Di mata kuartet asal Jakarta ini, hard rock tetap menjadi sub-genre dalam musik keras yang sangat menarik buat mereka. Terbukti sejak melepas lagu tunggal debut yang bertajuk “Ganas” pada 2019 lalu, Bangkar konsisten di jalur tersebut hingga hari ini. Dan itu semakin dipertajam di karya rekaman album perdana mereka, “Suara Malam” yang telah ditebar secara resmi pada 23 Januari 2022 di berbagai platform digital.
Ada sembilan lagu yang menjadi amunisi “Suara Malam”, termasuk “Ganas” serta single kedua dan ketiga, “Jakarta Pukul Tiga” dan “Jeruji” yang masing-masing sudah diperdengarkan sejak Agustus 2019 dan Desember 2020 lalu. Tapi bersamaan dengan peluncuran album, Bangkar yang dihuni formasi Arditya Prasetyo a.k.a. Dix (bass), Muhammad Rachmat Julian Ismail a.k.a. Julian (dram), Arya Pradana (gitar), Ananta Mahatyanto a.k.a. Nanta (vokal) ini juga menjadikan lagu “Suara Malam” sebagai single baru yang mengiringi. Sebuah lagu yang bertemakan suasana keheningan malam yang sangat cocok untuk meluapkan segala problema yang dialami semua orang.
Proses produksi album “Suara malam” digarap mulai 2020 lalu, sejak Nanta resmi bergabung sebagai vokalis Bangkar. Keseluruhan produksi dieksekusi secara mandiri selama kurang lebih tiga bulan, mulai tahapan rekaman hingga mixing dan mastering yang ditangani sendiri oleh Dix. Sebagian besar mengandalkan fasilitas perangkat rekaman rumahan, kecuali untuk isian dram yang dilakukan di studio profesional.
“Yang menarik dari album ini adalah kami mencoba menggabungkan semua influence kami, namun kami tetap berusaha menjaga ‘benang merah’ genre musik kami, yaitu hard rock. Contoh pada lagu ‘Distorsi’, kami memasukkan unsur punk rock,” urai pihak Bangkar kepada MUSIKERAS, menjelaskan konsep musikalnya.
.
.
Tentu saja, saat menjalani prosesnya, ada tantangan-tantangan teknis yang ditemui. Lagu “Suara Malam” serta satu lagi yang berjudul “Pesta” disebut Bangkar lumayan menantang. “Karena dalam lagu ‘Suara Malam’ dilakukan foley recording untuk perekaman sound effect di lagu tersebut, agar mendapatkan tema seperti yang kami inginkan. Sedangkan untuk lagu ‘Pesta’ kami mencoba untuk membuat aransemen yang lebih ringan namun tetap terdengar ‘lebar’ di telinga pendengar.”
Sedikit tambahan informasi, foley recording sendiri merupakan metode perekaman efek suara-suara yang tidak berasal dari bunyi alat musik. Seperti yang bisa didengarkan di awal lagu “Suara Malam”.
Namun jika diharuskan memilih, Bangkar menyebut lagu yang berjudul “Meliar dan Menggila” yang cukup membanggakan karena para personelnya bisa secara demokratis memasukkan pengaruh latar belakang musikal masing-masing. “Secara aransemen, di lagu ini kami memasukkan beberapa influence dalam bermusik kami secara pribadi. Sedangkan dalam penulisan lirik, lagu ini menceritakan tentang proses perjalanan bermusik kami selama kurang lebih tiga tahun serta ‘attitude’ bermusik kami. Seperti pada bait chorus, ‘Bangkar Meliar, Bangkar Menggila’.”
Sedikit menengok ke belakang, band bentukan 2018 lalu ini memilih nama Bangkar karena didasari maknanya yang mengacu ke sesuatu yang bersifat keras, solid dan kuat. Sesuai dengan karakter musik yang mereka mainkan, yang antara lain diserap dari band-band rock dan heavy metal era 80 dan awal 90-an seperti Motley Crue, Van Halen, Metallica, Guns N’ Roses, Dokken, Iron Maiden, Ratt hingga pahlawan lokal seperti Edane.
Dalam waktu dekat, album “Suara Malam” rencananya juga bakal diproduksi dalam format fisik, tepatnya dalam wujud cakram padat (CD). (mdy/MK01)