GRANDFATHER FOOL Ekspresikan Kematian dengan Punk yang Psikedelik

Kami berusaha memvisualisasikan kematian dalam sebuah audio dengan pemilihan kord, riff dan ambience yang mendukung ke sana, tanpa menghilangkan nilai kejujuran dalam berkarya.

Di masa pandemi, kuartet keras asal Bandung, Jawa Barat ini sempat vakum dan tidak memproduksi atau merilis apapun. Tapi setelah beberapa tahun berlalu, akhirnya Grandfather Fool berhasil bangkit, diperkuat susunan formasi baru plus semangat untuk merampungkan penggarapan album terbaru mereka yang berjudul “Trauma ’n Roll”.

Dan sebagai gebrakan awal, Grandfather Fool telah mengumandangkan lagu tunggal pembuka berjudul “Facing Death”, dimana liriknya mengekspresikan keresahan vokalis dan gitaris Sandi Haerudin tentang sebuah kematian. Ia mengalami syndrome seolah-olah akan segera menghadapi kematian, mengalami mimpi buruk setiap malam, membayangkan malaikat pencabut nyawa akan menemuinya di setiap malam dan mengalami ketakutan meninggal dalam keadaan berdosa. Seperti kalimat yang menjadi pembuka artikel di atas.

“Facing Death”, secara garis besar, dieksekusi dalam geberan punk rock namun diberi sentuhan stoner dan metal. Karena lagu tersebut membawa pesan yang sangat kuat tentang visualisasi kematian, maka Grandfather Fool memberikan suntikan psychedelic di tengah-tengah lagunya. Dengan durasi lagu yang lumayan panjang, menjadikan proses kreatif lagu tersebut menghabiskan banyak energi dan pikiran.

“Waktu yang dibutuhkan untuk membuat ‘Facing Death’ lumayan lama, mungkin karena lagu ini menceritakan tentang kondisi spiritual sang vokalis yang mengalami keresahan tentang kematian, jadi banyak mengalami bentrokan psikologis, dan banyak (waktu) menunggu psikologinya membaik untuk bisa merekam lagu ini. Apalagi dengan struktur lagu yang lumayan rumit,” beber pihak band kepada MUSIKERAS, beralasan.

Sandi, Ari Undang Tohari (gitar), Ferry McCartney (bass) dan Alex Van Halen (dram) menggarap “Facing Death” di studio Kehidupan Garasi, Bandung, dimana mereka bersinergi dengan This Street Record dalam penggarapan produksi dan distribusi. Sinergi ini mengusung konsep ‘guyub’ atau tolong-menolong sesama musisi. Mereka banyak melibatkan sahabat musisi yang meminjami alat musik dan perangkat lain yang dibutuhkan agar proyek rekaman bisa berjalan lancar.

“Bagi kami itu adalah proses kreatif yang mahal, karena mental kami tidak kalah oleh keadaan meskipun dalam segala keterbatasan. Apalagi kami dikelilingi oleh kawan-kawan yang selalu support satu sama lain, itu menjadi motivasi buat kami untuk terus berkarya tanpa melupakan nilai-nilai pertemanan.”

.

.

Oh ya, tentang penggarapan “Trauma ‘n Roll” sendiri, seperti yang sudah disinggung di atas, Grandfather Fool ingin lebih mengeksplorasi olahan musiknya. Mereka ingin mengalami pendewasaan dalam bermusik, sekaligus ingin memberi warna baru dalam ranah punk atau musik Indonesia secara keseluruhan dengan menggeber genre yang lebih segar.

Namun demikian, tentunya, akar punk tetap menjadi pijakan utama mereka, sebagai paham yang sejak awal telah mereka anut dan telah menjadi karakter di musik Grandfather Fool. Lalu di sisi lain, bagi mereka punk bukan sekadar musik, melainkan sudah menjadi ideologi yang menemani mereka selama lebih dari satu dekade.

“Dari punk-lah kami bisa bertahan sampai hari ini untuk tetap bermusik dengan sikap mandiri, jujur, tidak manja, kritis dan rasional. Kami ingin membawakan musik yang tidak monoton dan flat layaknya seperti musik punk pada umumnya. Dengan sentuhan heavy metal dan stoner-lah kami mempunyai formula dan warna baru dalam menciptakan sebuah lagu, dengan riff gitar yang berbeda dari awal lagu sampai akhir. Tidak ada pengulangan riff, struktur lagu yang lebih variatif, sedikit menambah unsur psychedelic dan mempertahankan speed lagu selayaknya musik punk yang sebelumnya sudah lama dimainkan.”

Dalam menggarap “Trauma ’n Roll”, Grandfather Fool sedikit banyak mendengarkan beberapa album luar sebagai referensi atau sumber inspirasi. Di antaranya ada album “Death Magnetic” (Metallica), “Motorizer” (Motörhead), “Master Of Reality” (Black Sabbath), “Meddle” (Pink Floyd), “War On Errorism” (NOFX), “The Feel Good Record Of The Year” (No Use For A Name) dan dari jagoan lokal, album “Black Market Love” (Superman Is Dead).

“Facing Death” sudah bisa didengarkan sejak awal April lalu di berbagai platform musik digital. Sementara album “Trauma ’n Roll” rencananya akan dirilis dalam format digital dan fisik pada 1 Desember 2022 mendatang, bertepatan dengan hari jadi Grandfather Fool yang ke-13. Sebelumnya, sejak terbentuk, Grandfather Fool telah melahirkan karya rekaman berupa dua album penuh, yakni “Keep Punk Rock Attitude” (2013) dan “Empty Chair” (2016) serta sebuah lagu lepas berjudul “Bandung Tenggelam”. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.