Satu lagi unit pelantun metalcore mencoba terus menancapkan taringnya di kancah musik bawah tanah Tanah Air. Kali ini dilakukan oleh Hurt Me One More Time (HMOMT), yang berasal dari Denpasar, Bali. Masih bermodalkan album mini (EP) pertamanya, “H.U.R.T.” yang telah dirilis tahun ini, kini mereka meluncurkan video musik kedua berjudul “Trust”.
Sesuai namanya, HMOMT yang jika diartikan dalam Bahasa Indonesia berarti ‘sakiti aku sekali lagi’ adalah band yang berkonsep ‘broken heart/hurt, atau biasa disebut oleh ‘anak jaman now’ dengan sebutan ‘galau’. Semua lagu yang mereka buat terinspirasi dari kisah-kisah patah hati seseorang, yang biasanya menyangkut tema rasa kehilangan, kesendirian, ditinggalkan, dilupakan, atau terkadang juga tentang rasa cinta yang mendalam kepada seseorang. Seperti yang mereka ungkapkan di lagu “Trust”, tentang perasaan dikecewakan oleh orang yang justru paling dipercayai dan disayangi.
Tentang tema galau itu sendiri sudah melekat pada band ini sejak awal-awal terbentuk, pada Mei 2013 silam. Waktu itu, seluruh personelnya masih memainkan lagu-lagu emo a la Alesana atau Saosin. Sementara nama bandnya masih menggunakan ‘One More Time’ saja.
“Pas kami bikin lagu sendiri, lagu original yang pertama, (ternyata) kayak dapet banget feel galau-nya bagi kami. Pas bikin liriknya juga kata-kata ‘hurt’ gitu muncul aja dengan sendirinya. Ya udah, (kepikiran) kenapa nggak semua lagu ke depannya (menggunakan) tema galau aja. Sekalian nama band (akhirnya) kami tambahkan ‘Hurt Me’ di depannya,” urai pihak HMOMT kepada MUSIKERAS, mengenang.
“Trust”, dan khususnya EP “H.U.R.T.” digarap Bayu (vokal), Ekik (bass) dan Adit (gitar) di @Voice Records selama setahun. Lagu-lagunya lahir dari kumpul-kumpul, lalu jamming dan lantas merekamnya. Ide-ide yang muncul direkam lewat voice note di ponsel. Kesibukan para personelnya menjadi alasan klasik yang menyebabkan proses penggarapannya sampai butuh waktu setahun.
“Dulunya, beberapa personel belum bisa komitmen 100% di proyek ini. Lalu ada kendala teknis juga. Karena kami pakai sequencer di tiap lagu, jadi agak ribet di exporting importing datanya karena beda (di perangkat) DAW (digital audio workstation). Tapi asiknya di proses kreatif bagian liriknya sih. Karena tiap bikin lirik, vokalis kami tuh selalu membayangkan situasi dimana dia lagi ‘hurt’ di otaknya dan mencoba menuliskan apa yang terjadi.”
Walau mengawali karir sebagai band penganut aliran post-hardcore/emo, namun kini HMOMT telah mematok metalcore sebagai ‘agama’ mereka. Alasannya, selain untuk menghormati personel lama, mereka juga ingin lebih mendewasakan diri dan mencoba hal-hal baru. Dan di samping itu, para personel HMOMT juga tak mau terlihat terlalu terpatok atau menjiplak band lain.
“Referensi dan influence kami luas. Beberapa band kami ambil dikit-dikit (pengaruhnya) dan jadiin satu. Beberapa di antaranya seperti Bring Me The Horizon, The Amity Affliction, Secrets, Architects, Motionless In White, Of Mice & Men dan A Skylit Drive. Kami cuma pengen bikin lagu sesuai dengan apa yang kami enjoy. Karena dari awal terbentuk kami cuma pengen have fun aja. Yang penting main musik, make something that you can be proud of… entah itu (bikin) album, video musik, atau wawancara dengan Musikeras pastinya, hehehe. Kami ingin stay who we are aja, walaupun keliatan nggak ada bedanya dengan band-band metalcore yang lain. Seperti kata orang-orang, ‘Jelek-jelek yang penting punya sendiri!”
Sejak terbentuk, HMOMT telah merilis video musik untuk tiga lagu, yakni “Understand” (2017), “Hate” dan “Trust” (2018). Ketiga lagu tersebut, plus “Rage” termuat di EP “H.U.R.T.” (aug/MK02)
.