Walau mereka menyebutnya dengan istilah ‘keterbatasan’, namun apa yang dilakukan unit metalcore asal Majene, Sulawesi Selatan ini sebenarnya sudah sangat merepresentasikan salah satu cara kerja industri rekaman di dunia saat ini. Dalam melahirkan album pertamanya yang bertajuk “Psychedelic”, Impossible yang terbentuk sejak 14 Agustus 2006 silam mengandalkan kemajuan teknologi saat ini, yakni mengeksekusi rekamannya dengan memanfaatkan studio rekaman rumahan.
“Dengan segala keterbatasan yang ada, kami selalu belajar untuk tidak patah semangat dalam berkarya. Kami merekam album ‘Psychedelic’ dengan cara home recording di studio kami sendiri, dan dibantu oleh kawan kami yaitu salah satu saudara dari personel kami sendiri, Sandy dari Mixdown Records untuk (mengerjakan) mixing dan mastering-nya,” urai pihak band kepada MUSIKERAS.
Dalam mewujudkan “Psychedelic”, Impossible yang dihuni formasi Rezky Jisefh (vokal), Aldy Wirawab (bass), Muh. Guntur ‘Chokii’ (gitar), Yayank (dram) dan Alviand ‘Hahn’ Pratama (kibord/synth) mengaku benar-benar merealisasikan jiwa dan pikiran mereka masing-masing dalam berkarya. “Seperti dari arti ‘psychedelic’ itu sendiri, dengan nuansa metal electro,” ucap Impossible lagi.
Secara teknis, beber pihak band lagi, keseluruhan lagu dalam album “Psychedelic” sangat menantang. Namun ada satu komposisi yang menyisakan pengalaman menarik, yakni yang bertajuk “Antariksa / Antara Siksa dan Rasa“. Karena menurut mereka, Impossible mencoba untuk tidak berhenti bereksperimen, dan membuktikan bahwa musik keras yang mereka mainkan tidak beda dan tidak kaku dibanding genre musik lainnya.
“Kami menggandeng salah satu rapper yang sudah tidak asing lagi namanya di skena hip-hop Indonesia, yaitu Tuan Tigabelas. Tantangannya di sini, secara teknis, kami jauh di daerah sisi Barat Sulawesi, sementara Tuan Tigabelas berada di Jakarta. Kami melakukannya dengan cara kirim-kirim sample sampai hasil recording via email dan itu butuh proses lumayan lama.”
Untuk melanjutkan promo album “Psychedelic”, Impossible telah meluncurkan visualisasi berupa video musik dari salah satu lagunya yang berjudul “Jack of Yangin” sejak awal Desember tahun lalu. “Jak of Yangin” sendiri merupakan gabungan dari tiga kata dari tiga bahasa, Jak (Bosnian) yang berarti kekuatan, of (Inggris) yang berarti dari, dan angin (Azerbaijani) yang berarti api. Melalui video klip ini, Impossible ingin memperlihatkan kekayaan budaya yang dimiliki daerah mereka, Mandar, dengan memperlihatkan sang model mengenakan pakain adat suku Mandar. (aug/MK02)
.