Carousels menyusul rilisan sebelumnya, “Limerence” (28 Februari 2026), lewat sebuah karya lagu tunggal terbaru yang bernuansa emosional dan mengeksplorasi tema perpisahan dan pengkhianatan.
Berjudul “Paper-thin Heart”, kali ini dalam liriknya Carousels berkisah tentang seseorang dengan hati yang rapuh setelah dikhianati dan perlahan-lahan tenggelam dalam rasa sakit, kebingungan dan penyesalan.
Ia sadar hubungan itu tak pernah benar-benar indah, dan meski berat, memilih untuk menjauh sambil membawa luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Sama seperti rilisan sebelumnya, “Paper-thin Heart” juga digarap band yang dihuni vokalis Aldy Afriansyah, gitaris Zacky Ahmad Saleh dan Hamzah Imamudin serta bassis Agung Dafin ini secara mandiri.
Untuk proses rekaman instrumen gitar dan bass mereka eksekusi di studio rumahan, sementara untuk isian dram dan vokal dikerjakan di Ava Studio. Keseluruhan proses dari demo hingga menjadi master butuh waktu sekitar dua minggu.
“Berhubung kami sudah terbiasa rekaman secara mandiri, mixing dan mastering sendiri pun jadi tidak begitu menjadi tantangan sebetulnya,” urai pihak band kepada MUSIKERAS.
Tantangan sesungguhnya justru terletak di masalah waktu, mengingat masing-masing personel Carousels sudah memiliki kesibukannya.
“Tapi bisa kami overcome, apalagi di era cloud seperti sekarang, proses pengiriman lagu kepada personel pun tidak sulit karena bisa dilakukan secara real time.”

Nostalgic Vibe
Seperti rilisan sebelumnya, Carousels tetap mempertahankan aransemen metalcore dan mengeksplorasi lebih luas pada synthwave, nuansa synth retro yang terinspirasi dari era ’80-an.
Konsep itu, mereka sebut merujuk pada diskusi antara vokalis Aldy dengan Zacky pada 2019 silam, dimana sebetulnya sudah ada wacana untuk menerapkan konsep itu di Carousels.
“Namun pada saat itu, karena keterbatasan ide dan berkaitan juga dengan banyaknya dari kami yang sudah mulai sibuk dengan bidangnya masing-masing, jadi sayangnya baru bisa menerapkannya sekarang.”
Tapi para personel Carousels merasa, mungkin belum ada atau mungkin belum banyak band di Indonesia yang menerapkan konsep di komposisi musik “Paper-thin Heart” tersebut.
“Lagu ini memiliki nuansa yang somewhat soft yet heavy. Kami menyajikan nada-nada synth dengan nostalgic vibe ciri khas dari synthwave dan meleburkannya dengan gritty sound dari metalcore dan modern rock.”
“Dan rasanya kurang jika membahas synthwave jika tidak ada suara saksofon. Maka dari itu, untuk memperkuat rasa dari synthwave-nya, kami menyematkan lead saksofon di penghujung lagu.”
Tentunya, banyak referensi berbeda yang mempengaruhi penggarapan “Paper-thin Heart”, yang datang dari setiap personel.
Tapi khusus untuk sentuhan synth, Carousels merujuk pada band-band mancanegara macam The Midnight (AS), Timecop1983 (Belanda), Perturbator (Prancis) hingga Carpenter Brut, juga dari Prancis.
Setelah “Paper-thin Heart”, band asal Bandung, Jawa Barat ini berharap bisa melepas beberapa lagu rilisan tunggal lagi tahun ini. Lalu tahun depan, ditargetkan bisa merilis album mini (EP) atau album penuh.
Dengarkan “Paper-thin Heart” di berbagai platform digital serta video musiknya di kanal YouTube resmi Carousels. (@mudya_mustamin/MK01)