Jengah akan kondisi skena metal di kotanya yang bisa dikatakan semakin terlihat seperti ‘zombie’, dua unit cadas berbahaya asal Samarinda, Hatenemy dan Sheldon sepakat bergandeng tangan untuk mencairkan kebekuan tersebut. Sebuah single bertajuk “In Grind We Thrash” mereka rilis dalam format digital, sekaligus beserta video musik yang telah tayang di kanal YouTube.
Lewat karya tersebut, kuartet thrash Hatenemy dan pejuang grindcore pendatang baru, Sheldon mengangkat semangat komunitas yang bertujuan menyulut api gairah metalhead di Kalimantan Timur, khususnya di Samarinda, yang tiga tahun terakhir mengalami fase lesu lantaran berkurangnya intensitas gigs metal dan banyaknya band metal kota tersebut yang mengalami mati suri.

Ihwal ide berkolaborasi di “In Grind We Thrash”, menurut tuturan Hatenemy kepada MUSIKERAS, diinisiasi oleh Fadli, vokalis Sheldon. Ia melihat skena metal di kotanya tersebut terlihat bergerak, tapi tidak hidup normal. Dan kebetulan, ada momentum tepat mengenai keputusan Presiden RI untuk memindahkan Ibukota Negara Republik Indonesia ke Kalimantan Timur. Sebagai band metal Ibukota Negara yang baru, Hatenemy dan Sheldon menyambut kabar gembira tersebut dan merayakannya dengan merilis “In Grind We Thrash“.
Proses kolaborasi juga menjadi sangat cepat dan mudah karena kedua band merupakan teman nongkrong di Samarinda Extreme Community. Dan seringnya pertemuan mereka akhirnya mengarah ke lecutan gagasan untuk berkolaborasi.
“Karena Fadli sering bertemu dengan kami dalam satu frame tempat kopi, dia (lalu) mengutarakan ingin membuat gebrakan untuk berkolaborasi. Tanpa pikir panjang, kami menyambut dengan semangat ide tersebut. Esoknya kami membuat grup Whatsapp gabungan dua band dan mulai intens membicarakan perihal musik yang akan kami buat. Setelah fix, Wahyu, gitaris Hatenemy mulai meracik musiknya, sementara lirik dibuat oleh Fadli dan Adon (Hatenemy). Kurang dari seminggu, lagu ‘In Grind We Thrash’ jadi,” urai Hatenemy lebih jauh.
Sejak ide awal tercetus hingga proses rekaman dan video klip, kedua band butuh waktu selama dua bulan. Itu pun karena langkah mereka sempat terhenti lantaran harus antri penggunaan studio selama satu setengah bulan. Proses rekamannya sendiri sangat singkat, hanya seminggu, yang dilakukan di Dapoer Musik milik Ulah, gitaris band death metal Malvomed. Setelah menyelesaikan mixing dan mastering, mereka pun bergerak membuat video musik yang berkeja sama dengan Locanative Borneo.
Dari segi musikalitas, Hatenemy dan Sheldon tidak mendeskripsikan arah musiknya ke genre metal yang spesifik. “Referensi kami dalam single ini (justru) banyak dari band hardcore. Nggak ada satu pun dari thrash metal atau pun grindcore yang menjadi referensi.”
Saat ini, “In Grind We Thrash” sudah dapat didengarkan di berbagai kanal digital seperti Spotify, Deezer, Apple Music, iTunes, Shazam, Tidal, Google Play Music, dan lainnya. Namun setelah proyek ini, kedua band belum lagi menentukan rencana-rencana selanjutnya. Khususnya Hatenemy – band yang sudah menggeliat di skena sejak 2009 silam – “In Grind We Thrash” bagi mereka hanya sebatas project ‘hura-hura’. “Jadi kami belum ada rencana untuk melanjutkan ke arah yang lebih dalam lagi, seperti split album atau EP misalnya….” (mdy/MK01)
.