Dari kawasan paling utara Pulau Sulawesi, sambutlah talenta cadas yang cukup berbahaya ini. Lewat karya demo bertajuk “All Hell Broke Loose” yang telah mereka tebarkan, Huminoid mencincang kuping pendengarnya dengan rakitan metal yang melebur berbagai gaya, tanpa kekhawatiran sedikit pun untuk melanggar batasan. Intinya, mereka tak ingin terpaku pada gaya tertentu.
Huminoid yang dibentuk di Manado pada 2017 lalu mengedepankan racikan death metal yang mengandung cairan kimiawi dari elemen hardcore serta metalcore era ’90an hingga awal 2000an, plus bumbu pedas dari penerapan blast beat ala death metal serta slamming riffs. Berbagai pengaruh dari band-band seperti Jesus Piece, Year of the Knife, Knocked Loose, End, Code Orange, Varials, Vein serta pejuang-pejuang deathcore awal dirakit ulang oleh Huminoid menjadi bebunyian yang kasar, cadas, lebih jahat sekaligus suram.
Di demo “All Hell Broke Loose” yang didistribusikan via Moshpit Records, Huminoid yang diperkuat formasi Luky Ibrahim (vokal), Matthias ‘Matt’ Kaunang (gitar/vokal), Mario Sarayar (bass) dan Zacky Jan (dram) menggelontorkan tiga komposisi demo, yakni “505//454”, “All Hell Broke Loose” dan “Drown In Your Crave”.
“Ketiga lagu tersebut sangat berkesan bagi kami dalam proses pembuatannya, karena merupakan suatu arah dan output musikal yang baru dari Huminoid untuk bereksperimen lebih jauh dari sebelumnya,” seru Matt kepada MUSIKERAS, mewakili rekan-rekannya di band.
Tapi jika harus memilih, secara personal Matt menunjuk trek “Drown In Your Crave” memiliki beberapa elemen yang baru dalam kebiasaan menulis lagu di Huminoid. Seperti adanya elemen-elemen hardcore yang lebih kental di lagu tersebut.
“Tapi elemen blastbeat khas death metal tetap kami masukkan dalam trek ini. Lagu ini juga memakan waktu penggarapan yang paling lama karena durasinya yang lumayan panjang dibanding lagu lain. Banyak elemen (lain) yang ingin kami dengar berhasil kami tuangkan ke lagu ini.”
Huminoid menggarap “All Hell Broke Loose” secara independen selama kurang lebih sebulan. Karena, mereka sebelumnya sempat melewati fase pergantian aliran dari straight-forward death metal ke aliran yang sekarang sehingga memakan cukup waktu yang lumayan lama menjalani masa transisinya.
“Tapi untuk penggarapan materinya hanya membutuhkan waktu yang bisa dibilang singkat karena semua personel (sudah) berada pada mindset dan mentalitas yang sama, dimana kami ingin memainkan style musik yang fresh bagi kami dan dapat eksplorasi lebih secara sound.”
Usai perilisan demo “All Hell Broke Loose”, Huminoid telah mengantongi sejumlah rencana. Yang paling memungkinkan adalah merilis single baru atau mungkin langsung ke album mini (EP). Setelah itu, barulah fokus ke materi album penuh. “Sejauh ini sudah banyak materi kami kumpulkan untuk ke depannya dan beberapa rencana besar juga sudah ada, tinggal eksekusinya, hahaha. Mudah-mudahan menutup tahun ini sudah bisa rilis lagi.”
“All Hell Broke Loose” saat ini sudah bisa digeber via berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, Deezer, iTunes, Soundcloud dan YouTube. (mdy/MK01)
.