Akhirnya, Pekik Protes COSINUZ Menerjang Lewat Debut “Adikuasa”

Hari yang dinanti-nanti akhirnya datang. Hari ini, album debut dari unit cadas asal Karawang, Jawa Barat ini melampiaskan karya album debutnya yang bertajuk “Adikuasa”, yang bakal diedarkan via label Maxima Music Pro. Sebuah album yang diembeli slogan “Protest Is Not A Crime”, yang tentunya langsung menggiring pemahaman pendengarnya, bahwa Cosinuz datang dengan kepalan-kepalan kegelisahan yang siap dimuntahkan. 

“Kami menulis apa yang kami lihat dan kami membentuk musik apa yang terbesit. Kami menyuarakan kegelisahan, protes, kecaman terhadap aturan hukum semena-mena yang membungkam dan diskriminatif, lewat musik distorsi kami sebagai penyampai yang universal. Metal adalah pilihan tepat sebagai jalan kami (menyalurkan) amarah dan bersuara,” seru Cosinuz berapi-api. 

Sejak awal, Cosinuz yang digerakkan formasi Anzarriva (vokal), Riki ‘Ryon’ Risdianto (gitar), Anggi Anggriansyah (bass) dan Ipung (dram) meramu musiknya dalam formula pekat yang banyak terpengaruh gaya geberan distorsi band-band dunia seperti Pantera, Disturbed, Machine Head serta pejuang cadas lokal macam Burgerkill, Deadsquad dan Fraud.

.

.

Ada sembilan trek pekak dengan sound depresi yang dilontarkan Cosinuz di album “Adikuasa”. Di antaranya adalah “Hantar Binasa”, “Senjata Peran”, “Himne Diktator”, “Political Slave”, “Propaganda” serta tentu saja, “Ambisi Teritori”. Khusus penulisan lirik di lagu “Political Slave”, Cosinuz dibantu oleh Brooke Cook dan Vanya dari Amerika, atas rekomendasi Jason Hutagalung dari Xenophobic Records, Australia.

Di luar lagu-lagu bengis yang disebutkan tadi, Cosinuz menutup “Adikuasa” dengan selipan satu komposisi tambahan sebagai ‘penenang’ bertajuk “Selfish Blood Drops”. Sebuah karya bertensi pelan yang justru disebut Cosinuz paling menantang penggarapannya. Karena, selain harus menjaga tempo serta emosinya, juga harus mendapatkan ‘rasa’ dalam memainkannya. 

“Selain itu aransemen juga harus benar-benar mewakili, sampai-sampai kami harus featuring dengan salah satu female lokal,” tutur pihak band lagi kepada MUSIKERAS, mengungkapkan.

“Adikuasa” digarap Cosinuz dengan sangat serius, dan butuh waktu berbulan-bulan. Sebelum menuju studio, mereka sudah mempersiapkan materinya dengan matang. Proses kerja sama ini pun tanpa disadari membuat para personelnya menjadi lebih dekat layaknya keluarga karena banyak menghabiskan waktu di studio bersama. “Dan keseruannya, kami melakukan ini pada saat pandemi Covid-19 digaungkan.” (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.