ALLIGATOR Rangkum Mitos Thrash Metal di Album Debut

Tidak berselang lama setelah melepas lagu rilisan tunggal pembuka berjudul “Sic Semper Tyrannis”, tepatnya pada 2022 lalu, unit thrash metal asal Ponorogo, Jawa Timur ini kini sudah menggempur lagi dengan karya baru. Kali ini langsung dalam wujud album penuh, yang bertajuk “The Myth of Justice”. Dirilis resmi pada awal Januari 2023 lalu dalam format fisik (CD) dengan sembilan amunisi panas di dalamnya.

Proses penggarapan album yang bertemakan kesenjangan sosial hingga kebobrokan politik tersebut menghabiskan waktu hampir tiga tahun. Antara lain terusik tuntutan pekerjaan di luar band, yang bahkan mengharuskan berpindah domisili. Baru pada 2022 – dimulai sejak Maret hingga November – para personel Alligator bisa mencurahkan konsentrasi untuk merampungkannya.

Dalam mengeksekusi rekamannya, formasi Ramdhano Syah Qohar aka Dhano (vokal/gitar), Ridwan Wimaswara Maulana Fajar (gitar), Diptya Yusti Indriawan (bass) dan Moris Anung Widiatmojo (dram) melakukannya secara mandiri. Bermodalkan laptop beserta perangkat lunak pendukung yang dioperasikan Diptya. Ketika keseluruhan lagu lunas direkam, penataan dan pelarasan suaranya (mixing dan mastering) kemudian dipercayakan eksekusinya kepada Fajar Rizki dari Straight Studio, di Bojonegoro.

“Tidak ada konsep pasti yang ditulis pada album ini,” ujar pihak Alligator kepada MUSIKERAS mengungkap latar belakang penggarapan “The Myth of Justice”.

Tapi yang jelas, dari segi musikalitas, band bentukan 2012 silam tersebut berusaha menyajikan riff-riff thrash metal yang tidak berpatok pada band thrash metal pendahulu. “Intinya kami sengaja mengeksplorasi cara bermain kami di album ini.” 

.

.

Namun demikian, bukan berarti tidak ada referensi khusus yang mengilhami penggarapannya. Para personel Alligator mengakui sangat banyak ide yang mereka serap dari berbagai band, antara lain dari dua monster thrash metal, Megadeth dan Slayer. “Ada dua patokan ‘nabi’ yang mendominasi kami dan dijadikan panutan, yaitu Megadeth dengan riff-riff yang unik serta Slayer dengan genderang musik cepat dan gelap. Kami menambahkan bagian riff klasik heavy metal agar menjadikan album kami lebih solid dan heavy.”

Di lagu yang berjudul “Hegemony of Destruction”, menyodorkan tantangan dalam pengerjaannya, sebagai salah satu konsekuensi dari eksplorasi Alligator. Tempo lagu tersebut berubah-ubah, membuat mereka sedikit kesulitan dan harus merekamnya berulang-ulang. Selain itu, mereka juga terkendala dalam penulisan bahasa Inggris.

“Karena selain mengacu pada riff, kami juga harus mempertimbangkan pengucapan bahasa Inggris dalam lirik yang kami tulis, sehingga tidak terkesan copy-paste dari Google Translate. Selain hal-hal teknis tersebut, kami juga terkendala masalah non teknis perihal pemilihan sound, instrumen serta software yang dibutuhkan pada saat rekaman. Karena kami mengerjakannya secara mandiri, jadi kami perlu mencoba-coba terlebih dahulu, trial and error, agar sesuai dengan apa yang kami butuhkan pada saat proses rekaman.”

Bagi Alligator, “The Myth of Justice” menjadi titik balik mereka setelah beberapa tahun vakum dari kegiatan band, lantaran pekerjaan dan tentunya, wabah Covid-19. Dengan dirilisnya album tersebut, band yang sempat merilis album mini (EP) berjudul “Penerus Bangsat Bangsa” (2017) ini, berharap dapat melengkapi keriuhan di ranah ‘bawah tanah’, baik di skena lokal atau pun luar negeri. Alligator juga berharap dapat segera melakukan ‘ibadah’ tur seperti band-band underground pada umumnya, ke kota-kota yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya. (mdy/MK01)

.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts