EUPHORION Agresif Menghujat Pencaci Bermulut Besar

Terdorong keinginan untuk segera berkarya, unit keras asal Depok ini akhirnya berhasil menerobos rintangan pandemi. Sebuah single baru bertajuk “Loudmouths” mampu dirampungkan dan telah dirilis sejak 5 Mei 2021 lalu. Gebrakan ini mengawali tekad Euphorion untuk segera mengeksekusi pembuatan album baru, sebagai tindak lanjut dari momentum album mini (EP) “The Last Butterfly” yang mereka rilis pada 2018 silam.

“(Periode) 2020 dan 2021 merupakan tahun yang sulit bagi kami untuk dapat berkumpul dan menggarap musik seperti sebelumnya. Hal itulah yang membuat penggarapan EP kami tertunda untuk beberapa saat,” urai Euphorion kepada MUSIKERAS, mengungkapkan alasan.

“Loudmouths” sendiri ditulis Wahyu Ekananda Soenarto (gitar/vokal), Tirta Samudrajiwa Soenarto (bass), Ram Javi Lilhawaditsi (dram) dan Ernest Dion (gitar/synth) di tengah proses perampungan EP, dimana tadinya, penulisan dan penggarapan lagu tersebut tidak direncanakan sebelumnya. 

.

.

Ide dari lagu “Loudmouths” berangkat dari fenomena sosial ‘mulut besar, paling benar’ yang terjadi di sekitar kehidupan sehari-hari para personel Euphorion. Maraknya kebiasaan yang dianggap biasa, yakni mencaci melalui media sosial tanpa menyelesaikan masalah. 

“Lagu ini menceritakan tentang si para mulut besar yang meracuni dirinya dengan menanamkan kebencian yang mendalam karena merasa dirinya lebih dari siapa pun dan sangat menutup dirinya dari segala pengetahuan yang baru, karena sudah merasa dirinya lebih dari cukup.”

Di tengah pandemi, penulisan lirik serta proses aransemen awal “Loudmouths” dilakukan band bentukan 2017 ini melalui platform Discord dan aplikasi Zoom. Namun karena terkendala oleh latency yang dihasilkan oleh koneksi internet, akhirnya mereka memutuskan untuk berkumpul.

“Tiger Music Studio Depok menjadi pilihan kami untuk menggarap lagu ini. Kendala terjadi saat kami melakukan aransemen lagu. Bingung mau membawa lagu ini ke arah mana, akhirnya kami memutuskan untuk melemparkan semua ide gila yang kami miliki selama pandemi ini. Pada akhirnya, proses aransemen dan perekaman hanya memakan waktu dua hari.”

Kali ini, Euphorion mengakui banyak sekali pengaruh musik alternative rock modern di “Loudmouths”. Sebagian besar referensi dan pengembangan ide-ide terpengaruh secara musikal dari band-band seperti Bring Me The Horizon, Linkin Park hingga KILMS.

“Kami ingin menunjukkan sisi agresif dari lagu ini. ‘Loudmouths’ berisi kebencian dan amarah. Lagu ini adalah luapan kekesalan kami terhadap fenomena sosial tersebut. Pemilihan suara distorsi, vokal agresif, dan dram yang mengentak adalah refleksi dari emosi yang terpendam pada lagu ini,” cetus Euphorian menegaskan.

“Loudmouths” bisa didengarkan melalui platform digital seperti Spotify, Deezer, iTunes, YouTube hingga TikTok. (aug/MK02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.