Usai Vakum, LEONA AS LEOPARD Eksplorasi Modern Metalcore

Materi lagu yang tertunda perampungannya sejak 2012 silam, akhirnya mendapatkan wujud segarnya. Pada 2020 lalu, band metal asal Bandung ini berkumpul lagi setelah menjalani masa vakum, dan meluangkan waktu menyelesaikan lagu bertajuk “Siluetika” tersebut, dan merilisnya pada 7 Januari 2023 lalu. 

Di lagu ini, Leona As Leopard yang digerakkan oleh formasi Fadri Baihaqi (dram), Rommy Setiawan (gitar/vokal), Dhandy Annora (vokal/sequencer) dan Kiagus Dzaki Fauzaan (gitar) berkolaborasi dengan Thomi Falahan di bagian vokal. 

“Siluetika” sendiri terbagi tiga bagian, yang terdiri atas Babak I: Siluet, Babak II: Hulu dan Babak III: Etika. Ketiga babak tersebut memiliki makna dan ciri khasnya tersendiri. Liriknya mengisahkan tentang rasa penyesalan, harapan dan perjuangan manusia dalam menjalankan roda kehidupan. Penyesalan yang akan selalu melekat dalam dirinya, harapan untuk bisa memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan dan perjuangan untuk bangkit dari keterpurukan. 

Sebelum melepas “Siluetika”, Leona As Leopard yang terbentuk pada 2009 telah mengantongi modal dua lagu rilisan tunggal, yakni “Branded Party” dan “Gorgeous Enormous”. Keduanya dilepas ke ruang dengar publik pada 2010. Jadi terpaut cukup jauh dengan “Siluetika”. 

.

.

Karena materinya sudah ditulis sejak lama, tutur pihak band kepada MUSIKERAS, maka beberapa bagian di versi awal sudah terdengar agak ‘kuno’. “Sehingga dimodernisasi termasuk bagian chorus. Sempat beberapa kali dirombak ulang karena personel Leona As Leopard yang turut serta di proyek comeback ini (juga) sempat beberapa kali berubah, hingga akhirnya single ini baru berhasil selesai sepenuhnya pada akhir 2021, dan proses rekaman selesai di 2022.”

Akan tetapi, walau berusaha disesuaikan dengan tren metalcore masa kini, namun beberapa bagian dan riff di “Siluetika” masih dipertahankan dan masih terdengar tradisional. Lalu, Leona As Leopard mengombinasikannya dengan elemen modern dari metalcore, mulai dari style, tone dan nuansanya sehingga terdengar sangat berbeda dibanding metalcore pada umumnya.

Traditional, but modern. Traditional riffs, modern ambience and breakdown, with catchy chorus,” seru mereka lagi, menegaskan.

Saat pertama kali meracik aransemennya, referensi dengar para personel Leona As Leopard sempat mengacu ke garapan musik dari band-band mancanegara seperti The Devil Wears Prada, Memphis May Fire dan Woe, Is Me. Lalu, “Modernisasi pada beberapa bagian dilakukan dengan mengambil referensi dari beberapa band metalcore modern saat ini, seperti Architects, Wage War dan Erra.”

“Siluetika” sendiri mengawali gebrakan-gebrakan Leona As Leopard selanjutnya. Kini mereka tengah mengeksekusi penggarapan secara simultan untuk dua lagu tunggal berikutnya yang sejauh ini sudah mencapai sekitar 75% dari keseluruhan tahapan produksi, sekaligus melakukan persiapan untuk kembali menjajal panggung. Namun sejauh ini, pihak band sama sekali belum menetapkan rencana menuju penggarapan album mini (EP) atau album penuh. (aug/MK02)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.