Kendati classic rock saat ini lebih banyak menggeliat di balik dinding-dinding cafe – kebanyakan berujud suguhan cover version nostalgia – namun sebuah unit rock asal Depok bernama Bunker 225 yakin, para pemuja genre tersebut juga ada di kalangan penggemar musik-musik independen di luar sana. Para penikmat rock yang masih menerima lagu-lagu orisinil karya anak bangsa. Keyakinan itulah yang membuat para personel Bunker 225 yakin untuk melontarkan karya rekaman ciptaan mereka sendiri.
Belum lama ini, Bunker 225 yang dihuni formasi Bayu Christian (vokal/gitar), Refelino Lumunon (gitar), Thomas Kia G.P (bass) dan Binsar RGG (dram) telah merilis dua single bertajuk “You’re Gone” yang bernuansa rock balada serta “Live in California” yang kental akan elemen blues dan rock & roll nuansa akhir ’70an. Keduanya mereka rekam di Play Records, Jakarta dan sudah tersedia di berbagai gerai digital seperti Spotify, iTunes, Apple Music dan Deezer.
Rencananya, Bunker 225 juga akan membuatkan video klip untuk single ”You’re Gone”, serta melanjutkan penggarapan rekaman enam lagu lainnya yang bakal menghuni album mini debut mereka. “Enam lagu masih nggak jauh-jauh dari nuansa classic rock, serta satu lagu ber-genre classic metal. Tapi akan sedikit lebih lama (prosesnya) mengingat kami masih sibuk dengan kegiatan dan pekerjaan kami masing-masing,” ulas pihak band kepada MUSIKERAS.
Saat menggarap rekaman “You’re Gone” dan “Live in California”, Bunker 225 mengaku tak menemui kendala berarti, kecuali menemukan ‘rasa’ yang tepat saat mengeksekusinya. Apalagi untuk lagu “Live in California” yang sudah mereka ciptakan sejak 2014 silam. “Namun (yang sekarang) ada sedikit perubahan di musiknya.”
Bisa dibilang tidak terlalu sulit bagi para personel Bunker 225 untuk menggarap komposisi lagu yang berkarakter classic rock. Karena pengaruh warisan referensi musik dari keluarga masing-masing membuat mereka sangat terpikat pada classic rock. Sebelum membuat Bunker 225, konon mereka sempat melakukan sharing kenapa suka pada classic rock. Saat kecil, Bayu selalu ingat ketika keluarganya memutarkan lagu-lagu Led Zeppelin, Pink Floyd, Guns N’ Roses dan Sepultura. Sementara ayah Refel menyukai Janis Joplin dan Everly Brothers. Begitu juga dengan ayah Thomas yang rupanya seorang penggemar berat musik-musik classic rock dan metal. Pengaruh itu lantas dilengkapi dengan referensi dari Binsar yang mengaku ayahnya sangat menyukai blues era ’50-‘70an seperti Chuck Berry, Muddy Waters, dan lain-lain.
“Secara tidak langsung kami semua suka dan nyaman sama classic rock, ada rasa tersendiri. Kami pun sempat mencoba genre lain, tapi kami lebih nyaman di jenis musik ini, karena menurut kami musik-musik rock lama itu selalu enak didengar sampai kapan pun. Kami bermusik sesuai dengan idealisme kami. Kami yakin pasti setiap genre memiliki penggemarnya masing-masing, dan yang penting kami bermusik sesuai dengan jiwa dan idealisme kami.”
Bunker 225 sendiri terbentuk pada 23 Maret 2014, yang digagas oleh empat musisi yang sama-sama berasal dari sebuah sekolah di Depok, Jawa Barat. Nama Bunker 225 sendiri berasal dari sebuah rumah yang sering dijadikan tongkrongan mereka, tempat untuk saling bertukar pikiran tentang musik. Bentuk rumahnya menjurus ke dalam, tidak ada sinyal, mirip seperti sebuah bunker (sejenis bangunan pertahanan militer pada Perang Dunia I dan II, yang biasanya dibangun di bawah tanah). Dan angka ‘225’ adalah nomor rumah tersebut. (mdy/MK02)
.