JOSHUA DEACON, Dramer yang juga Rilis Album Solo!

Penggebuk dram tak lagi harus selalu di belakang. Setelah Bayu Adisapoetra (SoftAnimal/Elephant Kind) dan Eko Nurwahyanto (Monoserus) yang sama-sama pernah diulas di MUSIKERAS, satu lagi dramer telah memproklamirkan proyek rekaman solonya. Dia adalah Joshua Deacon, musisi asal Tangerang yang sebelumnya telah merilis album berkontur instrumental progressive metal bersama bandnya, DUNIA. Dan kini, Joshua mempersembahkan album bertajuk “The Weird Groove Project” (TWGP) yang kurang lebih diramu dengan pendekatan musikal yang sedikit berbeda dibanding DUNIA.

“Ya, bisa dibilang kalau DUNIA progressive metal-nya lebih metal, atau angker kali ya, hahaha. Kalau saya di album TWGP lebih chill,” ungkap Joshua kepada MUSIKERAS, mencoba menegaskan perbedaannya.

Pada dasarnya, Joshua memang cenderung menyukai karya-karya berbagai dramer solois seperti Anika Nilles (solois asal Jerman), Travis Orbin (Darkest Hour/Periphery) dan Anup Sastry, dramer asal Amerika Serikat yang antara lain pernah berkolaborasi dengan band atau musisi progresive metal seperti Intervals, Monuments, Polyphia hingga gitaris solois seperti Jeff Loomis dan Marty Friedman. Melihat mereka, Joshua menjadi tertarik untuk membuat karya album solo sendiri.

“Kalau dari persepsi dramer ya biasanya, time signature, pola beat, matrix modulation, merupakan hal-hal favorit buat eksperimen. Sebenarnya konsep saya tetep progressive metal, cuma mungkin saya banyak terpengaruh dengan melodi-melodi simple, memorable, catchy ala EDM (electronic dance music). TWGP punya konsep yang mungkin lebih gampang dicerna, easy-listening, bahkan untuk mereka yang tidak terlalu menggemari musik progressive metal,  karena saya pikir beat-beat-nya menarik dan catchy. Dan tentunya, album buatan dramer solo juga jarang, terutama di Indonesia.”

Proses penggarapan TWGP sendiri dijalani Joshua sekitar setahun, karena sebagian besar dieksekusi sendirian. Tentu saja ada beberapa kendala yang ia temui di sepanjang prosesnya, dimana ia harus membuat, merekam hingga mixing album tersebut sendirian.

“Kalau lagi bingung atau nggak ada ide, ya.. pikir-pikir sendiri. Cuma kelebihannya itu, bisa bebas menulis lagu sesuai persepsi kita sendiri. Pas rekaman nggak ada yang jagain atau operate rekamannya. Jadi kalau nggak sadar tuning berubah, nggak ada yang kasih tahu. Jadinya kadang take ulang lagi. Terus kadang pas take, nggak sadar gain-nya belum balance, atau bahkan clipping. Mikrofon juga kadang belum benar posisinya. Hal-hal seperti itu yang kadang lebih jelas kelihatan kalau kita lihat di monitor laptop. Jadinya harus bolak-balik lihat komputer sama main dram. Take dram dulu, baru habis itu periksa di monitor laptop, terus adjust lagi, coba take lagi, terus balik lagi cek di monitor, ya agak bolak balik. Kalau ada yang operate lebih praktis dan efisienlah bisa sambil main dram sambil ngatur mic-ing dan gain-nya. In the end, dari buat album ini saya belajar banyak dari segi kreatif dan teknis,” urai Joshua panjang-lebar.

Lebih jauh, Joshua menegaskan bahwa apa yang ia lakukan di album ini adalah semata-mata sebagai ajang pengekspresian diri, bukan hanya sebagai seorang dramer, tetapi juga sebagai seorang musisi. “Meskipun saya dramer, pada umumnya, saya memulai konsep atau kerangka lagu dari kord gitar atau synth. Dram merupakan satu-satunya alat musik yang cukup saya kuasai, namun saya coba bayangkan apa yang akan saya mainkan jika saya menjadi seorang gitaris, bassis, pianis, dan pemain alat musik lainnya yang kemudian saya tuangkan melalui program (VST). Saksofon dimainkan oleh teman saya, Jeremiah Sormin. Jadi di album ini, dram merupakan satu-satunya alat musik yang saya mainkan dan rekam di studio pribadi saya di rumah, Cave Studio.”

Di album TWGP yang menyuguhkan delapan komposisi instrumental tersebut, Joshua melibatkan beberapa musisi tamu untuk memperkaya komposisinya. Seperti di komposisi berjudul “Roots”, ia mengajak Denis Roth, seorang gitaris dari band Their Dogs Were Astronouts (Austria), lalu Toby Peterson-Stewart dari The Omnific and Annihilist (Australia) untuk mengeksekusi part bass di lagu “Bloom” serta Yutsi Surya (DUNIA) yang menyumbangkan permainan gitarnya di komposisi bertajuk “Maypop”.

“Karena saya suka dengan band mereka, dan kebetulan konsep band mereka satu tipe dengan band saya, DUNIA yang progressive instrumental. Saya pikir bakalan langsung nge-klop, terus saya ajak saja. Dan mereka juga tertarik sama konsep lagunya. Hasilnya menurut saya bagus. Especially, pas mengajak Toby yang merupakan seorang bassis, saya jadi penasaran dengan perpaduan solo bass, karena biasanya guest solo kan gitaris, tapi bassis juga bisa buat solo yang menarik menurut saya. Datanya kirim-kiriman lewat chat atau email.”

Kini, keseluruhan lagu di album “The Weird Groove Project” sudah bisa dinikmati via beberapa gerai dan kanal digital seperti Spotify, iTunes, Apple Music, Bandcamp dan sebagainya. (mdy/MK01)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *