POST HUMAN Visualkan Lima Tahapan Kedukaan di “Under the Sun”

Pada Juli 2019 lalu, unit progressive/post-metal asal Bandung, Jawa Barat ini telah menetaskan album mini (EP) debut bertajuk “Nothing To Be Done” via label 40124 Records. Namun kreativitas yang terus meledak-ledak belum berhenti dalam kamus Post Human. Sebuah berkolaborasi yang mereka garap bersama Cinemora Pictures, mengarahkan mereka pada eksplorasi lanjutan terhadap EP tersebut. 

Cinemora Pictures sendiri adalah sebuah rumah produksi yang juga berbasis di Bandung . Terbentuk sejak 2017 lalu, Cinemora fokus berada pada pembuatan berbagai jenis karya audio visual seperti iklan, web series, film pendek dan berbagai film fitur. 

Kolaborasi Post Human dengan Cinemora Pictures telah menghasilkan sebuah proyek visual berlabel “Under The Sun”, dimana keduanya mengeksplorasi pengalaman audio-visual melalui  video medium 360°. Pertunjukan khusus ini mempertemukan film “Desert Spirit” karya Idan Firdaus dengan reportoar dari EP “Nothing To Be Done” yang telah diaransemen ulang, khusus untuk momen ini. Selain itu, showcase ini juga berkolaborasi dengan Gilang Hadiputera untuk projected visual yang turut dihadirkan.

Idan Firdaus selaku sutradara menyampaikan, bahwa konsepnya ini bersinggungan dengan konsep lagu Post Human, dimana mereka sama-sama menceritakan five stage of grief  atau lima tahapan kedukaan. “Hanya, saya ke dalam bentuk visual, dan Post Human ke dalam bentuk audio. Latar inilah yang akhirnya kami gabungkan menjadi konsep showcase 360.”

.

.

Bagaimana proses kreatif Post Human saat mendaur ulang materi dari EP “Nothing To Be Done” tersebut?   

Pihak band yang kini diperkuat formasi Rizqi Iskandar (vokal), Getha Azam C. (bass), Richard F. Mutter (dram), Domu (gitar) dan Boris (bass) mengungkapkan kepada MUSIKERAS, bahwa sedikit banyak proses tersebut terinspirasi oleh situasi pandemi yang kini mereka rasakan. Sebagai kedukaan yang kini mereka alamai bersama, “Nothing To Be Done” pada hakikatnya telah mencoba merekam bagaimana sikap mereka dalam menghadapi duka yang datang. 

“Visi ini yang kami gunakan untuk sedikit mendaur-ulang EP tersebut. Salah satu kesadaran yang berpengaruh ialah situasi hari ini yang tengah menuju digitalisasi total. Karenanya dalam bentuk terbarunya, ‘Nothing To Be Done’ turut dibumbui oleh unsur-unsur tersebut, seperti melalui penggunaan synth dan emulasi modular yang kami rasa tepat mewakili gejolak zaman ini. Sebagaimana yang telah kami coba kala me-reprise (single) ‘Lost’, penggunaan elemen-elemen suara yang mewakili atmosfir yang lagu itu wakili turut kami libatkan. Sebagai contoh, dalam lagu ‘Lost’ kami memasukkan suara Electrocardiogram dan sejenisnya. Pendekatan-pendekatan inilah yang kami gunakan dalam upaya ‘menyempurnakan’ repertoar ‘Nothing To Be Done’.”

“Under The Sun” saat ini sudah tayang di kanal YouTube. Sementara materi-materi lagu versi rekaman studio dari EP “Nothing To Be Done” bisa dinikmati via berbagai platform digital seperti YouTube, Spotify dan iTunes. 

Di luar itu, Post Human yang telah menggeliat sejak 2018 lalu ini kini juga sudah mulai menyiapkan materi untuk album debut mereka. Sejauh ini sudah ada tujuh lagu yang telah siap direkam, meskipun jadwal tepat perilisan belum dicanangkan. “Secara target masih ada 3-4 lagu yang masih harus kami garap, jika mengacu pada rencana awal kami. Doakan saja situasi segera kondusif dan kami dapat merampungkan album tersebut.” (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.