CHRIS ADLER Resmi Tinggalkan LAMB OF GOD

Per hari ini, Chris Adler akhirnya resmi ditetapkan tidak lagi memperkuat formasi unit metal Lamb of God. Keputusan itu dipertegas oleh pihak band lewat laman Facebook resminya, sekaligus mengumumkan dramer pengganti Chris.

“Kami kembali dari sebuah festival besar di Eropa serta tur final bersama Slayer di Amerika Utara minggu lalu. Kami sangat bersemangat untuk tetap menjaga momentum tersebut untuk segera menggarap album berikutnya. Secara resmi kami ingin menyambut Art Cruz, yang telah bermain dram bersama kami sepanjang tur tahun lalu, sebagai dramer terbaru di Lamb of God. Art akan bergabung bersama kami di studio untuk memulai pra produksi album baru. Kami sangat bangga dengan apa yang telah dicapai band ini selama dua dekade terakhir. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Chris Adler atas kontribusinya selama bertahun-tahun dan mendoakan yang terbaik untuk kegiatan-kegiatannya selanjutnya.”

Demikian pernyataan Lamb of God, yang diwakili empat personel yang tersisa, yakni Mark Morton (gitar), John Campbell (bass), Randy Blythe (vokal) dan Willie Adler (gitar). Sebelum tur bersama di Lamb of God sejak tahun lalu, Art Cruz tercatat pernah bermain untuk Prong serta Winds Of Plague.

Absennya Chris Adler dari Lamb of God berawal dari insiden kecelakaan motor parah yang dialaminya pada akhir 2017 lalu. Sejak itu ia tidak pernah lagi tampil bersama Lamb Of God karena harus menjalani terapi fisik dan kegiatan-kegiatan untuk pemulihan cedera yang dideritanya.

“Saya mengalami kecelakaan sepeda motor yang menghancurkan tulang selangka dan bahu kanan saya dan juga patah tulang di pinggul saya,” ujar Chris lewat akun Instagram pribadinya.

Kini Chris yang antara lain sempat berkontribusi di “Dystopia”, album milik Megadeth yang berhasil memenangkan Grammy Awards, belum bisa maksimal bermain dram, dimana ia mengalami beberapa masalah yang berkaitan dengan cederanya, yang perlu ditangani dengan jadwal yang ketat dari terapi fisik yang telah ia lakukan secara teratur sejak Juli 2018 lalu. Namun pada Oktober 2019 mendatang, Chris telah dijadwalkan bakal memperkuat Hail!, supergroup yang juga diperkuat oleh vokalis Steve “Zetro” Souza (Exodus), gitaris Phil Demmel (eks Machine Head) serta bassis James Lomenzo (mantan White Lion/Megadeth/Black label Society).

Art Cruz sendiri pertama kali tampil bersama Lamb of God pada Juli 2018 di Gilford, New Hampshire mengaku tidak mudah menggantikan posisi Chris. Apalagi saat berada di panggung, di depan 50 ribu pasang mata yang mengamati permainannya.

“Sedikit menantang, karena sebuah nama besar yang harus digantikan. Kali ini saya harus lebih fokus dan intens. Sangat fenomenal,” seru Art menegaskan. 

Hingga hari ini, Lamb Of God telah merilis delapan album studio, yakni “New American Gospel” (2000), “As the Palaces Burn” (2003), “Ashes of the Wake” (2004), “Sacrament” (2006), “Wrath” (2009), “Resolution” (2012) dan “VII: Sturm und Drang” (2015). Pada 18 November 2016 lalu, Lamb Of God sempat pula meluncurkan album mini (EP) berjudul “The Duke” via label Nuclear Blast. Lalu pada 18 Mei 2018 merilis “Legion: XX”, sebuah album yang memuat lagu-lagu daur ulang milik band-band yang banyak memberi pengaruh terhadap eksplorasi musikal Lamb of God seperti Stormtroopers of Death, Bad Brains, Melvins, Ministry, Agnostic Front hingga Cro-Mags. (*/MK03)

Kredit foto: Travis Shinn

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
rahasia intelijen
Read More

RAHASIA INTELIJEN: Berharap Bisa Merilis EP

Unit metal alternatif Jakarta, Rahasia Intelijen akhirnya menguak kasus baru lagi, lewat lagu berlirik tajam, tentang narasi religius yang berlumuran darah.
hellcrust
Read More

Ini Perbedaan HELLCRUST dan DARKSOVLS

Bangun dari hibernasi, Hellcrust rilis lagu terbaru, “Rekonstruksi Kerak Neraka”. Tapi yang mengejutkan, kali ini formasinya sama persis dengan Darksovls!
splitfire
Read More

SPLITFIRE: Dari Club/Cafe ke Panggung Rekaman

Kenyang manggung di berbagai cafe dan club di Indonesia, bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara, kini Splitfire makin mantap selami industri musik rekaman.