala memulai karirnya dengan geberan melodic death metal, yang lantas perlahan bergeser ke format metal bernuansa Gothenburg Metal dengan vokal wanita yang melodius. Sempat mengalami proses gonta-ganti personel sebelum diperkuat Sam, Mawie, Yus, Adi dan Nami sejak 2003 silam. Sejauh ini, band yang pernah membuka konser unit metal asal Jakarta, Siksa Kubur di Miri, Malaysia pada November 2017 lalu ini sudah merilis satu album mini (EP) bertajuk “Rise Above All” (2004) serta dua album penuh, “Shattered Mirrors” (2010) dan “Wrath of the Crimson Empress” (2016).

Sebagai sebuah band ber-genre metal, Senjakala mengalami situasi yang sangat sulit untuk berkembang di kampung halamannya sendiri. Kebanyakan event manggung mereka dapatkan justru di luar Brunei, seperti Malaysia dan Indonesia.

“Skena metal di Brunei sangat sepi, apalagi sejak polisi menyerang sebuah gig tahun ini. Hampir tak ada seorang pun yang berani manggung karena terlalu berisiko. Untuk melakukan sebuah pertunjukan, kami harus mengajukan perijinan yang mana menurut kami sangat berat. (Biasanya) Penyelenggara nekad melakukan sebuah show tanpa ijin dan bersiap dengan risikonya. Makanya, banyak band asal Brunei harus bermain di skena luar (negeri).” Ok bro, lupakan Brunei sejenak, dan mari berpesta di Hammersonic Festival! (mdy/MK02)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *