Terjawab sudah, kekhawatiran para pencipta lagu, komposer musik, musisi, aktor dan pencipta konten independen, tentang sulitnya mendapatkan penghasilan yang optimal terhadap karya-karya mereka. Adalah sebuah aplikasi bernama FENIX360, yang mengklaim kehadirannya sebagai platform media sosial yang mendukung penjualan semua hasil karya melalui pengalaman baru dalam menghasilkan uang. Khususnya di Indonesia.

FENIX360 sendiri merupakan sebuah perusahaan global yang berbasis di Singapura. Dengan memanfaatkan teknologi blockchain, aplikasi tersebut akan mengubah bisnis tradisional yang menyulitkan pencipta mendapatkan hasil maksimal atas karyanya, melalui sebuah ekosistem dan pengalaman yang memberikan peluang agar pelaku seni atau pencipta sebuah karya mendapatkan bagian lebih besar dari penjualan karya-karya mereka, tanpa perlu melibatkan pihak ketiga. 

Oh ya, apa itu blockchain?

Penjelasan secara sederhana, adalah teknologi yang digunakan sebagai sistem penyimpanan atau bank data secara digital, yang terhubung dengan kriptografi. ‘Block’ bisa diartikan sebagai kelompok, dan ‘chain’ yang berarti rantai. Pengertian nama tersebut mencerminkan bagaimana cara kerja blockchain, dimana resource komputer dimanfaatkan untuk menciptakan blok-blok yang saling terhubung, yang nantinya digunakan untuk mengeksekusi sebuah transaksi. Teknologi ini menarik karena sifatnya yang tidak terpusat. Blockchain mampu berjalan sendiri menggunakan algoritma komputer tanpa ada sistem tertentu yang mengaturnya.

Kembali ke terapannya di platform FENIX360, jadi musisi, aktor, model, komedian, penari hingga pelukis bisa mendapatkan hasil iklan hingga 80 persen, bahkan bisa mendapatkan 95 persen atas transaksi non-fungible token (NFT), merchandise, tiket pertunjukan, serta hasil pertunjukan livestream.

“Kami memberi artis powerful tool. Kami memberi artis penghasilan yang transparan, menyediakan e-commerce yang mudah dioperasikan, dan dengan teknologi blockchain yang mudah dilacak (tracking),” papar Allan Klepfisz, CEO FENIX360, saat mensosialisasikan FENIX360 di sebuah cafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (10/6).

.

.

Platform yang ramah pengguna ini akan menjadi ‘sebuah aplikasi sosial media untuk semua’, yang memungkinkan publik – khususnya para musisi (pencipta lagu, komposer dan penyanyi), aktor dan pencipta konten – mengintegrasikan karya-karya mereka. Baik dari YouTube, Instagram atau pun Tiktok ke dalam FENIX360 dengan mudah, cepat dan aman. Para pengguna dan penggemar juga bisa menjelajah semua karya idola mereka hanya dalam satu aplikasi yang dirancang bisa dibangun sendiri (self-constructed) ini. Dan untuk memudahkan pengguna, FENIX360 ini bakal tersedia di laman web, Apple iOS dan Android Store untuk diinstal.

Adalah para praktisi dan ahli di bidang teknologi, musik, seni, keuangan, dan media yang berhasil mengembangkan FENIX360. Semuanya didasari pengalaman para pendirinya yang menyaksikan uang miliaran dolar mengalir di industri seni dan musik, namun ironisnya para artis dan penciptanya malah masih bergelut dengan masalah keuangan. 

“Meskipun saat pertama kami hadir faktanya belum membanggakan, namun semoga akan segera ada waktu untuk FENIX360 berkibar di dunia maya. Kami ingin semua komunikasi kami didasarkan pada substansi, bukan stagnan atau bahkan hanya keyakinan yang kuat saja,” ujar Allan optimistis.

Di sisi lain, Sandy Monteiro selaku Advisor FENIX360 mengatakan,  pihaknya mencoba menghilangkan semua hambatan di dunia kripto (crypto). Para pengguna FENIX360 bisa dengan mudah membeli koin di aplikasi tersebut dan menggunakannya untuk pembelian apa pun.

“Artis dapat dengan mudah mendapatkan bayaran tanpa kerumitan untuk menyiapkan sistem e-commerce, membuat ‘non-fungible token’ (NFT) mereka sendiri tanpa terhambat oleh tantangan teknologi. Akses ke dashboard aplikasi dengan mudah, dan beberapa layanan untuk meningkatkan performa seperti tur langsung, penjualan tiket, pemasaran, hingga produksi,” papar Sandy meyakinkan.

Sandy lalu menambahkan, FENIX360 menjadi semacam jalan tengah, atau solusi, bagaimana membantu para pelaku seni mendapatkan penghasilan yang lebih maksimal atas karyanya, namun di sisi lain juga bisa menguntungkan pihak lain untuk ikut berinvestasi di platform tersebut.

Blockchain adalah jalan keluarnya, dimana kami menggunakan token kripto untuk sesuatu yang bermanfaat, bukan sebagai alat manipulasi.”

Saat ini, FENIX360 yang tersaji di Play/Apps Store masih dalam versi Bahasa Inggris. Namun pihak perusahaan aplikasi tersebut menjanjikan, bulan depan versi berbahasa Indonesia bakal tersedia. Sebelum Indonesia, sejauh ini FENIX360 juga sudah resmi beroperasi di Meksiko, Jerman dan Malaysia.(*)